DetikNews
Minggu 10 Maret 2019, 18:10 WIB

Pariwisata Jadi Unggulan, Nelayan Kepulauan Seribu Didorong Alih Profesi

Danu Damarjati - detikNews
Pariwisata Jadi Unggulan, Nelayan Kepulauan Seribu Didorong Alih Profesi Jembatan Cinta Pulau Tidung (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta -
Musim angin peneduh barat sedang menjelang pungkasan, lautan tenang meski cuaca mendung, detikcom bersama Teras Kapal BRI Bahtera Seva I mengunjungi pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, dari 18 hingga 22 Februari 2019.

Kami berjumpa dengan wajah lain dari Jakarta yang dikenal selama ini. Bukan wajah pusat kota yang padat dan hiruk pikuk, namun kawasan nelayan dan pariwisata di tengah laut. Perairan dan pulau seluas 4.745,62 km2 menghampar, bersiap menjadi salah satu 'Bali baru'.

Ada 110 pulau di seberang daratan perkotaan Jakarta, bila ditotal luas daratannya 8,70 km persegi. Demikian Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jumlahnya pada laporan tahun 2017. Jadi meski namanya Kepulauan Seribu, jumlah pulaunya sendiri tak sampai seribu. Pulau-pulau kecil tanpa permukiman warga jumlahnya lebih banyak.

"Namanya memang Pulau Seribu tapi sebenarnya adalah 110 pulau. Ada 11 pulau berpenghuni, sisanya adalah pulau resor, pulau konservasi, dan pulau cagar budaya," kata Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad di RPTRA Pulau Panggang, Selasa (19/2/2019).

Menurut data BPS, Penduduk Kepulauan Seribu berjumlah 23.639 jiwa pada 2016. Angkatan kerja yang tercatat setahun sebelumnya ada 9.959 orang. Ada 3.375 orang nelayan di Kepulauan Seribu.

Selain menjadi nelayan, ada pula yang bekerja di sektor pariwisata. Tercatat pada 2015, penduduk yang bekerja di sektor perdagangan, hotel, dan restoran ada 2.602 orang.

"Mayoritas penduduknya masih mengandalkan dari (pekerjaan) nelayan," kata Husein.

Pariwisata Jadi Unggulan, Nelayan Kepulauan Seribu Didorong Alih ProfesiSalah satu kapal nelayan di kawasan Kepulauan Seribu (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Meski mayoritas penduduk Kepulauan Seribu bermata pencaharian nelayan, namun kawasan ini bergerak menuju arah kawasan wisata. Kepulauan Seribu masuk menjadi salah satu dari 10 Destinasi Wisata Prioritas atau biasa disebut '10 Bali Baru' yang ditetapkan pemerintah sejak 2016.

"Artinya, pariwisata akan semakin dikembangkan di sini," kata Husein.

Alih Profesi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan 20 juta turis datang ke Indonesia pada 2019. Kepulauan Seribu menjadi salah satu wilayah yang direncanakan bisa turut menyumbang pemenuhan target itu.

Sektor pariwisata menjadi potensi unggulan Kepulauan Seribu. Warga yang berprofesi sebagai nelayan didorong untuk beralih profesi mendukung potensi turisme ini. Menyiapkan masyarakat nelayan menjadi masyarakat sadar pariwisata perlu dilakukan dari hal yang paling mendasar. Budaya pariwisata tentu perlu dibentuk.

"Sekarang menyiapkan masyarakat juga menghadapi perubahan dalam rangka Kepulauan Seribu menjadi kawasan wisata. Itu harus disiapkan secara mental dan kultur. Biasanya nelayan kemudian menjadi penerima tamu, kan beda. Ini perlu kita siapkan," kata dia

Persiapan yang penting menurutnya meliputi juga soal sarana dan prasarana wisata. Perilaku menjaga kebersihan juga bakal terus diusahakan, karena wisata bahari perlu laut dan pantai yang bersih, berikut tiap jengkal pulau juga perlu terjaga.

Saat ini, kata Husein, sudah banyak penduduk yang beralih profesi menjadi pelaku usaha wisata seperti membuka homestay, menjadi pemandu wisata, dan menyewakan perahu-perahu yang semula digunakan untuk mencari ikan untuk mengantar wisatawan ke titik destinasi.

"Kita inginkan Pulau Seribu ini berkembangnya, pertama, ke arah wisatawan. Kedua, rakyat harus digerakkan dengan budi daya ikan," kata dia.


Jadi ada dua alih profesi yang didorong pemerintah setempat, yakni nelayan menjadi pengusaha sektor pariwisata dan nelayan tangkap menjadi pembudidaya perikanan. Budidaya ikan dirasanya perlu karena saat ini hasil tangkapan ikan mulai berkurang akibat terlalu banyak pengambilan ikan di laut (overfishing). Belum lagi, nelayan tangkap sering terkendala cuaca dan angin musim.

"Karena nelayan tangkap sudah tidak bisa lagi kita andalkan menjadi tulang punggung utama. Harus sudah mulai beralih. Makanya dihidupkan keramba-keramba," kata Husein.

Pariwisata Jadi Unggulan, Nelayan Kepulauan Seribu Didorong Alih ProfesiKeramba apung di Pulau Tidung (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Budidaya ikan Kepulauan Seribu dinilainya punya potensi luar biasa. Bila berhasil, daratan Jakarta tak perlu lagi mendatangka hasil laut dari provinsi lain. Budidaya ikan juga dinilai lebih ramah lingkungan ketimbang pekerjaan nelayan tangkap. Bila laut tidak rusak, maka pariwisata bahari tetap terjaga, tamu-tamu bakal tetap tertarik datang untuk snorkeling atau menyelam menikmati keindahan laut.

"Pariwisata dan budidaya ikan, akan kita coba gabung. Supaya masyarakat hidup dari budidaya ikan, di lain pihak alam ini juga tidak rusak. Arah ke depannya seperti itu," kata Husein.

Suara warga

Mustari (55), sudah menjadi nelayan sejak usianya belia, sekitar tahun '70-an. Saat detikcom menemuinya di Pulau Harapan, dia menceritakan hasil tangkapan ikan era ini memang tak sebanyak zaman dulu.

"Bagusan dulu, jauh. Dulu saya nggak usah jauh-jauh melaut tapi bisa dapat 8 atau 9 kg tangkapan sehari. Dulu ikan kerapu banyak. Sekarang jarang," kata Mustari.

Pariwisata Jadi Unggulan, Nelayan Kepulauan Seribu Didorong Alih ProfesiMustari, nelayan Pulau Harapan (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Alat menangkap ikannya adalah pancing dan rawai. Biasanya dia membentangkan rawai semalaman dan baru mengangkat hasilnya pagi hari. Melaut berhari-hari atau 'babang' sudah biasa dilakoninya. Nelayan di sini penghasilannya tak pasti, sehari bisa mendapat Rp 300 ribu namun sering juga tidak dapat apa-apa.

Menjadi petambak juga perlu usaha awal dan uang. Alih profesi untuk total bekerja di sektor pariwisata belum terlintas di benak Mustari. Membuka homestay perlu modal uang dan lahan.

"Yang alih profesi itu sebagian. Ada juga nelayan yang Sabtu-Minggu menjadi pengantar wisatawan, dapat Rp 200 ribu, jadi guide dua hari menemani snorkeling," kata dia.


Ada Bucek (38) dan Ale (30), nelayan yang kini menjadi anak buah kapal (ABK) KM Zahro, kapal ojek tradisional dari Pulau Tidung. Ale mengakui tangkapan ikan akhir-akhir ini makin sulit.

"Tongkol saja nggak kayak dulu. Sudah berkurang. Nggak tahu lari ke mana, apa banyak penangkapan di wilayah lain atau bagaimana. Kalau sini kan pakai pancing, yang pakai jaring bisa dihitung jari karena mahal," tutur Ale.

Saat detikcom menemui mereka, Kamis (21/2/2019), suasana sedang lesu. Tak ada penumpang atau wisatawan yang menggunakan jasa mereka. Wisatawan memang tak setiap saat ramai datang. Namun bila kondisi seperti ini terus, maka Ale dan kawan-kawannya akan menjadi nelayan lagi, mencari ikan meski tak mudah. Kenapa tak buka homestay?

"Buka homestay kan tergantung modal. Kalau kita kan pas-pasan. Buat makan sehari-hari saja sulit," sahut Bucek.
Namun selain Mustari, Bucek, atau Ale, banyak masyarakat Kepulauan Seribu yang sukses menjalankan usaha yang berkaitan dengan pariwisata Misalnya jasa homestay, pemandu wisata, atau berjualan makanan.

Pariwisata Jadi Unggulan, Nelayan Kepulauan Seribu Didorong Alih ProfesiPemandangan senja di Jembatan Cinta Pulau Tidung (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Pasangan suami istri Bahrudin alias Jagur (53) dan Komariah alias Kokom (50) misalnya, mereka berhasil menjalankan bisnis homestay di Pulau Harapan. Bukan hanya itu, mereka juga membangun iklim pariwisata di Pulau Harapan.

"Setelah 2013, Pulau Harapan menjadi mulai ramai wisatawan kemudian banyak homestay. Dulu masih banyak rumah bilik (semipermanen), tapi sekarang rumah seperti itu sudah tidak ada. Ini berkat pariwisata," kata Kokom.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.


(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed