DetikNews
Jumat 22 Februari 2019, 21:20 WIB

6 Fakta Sudirman Said yang Ungkap Kisah di Balik Akuisisi Freeport

Tim detikcom - detikNews
6 Fakta Sudirman Said yang Ungkap Kisah di Balik Akuisisi Freeport Sudirman Said (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Sudirman Said menceritakan kronologi dikuasainya saham Freeport Indonesia sebesar 51 persen. Apa saja fakta-fakta Sudirman Said?

Sudirman Said lahir di Slatri, Larangan, Brebes, Jawa Tengah, 16 April 1963. Dia merupakan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Berikut fakta tentang Sudirman Said.



1. Pendidikan

Sudirman Said menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) pada 1990. Dia aktif dalam ikatan alumni STAN dan dipilih sebagai Ketua Umum Ikanas Keuangan-STAN untuk periode 2013-2016.

Sudirman juga meraih Master Bidang Administrasi Bisnis dari George Washington University, Washington, DC, Amerika Serikat, pada 1994.

2. Menteri ESDM Kabinet Kerja Jokowi (2014-2016)

Sudirman merupakan Menteri ESDM pada Kabinet Kerja yang menjabat sejak 27 Oktober 2014 hingga 27 Juli 2016. Kemudian dia digantikan oleh Archandra Tahar pada reshuffle kabinet kedua.

3. Dirut PT Pindad

Sudirman Said dipercaya menjadi Direktur Utama PT Pindad (Persero), sebuah perusahaan negara di bidang persenjataan. Sudirman mulai menjabat direktur utama perusahaan negara ini pada 4 Juni 2014. Dia menggantikan Tri Hardjojo, yang menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT Pindad.

4. Mendirikan MTI

Sudirman mendirikan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). Dia mendirikannya bersama beberapa aktivis antikorupsi lainnya.

5. Cagub Jateng

Sudirman mencalonkan diri pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2018. Dia berpasangan dengan Ida Fauziyah. Pasangan nomor urut 2 ini diusung oleh Partai Gerindra, PKS, PAN, dan PKB. Namun kalah oleh calon gubernur petahana Ganjar Pranowo.

6. Ungkap Kisah di Balik Akuisisi Freeport

Sudirman Said menyatakan paket deal saham Freeport tak sepenuhnya menguntungkan Indonesia. Bermula pada 7 Oktober 2015, saat itu Sudirman, yang masih menjabat Menteri ESDM, dipanggil mendadak oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Ketika dia sampai di Istana, dia diberi tahu oleh asisten Presiden bahwa tidak ada pertemuan, namun dia tetap diperintahkan menghadap Presiden.

Singkat cerita, sesampai dia di ruangan kerja Jokowi, Sudirman melihat ada Jim Moffett, yang kala itu menjabat Executive Chairman Freeport McMoRan, sedang mengadakan pertemuan dengan Jokowi. Di sana Sudirman diperintahkan Jokowi membuat draf mengenai kesepakatan pembelian saham.

"Dan tidak panjang-lebar, Presiden hanya katakan 'tolong siapkan surat, seperti yang dibutuhkan, kira-kira kita ini ingin menjaga keberlangsungan investasilah', nanti dibicarakan setelah pertemuan ini, 'baik, Pak Presiden'. Maka keluarlah saya bersama Pak Jim Moffett ke suatu tempat," ujar Sudirman di acara bedah buku bertajuk 'Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan' di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sesampainya di sebuah tempat, Moffett menyodorkan draf kesepakatan. Menurut Sudirman, draf itu tidak menguntungkan Indonesia.

"Pak Moffet sodorkan draf, kira-kira surat yang dibutuhkan seperti itu. Saya bilang sama Moffet, 'this is not the way i do business, kalau saya ikuti drafmu, maka yang akan ada presiden negara didikte korporasi'. Saya tidak lakukan itu, 'you tell me what we have been discussed with president', dan saya akan buat draf yang lindungi kepentingan republik'," kata Sudirman seraya menirukan perkataannya kepada Moffett.

Kemudian, setelah pertemuan dengan Moffett, Sudirman langsung menyampaikan draf tersebut kepada Jokowi. Menurut Sudirman, saat itu Jokowi disebut langsung menyetujui, padahal menurut Sudirman, draf tersebut hanya menguntungkan pihak Freeport, bukan Indonesia.

"Bapak dan Ibu tahu komentarnya Pak Presiden apa? Dia mengatakan 'Lo kok begini saja sudah mau? Kalau mau lebih kuat lagi, sebetulnya diberi saja'. Jadi mungkin saja ketika pagi itu, saya nggak ikut diskusi, saya datang tulis surat, dan saya nggak tahu sebelum pertemuan itu ada siapa. Jadi saya disuruh nulis surat dengan level ini aman, nggak merusak. Tapi Pak Presiden bilang 'kok begini nggak mau', jadi mungkin tanggal 7 itu mungkin sudah ada komitmen yang lebih kuat, yang dikatakan surat itu perkuat posisi mereka, dan lemahkan posisi kita," ungkap Sudirman.

Sudirman menilai pertemuan antara Jokowi-Moffett itu bukanlah pertemuan normal layaknya pertemuan biasa. Sebab, setelah draf tersebut disetujui Jokowi, angka saham Amerika naik.

"Dan saya paham itu bukan pertemuan normal. Tetapi dari segi hukum, saya rasa dapat proteksi dari kepala biro hukum saya dan sekjen. Itulah cerita surat itu," tutur Sudirman.

Presiden sekaligus calon presiden petahana Joko Widodo juga ikut merespons kisah yang dilontarkan Sudirman Said. Jokowi menepis cerita mantan anak buahnya antara dirinya dengan bos PTFI pada 2015.

Pertemuan itu berlangsung pada 2015. Saat itu, Jokowi mengatakan, pertemuan membahas perpanjangan izin operasi Freeport.

"Ya perpanjangan, dia kan minta perpanjangan. Pertemuan bolak-balik memang yang diminta perpanjangan, terus apa?" ujar Jokowi.
(nwy/dkp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed