DetikNews
Selasa 19 Februari 2019, 18:07 WIB

Bicara soal Politisasi Agama, HNW Singgung Janji yang Tak Ditepati

Mochamad Zhacky - detikNews
Bicara soal Politisasi Agama, HNW Singgung Janji yang Tak Ditepati Diskusi Politisasi Agama Era Jokowi di Seknas Prabowo-Sandi (Zhacky/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid (HNW) berbicara soal politisasi agama. Menurutnya, dalam politisasi agama, rakyat banyak dipertontonkan ragam perilaku yang seolah-olah beragama hanya demi meraup suara.

"Ketika politisasi agama itu terjadi, rakyat kemudian dipertontonkan ragam perilaku yang seolah beragama," ujar HNW di Seknas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/2/2019).

Hal tersebut disampaikan HNW dalam diskusi 'Politisasi Agama Era Jokowi'. HNW mengatakan, dalam realitasnya, politisasi agama telah terjadi di era pemerintahan Jokowi. Mengingat, banyak ketidakjujuran yang ditampilkan dengan mengatasnamakan agama.


HNW pun lantas menyinggung soal banyaknya janji-janji yang tidak ditepati. Selain itu, ia menyinggung banyaknya data tidak benar yang diungkapkan ke masyarakat.

"Ketika kejujuran itu tidak hadir, di antaranya janji-janji yang tidak dilaksanakan, begitu banyak tampilnya data-data ternyata salah. Itu kemudian jadi problem besar. Jadi pernyataan tentang tidak takut oleh Allah dan pernyataan tentang pentingnya beragama sehingga kemudian tes baca Alquran dan sebagainya itu. Jadi orang berpikiran agama itu permainan saja dan untuk mendapatkan suara saja. Maka, kalau itu terjadi, agama jadi mainan saja, maka itu akan bertentangan dengan konstitusi," tuturnya.

Dengan demikian, menurut HNW, orang yang tidak menjunjung tinggi kejujuran tersebut selaras dengan orang yang mempolitisasi agama.

"Jadi, kalau agama itu tidak memberikan kejujuran, maka itu hanya politisasi agama," pungkas HNW.


Dalam kesempatan itu, HNW juga menyoroti soal 'serangan' Jokowi ke Prabowo Subianto, baik dalam debat capres pertama maupun kedua, tidak akurat. Catatan HNW ada dua serangan Jokowi yang tidak akurat.

"Jadi dua kali Pak Prabowo diserang, debat pertama, debat kedua. Tapi serangan Pak Jokowi sesungguhnya juga mengandung dalam tanda kutip ketidakakuratan untuk mengatakan ketidakbenaran," tuturnya.

HNW kemudian memaparkan ketidakakuratan 'serangan' Jokowi dalam debat capres perdana. Pertama, yang disinggung adalah caleg yang merupakan mantan koruptor. Ketidakakuratan Jokowi selanjutnya, menurut HNW, terlihat saat debat kedua, ketika Jokowi menyatakan Prabowo memiliki tanah ratusan ribu hektare di beberapa daerah.

"Jadi yang kedua pun begitu. (Prabowo) diserang memiliki sekian ratus ribu tanah di Kalimantan dan Sumatera. Ternyata itu juga tidak benar, beliau tidak memiliki tanah-tanah itu, beliau hanya HGU (hak guna usaha)," jelasnya.


Sementara itu, soal 'serangan' Jokowi mengenai tanah Prabowo, HNW menilai Jokowi keliru karena menggunakan istilah 'milik'.

"Menurut saya, salah satu yang penting dicermati di situ adalah ketika Pak Jokowi mempergunakan istilah Pak Prabowo memiliki tanah sekian, sekian, sekian. Itu bukan miliknya Pak Prabowo, itu kan HGU. HGU itu bukan milik pribadi dari orang ke orang," tutur HNW.

HNW mengimbau agar kesalahan yang dilakukan Jokowi ini disikapi dengan cara yang rasional. Kalau kesalahan itu dilakukan berulang-ulang, saran HNW, tidak usah dipilih.

"Menurut saya, sikapilah dengan cara yang rasional, dengan cara intelektual, dengan cara yang kemudian bisa mengapresiasi bila ada yang salah. Ya, masak, kalau ada yang salah dihukum mati, kan nggak juga. Jadi kalau salah ya sudah. Kalau salah itu, kemudian salahnya berulang-ulang ya tandain saja, nggak usah dipilih," ucap Wakil Ketua MPR itu.


Saksikan juga video 'HNW: Prabowo akan Lanjutkan 'Warisan' Baik dari Presiden Terdahulu':

[Gambas:Video 20detik]


(mae/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed