DetikNews
Selasa 26 Februari 2019, 08:28 WIB

Pimpinan KPK Curhat Kekurangan Jaksa

Haris Fadhil - detikNews
Pimpinan KPK Curhat Kekurangan Jaksa Ilustrasi KPK (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Kekuatan personel di KPK disinggung pimpinannya. Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengaku lembaga antirasuah itu kekurangan jaksa sehingga menghambat penuntasan kasus.

"Harus antre (perkara masuk ke persidangan). Jaksa sekarang agak kurang," ucap Syarif di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (25/2/2019).


Syarif pun mengaku sudah meminta Kejaksaan Agung (Kejagung) mengirimkan tambahan jaksa. Personel di KPK memang sejauh ini didominasi aparat penegak hukum lainnya, yaitu polisi dan jaksa, selain dari institusi lainnya.

Curahan hati Syarif soal kurangnya jaksa di KPK menanggapi tentang perkara yang menjerat Emirsyah Satar yang cenderung jalan di tempat. Personel yang kurang itu disebut Syarif membuat perkara-perkara di KPK harus antre.

"Hanya untuk menyelesaikan administrasi di kantor. Jadi semua yang kebutuhan untuk pelimpahannya akan disegerakan," ucapnya.

Namun Syarif tak menjelaskan detail berapa jumlah jaksa yang dibutuhkan KPK. Dia juga tak menyebut berapa jaksa yang sudah dimintakan ke Kejagung.

Kembali ke kasus Emirsyah, dugaan suap yang menjeratnya ini sudah ditangani KPK sejak 2017. Dia diduga menerima suap dari Soetikno Soedarjo, yang disebut sebagai beneficial owner Connaught International Pte Ltd.

Soetikno diduga memberi suap kepada Emirsyah terkait pengadaan pesawat Airbus SAS dan mesin pesawat Rolls-Royce untuk PT Garuda Indonesia. Total duit suap yang diduga diberikan Soetikno kepada Emirsyah sebesar 1,2 juta euro dan USD 180 ribu atau setara Rp 20 miliar.


Emirsyah juga diduga menerima suap dalam bentuk barang senilai USD 2 juta yang tersebar di Indonesia dan Singapura. Selain soal pengadaan mesin dan pesawat Garuda, KPK kini juga mendalami soal pemeliharaan pesawat.

Emirsyah pun sudah angkat bicara soal kasusnya ini. Dia menyatakan, selama menjabat Dirut Garuda, dia tak pernah melakukan tindakan korupsi.

"Sepengetahuan saya, selama saya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia, saya tidak pernah melakukan perbuatan yang koruptif ataupun menerima sesuatu yang berkaitan dengan jabatan saya," ujar Emirsyah kepada detikcom, Jumat (20/1/2017).
(haf/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed