"Sebenarnya wajar saja dalam pemilu ada fluktuasi. Ini yang kami harapkan, karena terkadang evaluasi terlalu tinggi buat kita jadi lemah. Ini yang jadi catatan kami untuk tingkatkan pada pemilih Muslim, kami juga dari PDIP memang targetkan 25 persen minimum. Tapi dari progres yang ada kami bisa lewati, tapi ritme Pemilu ini harus dijaga, bahwa kami juga menikmati coat tail effect dari pak Jokowi karena kader PDIP," ujar Wasekjen PDIP Eriko Sotarduga seusai acara diskusi di Upnormal Cafe, Jl Raden Saleh, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019).
Secara keseluruhan, PDIP akan menggalakkan kampanye dari pintu ke pintu guna mendongkrak elektabilitas. Caleg-caleg muda PDIP yang belum maksimal akan dievaluasi.
Wasekjen DPP PDIP Eriko Sotarduga. (Foto: Ari Saputra) |
Sebelumnya, peneliti LSI Denny JA Rully Akbar mengatakan tren penurunan elektabilitas PDIP di kalangan pemilih Muslim ini disebabkan adanya sejumlah peristiwa mulai dari Ijtimak Ulama, Reuni 212 hingga instruksi dari Habib Rizieq Shihab untuk tidak memilih partai pendukung penista agama. Sebab, menurutnya, peristiwa-peristiwa memilik pengaruh terhadap pilihan di kalangan pemilih Muslim.
"Kalau di konteks pemilih Muslim memang pertengahan ini mulai ada Ijtimak Ulama sudah dan penentuan, Reuni 212 dan ada imbauan Habib Rizieq. Ini yang kemudian memperkuat barisan pemilih Muslim yang kemudian mempunyai efek ekor jas ke pemilih Gerindra yang dapat kenaikan di pemilih Muslim dan ada penurunan di PDIP yang mengekor Jokowi," ujar Rully di Graha Dua Rajawali LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (20/2).
Berikut hasil survei elektabilitas 5 parpol tersebut dalam 6 bulan terakhir dari kacamata pemilih Muslim:
PDIP
Agustus 2018: 23,3 persen;
September 2018: 22,4 persen;
Oktober 2018: 23,7 persen;
November 21,8 persen;
Desember 2018: 24,6 persen (tertinggi);
Januari 2019: 18,4 persen (terendah).
Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini. (zap/dkp)












































Wasekjen DPP PDIP Eriko Sotarduga. (Foto: Ari Saputra)