DetikNews
Sabtu 23 Februari 2019, 12:18 WIB

Tokoh Muda NU: Munajat 212 Orasi Politik, Bukan Kegiatan Agama Murni

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Tokoh Muda NU: Munajat 212 Orasi Politik, Bukan Kegiatan Agama Murni Taufik Damas (Nur Azizah/detikcom)
Jakarta -

Tokoh muda NU Taufik Damas mengatakan orang-orang harus menghormati tempat keagamaan. Menurutnya, agama dan politik tidak bisa dipisahkan, tapi jangan dicampuradukkan.

"Jadi agama dan politik itu tidak bisa dipisahkan, tapi bisa dibedakan, jangan dicampur aduk. Maka orang harus menghormati tempat-tempat keagamaan. Nah orang yang tidak paham dan tidak bisa membedakan mana agama dan politik akhirnya tempat-tempat keagamaan justru dibajak untuk kegiatan politik," kata Taufik di Hotel Alila, Pecenongan, Jakarta Selatan, Sabtu (23/2/2019).



Menurut Taufik, boleh membicarakan politik di tempat ibadah, tapi tidak untuk berkampanye. Taufik mengatakan tempat ibadah adalah tempat untuk bersatu dalam ketakwaan.

"Kita ini kan beda, sekolah, kuliah, kerja, partai, itu beda. Maka kalau sudah ada di tempat ibadah kita itu harus menyatu. Menyatu dalam ajaran keagamaan, dalam spiritual, dalam ketakwaan, dalam iman. Kalau kampanye politik di tempat ibadah, maka tempat ibadah itu sudah membelah masyarakat," ujarnya.

"Orang yang datang itu kan beragam, yang setuju dengan kampanye yang dilakukan oleh tokoh tertentu pasti dia senang, tapi yang nggak setuju pasti ngedumel. Dan itu tidak benar. Karena dalam bahasa Arab, masjid itu disebut jami'. Jami' itu artinya menyatukan masyarakat, bukan memecah belah," imbuh Taufik.



Taufik juga mengomentari gerakan 212. Menurut dia, jelas terlihat bahwa gerakan tersebut adalah gerakan politik.

"Ya itu nggak bisa ditutupilah. Pada akhirnya semua orang tahu bahwa yang terjadi di dalamnya adalah orasi politik, bukan kegiatan keagamaan murni gitu. Lagi pula, yang namanya kegiatan keagamaan murni itu kan harusnya ya betul-betul murni karena Allah, murni di mana orang mengoreksi diri, muhasabah, muraqabah, bukan kemudian diisi dengan ceramah-ceramah politik," ucapnya.



Dalam acara Munajat 212, dinyanyikan mars dengan lirik 'memilih presiden pilihan Ijtimak Ulama'. Taufik menyebut memilih pemimpin harus yang jujur dan bekerja, bukan karena didukung kelompok.

"Ya itu hak mereka melakukan itu. Tapi kan kalau bagi saya, namanya ijtimak ulama itu sekarang jumlahnya berapa. Indonesia ini ulama jutaan gitu. Jadi kalau mereka merasa punya otoritas, ya kita juga ulama yang lain kan lebih banyak jumlahnya, cuma memang tidak melakukan ijtimak. Karena nggak penting juga gitu lho, orang memilih pemimpin itu yang penting adalah ayo kita memilih pemimpin yang jujur, yang adil, yang sudah berbuat banyak untuk negeri ini. Bukan karena didukung siapa-siapa," tegasnya.

Taufik mengatakan masyarakat, terutama minoritas, tidak perlu takut pada gerakan radikal. Menurutnya, perlu kerja sama untuk menyadarkan masyarakat bahwa agama di Indonesia penuh dengan toleransi.

"Ya nggak perlu takut dengan gerakan-gerakan yang radikal seperti itu. Kita semua harus bahu-membahu menyadarkan masyarakat bahwa wajah agama di Indonesia ini yang benar adalah wajah yang moderat, toleran, saling menghargai satu sama lain gitu. Orang juga harus disadarkan bahwa agama, politik itu harusnya melihatnya secara objektif dalam memilih pemimpin, memilih partai, dan lain sebagainya. Soal ada orang bawa-bawa agama dalam politik itu adalah orang yang tidak mampu memahami agama dengan baik dan benar," tuturnya.

Taufik, yang juga calon anggota DPD RI dapil Jakarta, mengatakan, jika ingin membawa agama dalam politik, harus ditunjukkan dengan membawa nilai agama dalam perilaku. Menurutnya, keberpihakan kepada rakyat kecil lebih penting daripada sekadar simbol.

"Saya katakan, kalau Anda ingin membawa agama dalam politik, jadilah politisi jujur, yang adil, yang berkata dan berpikir itu selaras. Itu yang terpenting, nilai-nilai agama yang prinsip itu yang dibawa dan itu yang dibutuhkan. Keberpihakan kepada masyarakat kecil itu yang kita butuhkan, bukan hanya simbol-simbolnya aja. Kalau simbol-simbol mah itu sering kali bernuansa manipulatif," ungkapnya.


Saksikan juga video 'Munajat 212 Bernuansa Politik?':

[Gambas:Video 20detik]


(azr/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed