Analisis BMKG soal Penyebab Gempa M 5,3 di Solok Selatan

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Jumat, 01 Mar 2019 08:27 WIB
Foto: Ilustrasi (Zainal Abidin)
Jakarta - Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, diguncang gempa pada Kamis (28/2), yang hasil pemutakhiran bermagnitudo 5,3. BMKG mencatat gempa itu dipicu aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan.

"Gempa Solok Selatan ini merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan dan belum diketahui namanya," kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono dalam keterangannya, Jumat (1/3/2019).


Daryono mengatakan pemicu gempa itu diduga berasal dari percabangan (splay) dari Sesar Besar Sumatra (The Great Sumatra Fault Zone). Ini mengingat lokasi episenter gempa terletak sejauh 49 kilometer di sebelah timur jalur Sesar Besar Sumatra, tepatnya dari Segmen Suliti.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan mendatar (strike-slip)," sebut Daryono.

Jika memperhatikan peta geologi di lokasi episenter, Daryono mengatakan tampak terlihat pola kelurusan yang berarah barat laut-tenggara. Mengacu orientasi ini, maka dapat dikatakan bahwa mekanisme gempa Solok Selatan berupa sesar geser dengan arah pergeseran menganan (dextral-strike slip fault).


Guncangan gempa dirasakan di Solok Selatan mencapai skala intensitas V-VI MMI, Kota Padang III-IV MMI, Painan dan Padang Panjang II-III MMI, Payakumbuh Limapuluh Kota II MMI, Kepahyang I MMI. Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Solok Selatan, lebih dari 343 bangunan rumah rusak dan sedikitnya 48 orang terluka akibat gempa ini.

Daryono menjelaskan, melihat ke belakang, salah satu peristiwa gempa dahsyat di Perbatasan Sumatera Barat, Bengkulu, dan Jambi adalah gempa merusak yang terjadi pada 4 Juni 1909, sekitar 7 tahun setelah wilayah itu diduduki oleh Hindia-Belanda.

Gempa tektonik yang dipicu akibat aktivitas Sesar Besar Sumatra tepatnya di segmen Siulak ini berkekuatan M 7,6. Gempa ini menjadi gempa darat paling kuat yang mengawali abad ke-20 di Hindia-Belanda. Peristiwa gempa dahsyat tersebut banyak ditulis dan diberitakan dalam berbagai surat kabar Pemerintah Hindia Belanda saat itu.

Jumlah korban jiwa meninggal akibat gempa Kerinci saat itu sangat banyak mencapai lebih dari 230 orang, sementara korban luka ringan dan berat dilaporkan juga sangat banyak.

Sejarah gempa dahsyat yang melanda Kerinci tahun 1909 kemudian terulang kembali pada tahun 1995. Gempa Kerinci 1995 berkekuatan M 7,0 terjadi terjadi 7 Oktober 1995 yang mengakibatkan kerusakan parah di Sungaipenuh, Kabupaten Kerinci.


Gempa itu menyebabkan 84 orang meninggal, 558 orang luka berat dan 1.310 orang luka ringan. Sementara 7.137 rumah, sarana transportasi, sarana irigasi, tempat ibadah, pasar dan pertokoan mengalami kerusakan.

"Ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari peristiwa gempa di Solok Selatan termasuk catatan gempa Kerinci 1909 dan 1995. Bahwa, keberadaan zona Sesar Besar Sumatra harus selalu kita waspadai. Jika terjadi aktivitas pergeseran sesar ini maka efeknya dapat sangat merusak karena karakteristik gempanya yang berkedalaman dangkal dan jalur sesar yang berdekatan dengan permukiman penduduk," sebut Daryono. (gbr/rna)