PSI Apresiasi Munas Ulama NU Rekomendasikan Jangan Sebut Kafir

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 01 Mar 2019 19:56 WIB
Foto: Mantan Ketua MK Mahfud Md diteriaki 'capres 2024' di acara pembekalan bacaleg PSI. (Zunita-detikcom)
Jakarta - Musyawarah Nasional Alim Ulama NU menelurkan rekomendasi untuk tak menyebut kafir bagi nonmuslim. PSI mengapresiasi rekomendasi tersebut.

"Ini adalah sebuah langkah bersejarah dalam upaya menghapus praktik diskriminasi di Tanah Air," kata juru bicara PSI Andy Budiman kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).


Menurut Andy, predikat 'kafir' selama ini sering dipakai sebagai alat legitimasi oleh kelompok intoleran untuk melakukan kekerasan, persekusi, atau bersikap diskriminatif terhadap kelompok yang berbeda keyakinan. Dia berharap tak ada lagi warga negara Indonesia yang dipanggil kafir.

"Keputusan ini membuktikan bahwa NU adalah benteng gerakan Islam moderat yang sangat penting bagi Republik," kata Andy.

"Keputusan NU ini akan menjadi landasan penting dalam gerakan persatuan nasional, menghapus praktik diskriminasi, dan sekaligus counter terhadap gerakan intoleransi," imbuhnya.


Sebelumnya, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU), menyarankan agar Warga Negara Indonesia yang beragama non-Muslim tak lagi disebut sebagai kafir. Kata kafir dianggap mengandung unsur kekerasan teologis.

"Karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tetapi muwathinun atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan WN yang lain," kata Pimpinan Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Abdul Moqsith Ghazali, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2). (tor/fjp)