detikNews
Jumat 22 Februari 2019, 20:42 WIB

Ferry Baldan Bela Sudirman Said soal Isu Miring Freeport: Dia Berintegritas

Yulida Medistiara - detikNews
Ferry Baldan Bela Sudirman Said soal Isu Miring Freeport: Dia Berintegritas Ferry Mursyidan Baldan (Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Jakarta - Direktur Relawan BPN Prabowo-Sandiaga, Ferry Mursyidan Baldan, membela mantan Menteri ESDM Sudirman Said soal isu miring akuisisi Freeport. Ferry menyebut Sudirman Said adalah orang berintegritas.

"Ya saya kira Pak Sudirman yang saya kenal dia kan pribadi yang punya integritas, dia tidak pernah sekali pun kebohongan. Dia jujur. Saya nggak pernah mengalami soal dia berbohong. Itu yang saya katakan orangnya cukup terbuka," ungkap Ferry di kompleks DPR, Jakarta, Jumat (22/2/2019).



Ia mengatakan Sudirman hanya menjelaskan tentang proses akuisisi Freeport dalam konteks bedah buku. Ferry, yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang era Jokowi, menyebut Sudirman juga pasti pernah bertemu dengan pengusaha karena dulu menjabat menteri.

"Jadi, kalau soal yang berkaitan dengan itu, saya membayangkan pasti pernah ada juga, dia kan juga pengalaman menteri, juga ada pembicaraan-pembicaraan berdua, pasti ada gitu, kan. Tapi mungkin ketika dia mau menjelaskan tentang sesuatu yang ada, konteksnya sebetulnya soal buku itu kan. Kan disampaikan waktu ada satu hari soal surat gitu-gitu-lah. Itu kan ada mekanisme itu," kata Ferry.



Sebelumnya, Sudirman menceritakan, pada 7 Oktober 2015, sesampai dia di ruangan kerja Jokowi, dia melihat ada Moffet, sedang mengadakan pertemuan dengan Jokowi. Di sana Sudirman diperintahkan Jokowi membuat draf mengenai kesepakatan pembelian saham.

Sesampainya di sebuah tempat, Moffet menyodorkan draf kesepakatan. Menurut Sudirman, draf itu tidak menguntungkan Indonesia.



Kemudian, setelah pertemuan dengan Moffet, Sudirman langsung menyampaikan draf tersebut kepada Jokowi. Menurut Sudirman, saat itu Jokowi disebut langsung menyetujui, padahal menurut Sudirman draf tersebut hanya menguntungkan pihak Freeport, bukan Indonesia.

"Bapak dan Ibu tahu komentarnya Pak Presiden apa? Dia mengatakan, 'Lo kok begini saja sudah mau? Kalau mau lebih kuat lagi, sebetulnya diberi saja'. Jadi mungkin saja ketika pagi itu, saya nggak ikut diskusi, saya datang tulis surat, dan saya nggak tahu sebelum pertemuan itu ada siapa. Jadi saya disuruh nulis surat dengan level ini aman, nggak merusak. Tapi Pak Presiden bilang 'kok begini nggak mau', jadi mungkin tanggal 7 itu mungkin sudah ada komitmen yang lebih kuat, yang dikatakan surat itu perkuat posisi mereka, dan lemahkan posisi kita," ungkap Sudirman di acara bedah buku bertajuk 'Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan' di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2).
(yld/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed