SBY Tekankan Lagi Tak Menutup Kemungkinan Reshuffle Kabinet

SBY Tekankan Lagi Tak Menutup Kemungkinan Reshuffle Kabinet

- detikNews
Sabtu, 17 Sep 2005 12:03 WIB
New York - Presiden SBY kembali menegaskan bahwa reshuffle kabinet tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan. Namun semua itu tergantung evaluasi setelah satu tahun kabinet bekerja.Keterbukaan SBY soal reshuffle itu disampaikan dalam jumpa pers yang digelar di gedung Perutusan Tetap Republik Indonesia di 2 Avenue 38 St, New York. Jumpa pers berlangsung Jumat (16/9/2005) menjelang tengah malam waktu setempat atau Sabtu (17/9/2005) siang waktu Indonesia.Evaluasi tersebut, menurut SBY, merupakan bagian dari kontrak politik terhadap para menteri. Kontrak politik itu antara lain, menteri harus bekerja sebaik-baiknya, bersih, tidak terlibat penyelewengan atau pun korupsi, serta mengutamakan bangsa dan negara, tidak mementingkan partai atau lainnya."Evaluasi itu akan saya lakukan untuk melihat sejauh mana kontrak politik itu telah dilaksanakan," kata SBY seperti dilaporkan wartawan detikcom Budiono Darsono dari New York.Apabila dalam evaluasi itu nantinya ada menteri yang bekerja di bawah standar, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, atau karena ada masalah lain seperti penyimpangan, maka SBY secara terus terang akan mengatakan kepada menteri yang bersangkutan bahwa menteri tersebut akan diganti. "Tentu semua itu akan dilakukan secara objektif," kata SBY."Dengan demikian saya tegaskan, tidak tertutup kemungkinan ada reshuffle kabinet. Namun semua itu tergantung proses evaluasi," tandas SBY.SBY juag meminta agar semua pihak, termasuk dunia usaha, tetap tenang dan menjalankan kegiatan sebagaimana biasa. "Kita ini bekerja atas dasar sistem, bukan orang per orang," demikian SBY.Seperti diketahui, isu reshuffle kabinet terus terhembus belakangan ini, menyusul rontoknya ekonomi dalam negeri. Pada Agustus lalu, SBY menyahuti hal itu dengan menyebutkan bahwa reshuffle akan dilakukan setelah mengevaluasi para menterinya dalam dua bulan ke depan. SBY resmi menjadi presiden pada 20 Oktober 2004, sedangkan menterinya dilantik esok harinya. (nrl/)


Berita Terkait