DetikNews
Kamis 21 Februari 2019, 11:54 WIB

Satu Asar di Masjid Berusia 800 Tahun di Beijing

Jabbar Ramdhani - detikNews
Satu Asar di Masjid Berusia 800 Tahun di Beijing Bagian muka Masjid Dongsi (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)
Beijing - Ada sebuah masjid berusia 800 tahun di satu sudut kota Beijing. Sekilas dilihat dari luar, orang asing tak akan mudah mengenali bangunan ini merupakan masjid.

detikcom mendapatkan kesempatan untuk singgah dan salat Asar di masjid ini bersama rombongan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Selasa (19/2/2019).

Masjid ini bernama Masjid Dongsi. Lokasinya tepat di pinggir Jalan Dongsi, Distrik Dongchen, Beijing.



Satu Asar di Masjid Berusia 800 Tahun di BeijingHalaman Masjid Dongsi (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)

Bagian muka yang juga gerbang masjid begitu kental dengan ornamen China: bentuk atap, pintu gerbang, dan guratan hiasan. Di sebelah kanan-kiri masjid ini menempel toko-toko. Sebelah kiri kedai kopi, sebelah kanan toko baju (factory outlet).

Lanjut, masuk ke dalam masjid pengunjung akan melewati sebuah metal detector. Kemudian pengunjung akan mendapati sebuah halaman berbentuk persegi yang dimensinya sekitar 10 meter x 20 meter. Sebuah bendera nasional dikibarkan di halaman.

Di halaman ini, rombongan disambut pihak China Islamic Assosiacion. Mereka mengarahkan kami ke tempat berwudu.

Sangat sederhana dan unik. Itu kesan yang muncul pertama saat melihat ke dalam tempat wudu. Pengurus masjid menyediakan beberapa teko atau cerek untuk jemaah berwudu.

Satu Asar di Masjid Berusia 800 Tahun di BeijingTempat berwudu di Masjid Dongsi (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)

Memang tetap disediakan keran, namun tak seperti di Indonesia, keran di Masjid Dongsi airnya tidak mengalir sampai bawah karena ada penadah yang tingginya sepinggang orang dewasa.

Saat itu suhu udara sekitar 3 derajat celcius. Rombongan mengambil wudu satu per satu untuk salat asar.

"Ayo, ayo, sudah ditunggu imam untuk salat," kata Ketua PBNU Bidang Hukum, KH Robikin Emhas.

Hingga kemudian tiba di dalam masjid, terasa begitu kental suasana oriental. Tiang dan bagian langit-langit masjid dihiasi kaligrafi. Ada sebuah mimbar yang biasa dipakai khatib untuk khotbah.

Saat semua sudah berkumpul, pengurus masjid pun ikamah (iqamat). Sedikit beda dengan ikamah di tanah air, di sini pengucapan takbir dilakukan empat kali dan semua dilafalkan dengan cepat.

Satu Asar di Masjid Berusia 800 Tahun di BeijingHiasan kaligrafi dan ornamen oriental di dalam Masjid Dongsi (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)

Salat asar berjemaah pun sudah selesai ditunaikan. Setelah selesai berdoa, rombongan berbincang dengan Wakil Ketua China Islamic Assosiacion Yang Guan Jun.

"Selama 40 tahun reformasi keterbukaan ini, muslim Tiongkok sangat menikmati bonus kebijakan pemerintah. Dan boleh dikatakan sekarang era emas perkembangan Islam di Tiongkok," kata Yang Guan Jun.

Dia juga mengatakan muslim China-Indonesia punya hubungan spesial. Hubungan muslim China dengan negara lain makin kuat setelah ada kebijakan reformasi dan keterbukaan.

"Sekarang Tiongkok-Indonesia punya hubungan politik sangat erat. Dan pada 2 tahun lalu saat Presiden Joko Widodo mengunjungi Tiongkok, saya punya kesempatan menemui beliau," ucapnya.

Dia menambahkan, selain memberi kebebasan beribadah, pemerintah juga memperbaiki masjid-masjid di China. Di Beijing sendiri, lanjutnya, ada 71 masjid dengan jumlah muslim sekitar 260 ribu orang (total di China ada sekitar 23 juta muslim). Sedangkan jumlah imam di Beijing ada 150 orang.

Satu Asar di Masjid Berusia 800 Tahun di BeijingSuasana setelah salat asar (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)


Masjid Tua dan Manuskrip Klasik

Imam masjid, Yunus, menjelaskan masjid ini didirikan pada 1318 masehi. Dia mengatakan nama Masjid Dongsi diberikan oleh Kaisar China pada masa Dinasti Ming.

"Jadi masjid ini diakui dan dianugerahi nama oleh kaisar. Sama seperti masjid di Niujie seperti di piring itu," ucap Yunus.

Yunus mengatakan masjid ini sudah diperbaiki beberapa kali. Di dalam masjid ada dua tiang penyanggah yang masih dipertahankan sejak awal berdiri.

Dia mengatakan masjid ini dibangun dengan gabungan gaya Arab di bagian depan dan China di bagian belakang. Bangunan ini juga dibuat dengan desain yang maju.

"Dan di tengah balai ini ada desain untuk membesarkan suara. Karena pada saat itu belum asa pengeras. Ini menunjukkan kecerdasan desain orang kuno," ujar Yunus.

Satu Asar di Masjid Berusia 800 Tahun di BeijingAlquran yang ditulis pada masa Dinasti Ming di Perpustakaan Fuad (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)

Setelah itu, rombongan diajak melihat perpustakaan yang ada di samping bangunan masjid. Ternyata perpustakaan ini menyimpan berbagai manuskrip yang usianya cukup tua di dalamnya.

"Waktu itu dapat 400 jilid buku Islam sewaktu perwakilan ke Mesir menghadiri upacara wafatnya Raja Mesir. Diberikan oleh Putra Raja. Perpustakaan ini lalu dinamakan Fuad, sesuai nama Raja Mesir saat itu," tutur dia.

Ada Alquran tulis tangan yang sudah dibuat sejak Dinasti Ming (1368-1644). Ada juga buku Guide of The Islamic warisan Dinasti Qing (1644-1911), Tafsir Baidowi, Four Lines of Poetry, serta juga buku fikih sehari-hari.

Buku-buku tersebut disimpan di lemari. Selain buku, ada juga pahatan ayat Alquran di atas batu. Dari 500 batu pahatan, ditunjukkan 5 batu.
(jbr/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed