Penangkapan Robertus Robet Dikritik, Polisi Tegaskan Profesional

Matius Alfons - detikNews
Jumat, 08 Mar 2019 13:34 WIB
Brigjen Dedi (Foto: M Guruh Nuary/detikcom)
Jakarta - Penangkapan aktivis dan dosen UNJ, Robertus Robet, dikritik berbagai pihak mulai dari sesama aktivis, dosen, hingga politisi. Mabes Polri menegaskan pihaknya sudah bekerja secara profesional.

"Enggak (berlebihan) lah, kita berlaku profesional," kata Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,

Dedi mengungkapkan kebebasan berpendapat di muka umum memang dilindungi UU 9/1998. Namun, itu tidak berlaku absolut.

"Negara sudah protect terhadap seluruh warga negara ini boleh menyampaikan pendapat di muka umum, tapi tolong dalam UU ini tidak berlaku absolut," ungkap Dedi.



Dedi juga menjelaskan UU 9/1998 tersebut memiliki limitatif dan batasan yang harus ditaati seluruh warga negara. Lima batasan itu tertuang dalam pasal 6 UU 9/1998.

"Pertama harus menghargai hak orang lain, kedua harus menghormati aturan aturan moral yang diakui oleh umum, ketiga mentaati hukum dan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku," jelas Dedi.

"Kemudian keempat menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum, kelima, paling penting di saat sekarang ini, menjaga persatuan, keutuhan dan kesatuan bangsa. Ini harus dijaga bersama," sambungnya.



Dedi menegaskan jika dalam berpendapat mengakibatkan orang lain dirugikan maka bisa ada penuntutan. Selain itu, jika pendapat yang disampaikan tidak benar dan belum terkonfirmasi.

"Apalagi benar atau tidak data itu, ternyata belum terverifikasi maka berita bohong itu, bisa dituntut," ucap Dedi.



Sebelumnya, kritik terhadap penangkapan Robertus Robet datang dari di antaranya Koordinator Jubir Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, Jubir PSI Surya Tjandra, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, hingga Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi.

Sementara itu, Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari gabungan akademisi, peneliti, dosen dan mahasiswa menuntut polisi untuk menghentikan penyidikan terhadap Robertus Robet. Sebab, tak ada niat sedikitpun dari aktivis HAM itu untuk menghina institusi TNI.


Saksikan juga video 'Robertus Robet: Saya Mohon Maaf, Tak Ada Maksud Menghina TNI':

[Gambas:Video 20detik]

(imk/imk)