"Pak Prabowo melihat dari perspektif kehati-hatian dan penegakan kedaulatan. Contoh tambang yang tidak teraudit dengan baik adalah fakta. Bahwa utang kita bertambah juga fakta. Dan banyak dari utang kita berasal dari sumber dana luar juga fakta," kata Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandiaga, Mardani Ali Sera, saat dihubungi, Minggu (3/3/2019).
Mardani Ali Sera Foto: Nur Azizah Rizki Astuti-detikcom |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
TKN Jokowi-Ma'ruf sebelumnya menganggap pernyataan Prabowo tentang Indonesia sedang berdarah-darah hanya pengulangan strategi 'our brand is crisis' yang disebut berasal dari konsultan asing. TKN memandang pernyataan Prabowo itu dilontarkan untuk menciptakan ketakutan.
"Apa yang disampaikan oleh Prabowo tetap klise, mengulang ulang apa yang disarankan oleh konsultan asingnya: our brand is crisis. Strategi ini diharapkan menciptakan ketakutan dan kecemasan, serta menjadikan dirinya sebagai penyelamat lain konsep Jokowi yang selalu optimis," kata Direktur Program TKN Jokowi-Ma'ruf, Aria Bima, saat dihubungi, Minggu (3/3).
Baca juga: Prabowo: Indonesia Sedang 'Bleeding'! |
Aria mengatakan strategi Prabowo itu terus diulang sejak kontestasi Pilpres 2014. Padahal menurutnya, soal utang negara adalah 'warisan' zaman Orde Baru.
"Ini diulang ulang terus sejak Pilpres 2014 tanpa data yang akurat. Padahal, jelas sekali Prabowo adalah bagian dari masalah utang orba dalam rezim orba," ujarnya.
Adapun ucapan Prabowo yang dimaksud ialah saat capres nomor urut 02 itu bicara di konsolidasi nasional Aliansi Pencerah Indonesia (API) bersama eksponen Muhammadiyah. Salah satu yang diungkit Prabowo adalah soal laporan hasil tambang yang berbeda.
"Kalau yang dilaporkan hanya 15 juta padahal dia tambangnya 30 juta, itu kan 150 juta dolar tiap tahun satu tambang, Indonesia hilang uang," kata Prabowo di Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (3/3/2019).
"Itu yang saya bilang kebocoran. Itu yang saya sebut bleeding, Indonesia sedang bleeding. Indonesia sedang berdarah," sambungnya.
Simak Juga 'Prabowo Sebut Uang WNI Rp 11 Ribu Triliun Berada di Luar Negeri':
(abw/haf)












































Mardani Ali Sera Foto: Nur Azizah Rizki Astuti-detikcom