Solo Rawan Penimbunan BBM, Cilacap Paling Berat

Solo Rawan Penimbunan BBM, Cilacap Paling Berat

- detikNews
Jumat, 16 Sep 2005 18:50 WIB
Solo - Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Chaerul Rasyid mengatakan, sejauh ini kejahatan terberat terkait distribusi BBM di daerahnya adalah terjadi di Cilacap yaitu berupa percobaab penyelundupan minyak ke luar negeri. Sedangkan Solo dinilai sebagai daerah yang rawan terjadinya penimbunan dan penggelapan."Kalau di Solo kaitannya hanya penimbunan, penggelapan dan salah penyaluran distribusi. Tetapi yang terberat di Jawa Tengah adalah di Cilacap karena disana ada kilang," kata Rasyid kepada wartawan di Solo, Jumat (16/9/2005).Dikatakannya bahwa proses penyidikan yang dilakukan pihaknya terhadap kasus penangkapan 1 tanker berisi 528 ton minyak dan warga asing, telah selesai tanpa menemui kendala berarti. Dari kasus tersebut, kata dia, berhasil dikembangkan informasi tentang jaringan-jaringan penyelundupan minyak ratusan ribu barel."Ada beberapa yang menjadi sumber informasi modus operandi penggelapan dan penyelundupan solar dan BBM yang lain ke tempat yang lain," kata Kapolda.Sedangkan Wadir Reskrim Polda Jateng Kombes Sukrani mengatakan, penyidikan kasus tersebut telah dinyatakan lengkap (P-21) dengan tersangka sejumlah 28 orang. Kasus tersebut sudah dilimpahkan ke kejaksaan dan saat ini Polda juga menangani kasus lain seperti agen agen fiktif solar, minyak tanah dan lain-lainnya."Kami juga melakukan koordinasi dengan Polda-Polda lain sehingga sekarang sudah banyak pejabat Pertamina yang kita tahan, termasuk di Polda Jawa Tengah ada lima yang sudah kita tahan," paparnya."Untuk kasus di Solo kita masih melakukan penyelidikan, nanti kita kembangkan dengan menahan lima orang. Ada indikasi dua perusahaan yang diduga menggunakan minyak tanah bersubdisi," lanjutnya.Dua Oknum TNI Borong SolarSementara itu Tim Reskrim Polwil Surakarta Jumat dinihari menangkap dua anggota TNI yang sedang membeli BBM jenis solar dalam jumlah berlebihan di SPBU Jalan Ir Sutami, Solo. Namun dalam pemeriksaan keduanya mengaku pembelian itu untuk kebutuhan operasional kedinasanKedua anggota TNI berinisial Pelda Sm dan Kopral IS itu membeli solar menggunakan puluhan jiriken yang diangkut dua mobil terbuka. Kedua orang tersebut lalu dibawa ke Mapolwil untuk diperiksa berikut mobil dan BBM solar yang dibelinya.Saat dikonfirmasi Jumat pagi, Kapolwil Surakarta Kombes Pol Drs Abdul Madjid mengatakan bahwa kedua anggota TNI itu akan diserahkan kepada atasan yang berhak menghukum (Ankum) di kesatuan mereka. Sedangkan mobil dan solar itu diamankan sebagai barang bukti untuk pemeriksaan mengenai kegunaan pembelian BBM tersebut.Kepada penyidik di Polwil keduanya mengaku telah melakukan pembelian solar selama seminggu secara berkala. "Sehari tiga kali dengan setiap pembelian 1 ton solar. Total pembelian 21 ton solar selama seminggu. Alasannya untuk bahan bakar operasional latihan. Namun saat ditangkap, keduanya tidak dapat menunjukkan surat-surat izin," ujar sumber di Polwil.Namun Jumat Siang, Kapolwil mengatakan tidak ada persoalan lagi dengan kasus tersebut. "Sudah ada surat resmi dari atasannya yang memberitahukan bahwa pembelian solar itu atas perintah kesatuan untuk kebutuhan latihan. Dengan demikian maka tidak ada persoalan lagi. Barang bukti solar akan kami kembalikan ke SPBU yang bersangkutan," ujarnya. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads