DetikNews
Selasa 26 Februari 2019, 18:04 WIB

Maskawin di Papua hingga Rp 1 Miliar Bikin Perempuan Susah Nikah

Tim detikcom - detikNews
Maskawin di Papua hingga Rp 1 Miliar Bikin Perempuan Susah Nikah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Sorong - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengatakan masih ada perempuan di Papua dan Papua Barat yang menjadi korban adat. Salah satunya adat maskawin yang mencapai Rp 1 miliar.

"Adat tentang maskawin di Papua membuat perempuan menjadi korban. Ada perempuan yang sudah melahirkan tiga anak sampai empat anak, tapi belum menikah karena maskawin mahal," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama di Sorong, yang dilansir dari Antara, Selasa (26/2/2019).

Yohana mengatakan ada keluarga yang meminta maskawin sangat mahal. Bahkan sampai Rp 1 miliar, sehingga laki-laki tidak bisa segera menikahi anak perempuan dari keluarga itu.



Padahal hubungan antara perempuan dan laki-laki tersebut sudah sangat jauh hingga mempunyai anak. Namun, karena tak ada biaya untuk maskawin, mereka tak bisa melangsungkan pernikahan.

"Kalau begitu, bagaimana pemenuhan hak anak terhadap akta kelahiran? Itu baru untuk maskawin, belum untuk biaya anak sekolah nanti," tuturnya.

Yohana mengajak masyarakat Papua berubah menjadi lebih terbuka dan mau mengikuti perkembangan zaman sehingga perempuan Papua juga bisa lebih berkembang.



"Bukan saya mau mengajak mengubah adat. Namun zaman sudah berubah, kita juga harus ikut berubah. Teknologi digital sudah berkembang," katanya.

Karena itu, dalam banyak kesempatan berdialog dengan dewan adat, Yohana selalu meminta masyarakat Papua bisa lebih melindungi dan menghargai perempuan. Pernah dalam salah satu pertemuan dengan dewan adat, Yohana ditanya bagaimana bisa menjadi menteri, padahal adat di Papua banyak menghalangi perempuan untuk maju.

"Saya bilang, saya dipilih presiden yang orang Jawa. Kalau orang Papua, pilih kepala dinas saja pasti laki-laki," ujarnya.
(rvk/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed