DetikNews
Selasa 12 Maret 2019, 10:09 WIB

Korban Peradilan Sesat, Anak Sri Mulyati Terpaksa Menikah Dini

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Korban Peradilan Sesat, Anak Sri Mulyati Terpaksa Menikah Dini Sri Mulyati (angling/detikcom)
Semarang - Korban peradilan sesat, Sri Mulyati (43), memang sudah mendapat ganti rugi uang dari pemerintah. Namun peristiwa salah tangkap yang dialaminya mengubah kehidupan keluarga Sri secara permanen.

Sri merupakan ibu 4 putri dengan suami bernama Hendra Wijaya. Awalnya kehidupan Sri biasa saja, sederhana layaknya para tetangga.

Namun peristiwa pada 8 Juni 2011 mengubah total kehidupannya. Ia dijemput polisi dan dituduh melakukan tindak pidana perdagangan anak, yaitu mempekerjakan anak di bawah umur di sebuah karaoke tempatnya bekerja sebagai kasir.


Pengadian Negeri (PN) Semarang menjatuhkan hukuman 8 bulan penjara dan denda Rp 2 juta subsider 2 bulan penjara. Pengadilan Tinggi (PT) Semarang kemudian memperberat hukumannya menjadi 1 tahun 2 bulan dan denda Rp 2 juta.

Saat menjalani hukuman di balik jeruji besi Lapas Wanita Bulu Semarang, kehidupan rumah tangganya kacau. Tiga putrinya harus putus sekolah. Suaminya bahkan sempat masuk ICU karena sakit yang diderita dan Sri tak bisa menjenguknya.

"Yang masih sekolah yang terakhir, saya pertahankan itu," kata Sri kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Putri terakhirnya itu juga mengalami trauma ketika bertemu polisi saat itu. Bahkan kini, menurut Sri, trauma tersebut masih ada, sang anak khawatir ibunda kembali diciduk.

"Sampai sekarang masih trauma," tutur Sri.

Putri kedua Sri harus menikah di usia belia yang seharusnya masih duduk di bangku SMP. Kemudian putri pertamanya juga kini sudah menikah, sedangkan putri ketiga bekerja di luar Pulau Jawa.

"Menikah pertama itu anak kedua. Ya usianya harusnya masih SMP. Sekarang yang satu ikut mertua di Ungaran dan yang satunya lagi ikut aku," ujar Sri.

Sri memang menjadi tulang punggung keluarga sehingga ketika ia dibui anak-anaknya membantu mencari nafkah. Setelah ke luar penjara pun Sri harus banting tulang karena suami sudah tidak bisa bekerja akibat diabetes.

Kini ia bekerja di 3 tempat sekaligus. Pukul 05.00 sampai 12.00 membantu di rumah makan, kemudian pindah membantu bersih-bersih di daerah Gombel sampai jam 16.00, kemudian ke warung di Jalan Cimanuk V untuk menggoreng peyek hingga pukul 21.00.

"Di rumah numpang tidur saja, ha-ha-ha.... Ya sampai rumah bersih-bersih sama bantu persiapan sekolah anak. Tidur paling 2 sampai 3 jam. Pendapatan dari 3 tempat itu total ya sekitar Rp 2,5 juta sebulan," ujarnya.


Untuk diketahui, hampir 9 tahun Sri memperjuangkan keadilan. Sri didampingi LBH Mawar Saron selaku kuasa hukum mengajukan kasasi setelah divonis hakim hingga akhirnya MA membebaskan Sri setelah 13 bulan dibui.

Berbekal putusan bebas itu, pihak Sri menuntut ganti rugi ke negara. Kemudian hakim menghukum negara membayar Rp 5 juta kepada Sri dan mengembalikan uang denda Rp 2 juta yang sudah dibayar Sri.

"Jadi Rp 5 juta itu dari negara, yang Rp 2 juta itu memang uang saya," kata Sri getir.

Uang tersebut sudah diterima Sri hari Rabu (5/3) lalu dan langsung habis karena digunakan untuk membayar utangnya. Sri juga mengatakan sejak ia ditangkap sampai sekarang, dia belum pernah bertemu dengan bosnya ketika bekerja di karaoke tersebut.

"Belum, sampai sekarang belum pernah ketemu," kata Sri.
(alg/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed