Ponakan Prabowo: Film Dilan 1991 Ungkap Fakta Kekerasan Seksual

Ponakan Prabowo: Film Dilan 1991 Ungkap Fakta Kekerasan Seksual

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 06 Mar 2019 19:19 WIB
Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Dok. Pribadi)
Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Dok. Pribadi)
Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menyebut film 'Dilan 1991' mengungkapkan fakta kekerasan seksual yang sering terjadi di kehidupan nyata dan selama ini sering tidak disadari. Keponakan Prabowo Subianto itu menyoroti kekerasan seksual yang ditampilkan salah satu karakter film itu.

Rahayu Saraswati atau akrab disapa Sara mengatakan peran Dilan dan Yugo menggambarkan sosok teman laki-laki Milea yang memiliki kepribadian yang berbeda dalam memperlakukan perempuan.

"Dilan menunjukkan sikap yang cukup menghormati kehendak perempuan. Sementara tindakan yang dilakukan Yugo menunjukkan bentuk pelecehan yang sering kali terjadi pada kehidupan nyata," ujar Sara setelah mengadakan acara nonton bersama film 'Dilan 199I', Rabu (6/3/2019).


Sara mengadakan nonton bareng 'Dilan 1991' pada Minggu, 3 Maret 2019. Dia mengajak ratusan kader muda Partai Gerindra ikut menonton 'Dilan 1991'.

Sara, yang juga berlatar aktris, menyebut Dilan menghormati Milea sebagai teman perempuannya. Untuk Yugo, dia menyebut karakter itu bertolak belakang dengan Dilan. Sara memandang Yugo kerap memaksakan kehendak fisik dengan berlindung pada kebebasan berekspresi dan pengaruh budaya Barat.

"Di Barat, justru jika seorang laki-laki berperilaku seperti yang dilakukan Yugo terhadap Milea, dia sudah bisa dilaporkan ke polisi atas tindak kekerasan seksual," sebut Sara.

Seniman lulusan International School of Screen Acting London, Inggris, itu lantas menceritakan adegan Yugo dan Milea nonton di bioskop. Dia menyoroti tindakan fisik Yugo ke Milea.

"Di negara lain memegang pundak tanpa izin seseorang pun sudah bisa dipidana, apalagi mencium tanpa izin (against someone's will)," kata dia.


Bagi Sara, perilaku Yugo membuat banyak aktivis perlindungan perempuan dan anak menyampaikan adanya kekosongan hukum dalam berpacaran. Pemahaman tentang apa yang dianggap boleh ataupun tidak dalam memperlakukan seseorang terhadap yang lain dalam konteks pelecehan seksual pun, katanya, belum dimengerti dan disepakati semua orang.

"Apa yang dilakukan Yugo itu bentuk pelecehan seksual yang kadang banyak orang kurang memahami. Dan itu yang sedang diperjuangkan para aktivis, terkait penegakan hukumnya," tegas caleg DPR RI Dapil III DKI itu.

Ketua DPP Bidang Advokasi Perempuan Partai Gerindra itu mendukung film karya anak bangsa. Karena itu, dia rutin mengadakan acara nonton film Indonesia. Dia juga mengucapkan selamat kepada film 'Dilan 1991' yang berhasil mencatatkan rekor Muri, yaitu jumlah penonton hari pertama penayangan sebanyak 800.000 penonton.

"Sekali lagi, selamat atas keberhasilan Muri-nya. Semoga memicu insan perfilman Indonesia untuk terus menghasilkan karya-karya terbaik," ucap Sara. (gbr/dhn)