DetikNews
Kamis 14 Februari 2019, 22:42 WIB

Hakim Ragukan Keterangan Terdakwa Suap Meikarta Bawa Nama Investor

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Hakim Ragukan Keterangan Terdakwa Suap Meikarta Bawa Nama Investor Sidang lanjutan terdakwa kasus suap Meikarta, Henry Jasmen, di PN Bandung, Kamis (14/2/2019). (Dony Indra Ramadhan/detikcom)
FOKUS BERITA: Sidang Suap Meikarta
Bandung - Terdakwa suap perizinan proyek Meikarta, Henry Jasmen, menyebut-nyebut nama Seno sebagai penyedia uang untuk suap perizinan Meikarta. Namun hakim dan jaksa meragukan soal nama tersebut.

Nama Seno disebut oleh Henry Jasmen saat bersaksi atas terdakwa Fitradjadja Purnama dan Taryudi di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (14/2/2019). Seno disebut sebagai investor asal Surabaya.

Nama Seno awalnya disebut saat jaksa KPK menanyakan perihal pemberian uang ke pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Barat Yani Firman, yang menjabat Kepala Seksi Pemanfaatan Ruang pada Bidang Penataan Ruang Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Pemprov Jabar.

Henry mengaku ada uang SGD 90 ribu yang diberikan kepada Yani Firman terkait penerbitan Rekomendasi dengan Catatan (RDC).

"Dari siapa uangnya?" tanya jaksa.

"Dari Seno," jawab Henry.





Jaksa meragukan keterangan Henry soal nama Seno itu. Menurut jaksa, di berita acara pemeriksaan (BAP), Henry tak pernah disebut-sebut nama Seno.

"Dari BAP saksi, saya baca tidak ada tentang Seno. BAP pertama lalu di BAP perubahan tidak ada nama Seno, di mana dituangkan?" tanya jaksa.

Namun Henry tak menjelaskan gamblang perihal nama Seno dalam BAP. Henry malah bicara soal dirinya yang merasa kasihan kepada Billy Sindoro dan Christopher Mailool.






"Waktu itu tulis penyidik dua kali menuliskan kronologi. Ketika di BAP ini saya dipindahkan ke rutan. Minggu pertama datang disidik saya menyatakan ada perubahan, ada. Perubahan itu bukan karena saya ini Pak, saya merasa berdosa ke Pak Billy dan ke Christopher Mailool. Mereka tidak melakukan apa-apa tapi terbawa," jawab Henry.

"Ada 5 BAP rentang waktu lumayan untuk berpikir. Tidak ada menyebutkan Seno. Apakah Seno ini waktu pemeriksaan saksi sebagai tersangka?" tanya jaksa.

Namun Henry tak menjawab pertanyaan itu. Hakim lantas mengambil alih pertanyaan kepada Henry.

"Selain Saudara, siapa lagi yang kenal Seno?" tanya hakim.

"Pak Fitra," jawab Henry.

"Sudahlah yang penting tadi memberikan untuk Yani ya," kata jaksa.






Nama Seno juga kembali muncul saat jaksa mencecar Henry terkait uang dari Samuel Tahir melalui Samuel Hutabarat. Menurut jaksa, berdasarkan bukti, Henry meminta duit kepada Samuel Tahir untuk menalangi biaya operasional Henry, Taryudi, dan Fitradjadja.

"Rp 110 juta benar pernah minta ke Samuel Tahir melalui Samuel Hutabarat? Untuk operasional?" tanya jaksa.

"Operasional kami kan di-back up Seno," jawab Henry.

"Jadi uang-uang operasional dari mana?" tanya jaksa.

"Dari Seno," kata Henry.

Jaksa menanyakan kepentingan Seno dalam perizinan Meikarta. Henry menjelaskan bahwa Seno merupakan investasi yang ingin berinvestasi di dekat proyek Meikarta.

"Apa urusannya Seno?" tanya jaksa.

"Seno ini investor yang mau berinvestasi," jawab Henry.

"Ada saham Seno di Meikarta?" tanya jaksa lagi.

"Tidak ada, Seno antusias mau berinvestasi dekat Meikarta," jawab Henry.

Hakim lantas ikut bicara soal Seno ini. Hakim meragukan keterangan Henry yang menyebut nama Seno.

"Seno disebutkan yang biayai izin, kepentingan apa? Kalau dia pengurus, ada sahamnya di Lippo, memberikan rumah sakit ada alasan. Ini nggak ada alasan apa-apa mau investasi," kata hakim.

"Begini saja, bahwa uang itu memang dari Seno buktikan nanti di pembelaan. Terserah Saudara. Dari keterangan saksi, nggak muncul bukti seorang pun, termasuk transfer, tanda terima, pembukuan tidak ada dari Seno. Padahal kalau uang itu, harus ada bukti, harus dipertanggungjawabkan," kata hakim.
(dir/fdn)
FOKUS BERITA: Sidang Suap Meikarta
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed