DetikNews
Minggu 03 Maret 2019, 06:45 WIB

Round-Up

Puisi Munajat 212 dan Doa Kesukaan Neno Warisman

Tim detikcom - detikNews
Puisi Munajat 212 dan Doa Kesukaan Neno Warisman Neno Warisman (Foto: Instagram/Nenowarismannew)
Jakarta - Puisi Neno Warisman di acara Munajat 212 disorot sebab dianggap tak tepat membawa Tuhan ke ranah politik praktis. Neno pun buka suara soal puisi yang disebutnya berisikan doa itu.

Neno mengatakan dirinya yang ekspresif, termasuk dalam menyampaikan doa karena dirinya seorang seniman. Tapi dia mengaku selalu menangis ketika berdoa

"Jadi gini, saya memang kelihatannya saja ini, kalau bersuara orang teater. Saya kan seniman, saya pernah jadi... saya aktris terbaik teater, waktu SMA bolak-balik jadi aktris terbaik. Sampai jadi bintang film juga aktris terbaik. Jadi saya dikaruniai juga suara memang bisa ekspresikan," kata Neno.


Neno mengatakan itu saat menghadiri acara 'Pentas Seni Budaya dan Kulinari' relawan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/3/2019). Neno ditanya MC mengenai isi doa 'Perang Badar' yang jadi polemik.

"Tapi sebenarnya hati saya nangis saja terus. Coba bacakan saja Al-Fatihah, saya sudah menangis, baca doa apa pun saja saya menangis, jadi saya nangis saja," imbuh Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga ini.


Puisi Neno di Munajat 212 jadi kontroversi karena dianggap berisi ancaman. Neno mengatakan dalam puisi yang dibaca di Munajat 212 ada doa yang sering dibacanya. Dan dia hanya membawakan diri berdoa sebagaimana biasanya.

"Nah doa itu selalu dari dulu memang saya suka, memang saya sering baca. Karena doa itu dicontohkan oleh Rasulullah SAW," katanya.

Puisi Neno awalnya ramai di media sosial karena dianggap 'mengancam Tuhan'. Puisi tersebut juga dikritik karena mengandaikan pilpres seperti Perang Badar.


Mantan Ketum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif, bicara soal doa yang dibacakan Neno Warisman di Munajat 212. Buya Syafii menyebut apa yang disampaikan Neno biadab dan Neno tak mengerti agama.

"Itu puisi, itukan sudah saya (jelaskan). Saya kemarin di Jakarta bicara ini puisi biadab. Biadab itu bahasa Persia, Bi itu artinya tidak, adab itu tata krama," jelas Buya Syafii usai menghadiri bedah buku karyanya berjudul Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam' di Gedung Pascasarjana UMY, Jumat (1/3).

Ketua bidang Hukum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengatakan tidak seharusnya pilpres disamakan dengan Perang Badar. Dia juga mengingatkan Tuhan yang yang seharusnya disembah adalah Allah SWT, bukan pilpres.


"Ingat, Tuhan yang kita sembah adalah Allah SWT. Bukan Pilpres. Bahkan bukan agama itu sendiri," kata Ketua PBNU, Robikin Emhas, kepada wartawan, Sabtu (23/2).

"Pengandaian Pilpres sebagai perang adalah kekeliruan. Pilpres hanya kontestasi lima tahunan. Proses demokrasi biasa. Tentu akan ada yang dinyatakan terpilih dan tidak terpilih. Itulah mengapa konstitusi maupun regulasi lain tidak menggunakan istilah 'menang' dan 'kalah'," ujar dia.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, yang juga hadir di acara itu, menyebut puisi Neno sebagai potongan doa. Dia meminta puisi itu tak diralat.

"Itu potongan doa, jangan diralat," kata Fahri, saat dihubungi, Jumat (22/2).


Berikut isi potongan video yang beredar:

jangan, jangan Engkau tinggalkan kami
dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu



Saksikan juga video 'Puisi Emosional Neno Warisman di Munajat Akbar 212':

[Gambas:Video 20detik]


(jbr/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed