detikNews
Rabu 13 Februari 2019, 15:12 WIB

Kemenhub Undang Pakar Kaji Penerapan Larangan Pakai GPS saat Berkendara

Rolan - detikNews
Kemenhub Undang Pakar Kaji Penerapan Larangan Pakai GPS saat Berkendara Foto: Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi (tengah). Rolan-detikcom)
Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengundang sejumlah pakar transportasi untuk mengkaji penerapan larangan menggunakan GPS saat berkendara. Kemenhub menyatakan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) itu sudah tepat. Namun di sisi lain, keberadaan GPS juga dibutuhkan warga.

Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan GPS sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekarang ini sebagai salah satu pemandu untuk mencapai tujuan. Apalagi, untuk para pengemudi yang tidak tahu persis lokasi dan kondisi jalan.

"Nah itu yang sedang kita pikirkan, dan kita sudah berdiskusi dengan beberapa guru besar di ITB dan juga melibatkan pakar-pakar juga dari psikologi, kira kira kalau misalnya GPS digunakan di dalam kendaraan karena memang itu dibutuhkan dan kemudian tidak melanggar ke dalam regulasi ini, itu seperti apa pemasangannya?" kata Budi di gedung Karsa, Kementerian Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019).


Selain itu, pihaknya juga mendiskusikan dengan pakar bagaimana pemasangan GPS yang tidak mengganggu konsentrasi dan pengemudi bisa berkendara dengan wajar.

"Jadi sekarang adalah kita berharap bahwa supaya pengemudi boleh menggunakan GPS namun demikian ada catatannya di mana saat menggunakan dan siapa yang menggunakan," ujarnya.

Budi mengatakan pengemudi yang membutuhkan GPS harus meminggirkan kendaraan untuk berhenti sebentar meyakinkan jalanannya benar. Dia menekankan GPS tidak dilihat dalam keadaan mengemudi.

Jika menggunakan GPS saat mengemudi, kata Budi, pasti akan ada hambatan dan gangguan yang bisa berakibat pada aspek keselamatan. Untuk itu, GPS bisa dilihat oleh penumpang saat kendaraan melaju.

"Jadi jangan diartikan bahwa penggunaan GPS saat mengemudi tidak boleh, boleh dengan catatan yaitu tidak boleh oleh pengemudinya," ujarnya.


Budi menjelaskan ada mobil yang sudah ada GPS bawaan dari pabrik yang tidak mengganggu konsentrasi saat mengemudi, itu dibolehkan. Namun, yang di sepeda motor tidak ada GPS bawaan itu.

"Tapi sepeda motor kan tidak dibuat ada tempat buat GPS-nya dari pabrikan. Ini yang kita lakukan bekerja sama dengan pakar untuk kajian. Kita harapkan kajian itu bisa menjawab, kalau itu bisa dan tidak mengganggu, itu bisa ada perubahan regulasi. Jadi ini menarik, karena perkembangan kemajuan zaman yang tidak bisa kita lawan, tapi satu sisi regulasi sudah mengatakan demikian, ini yang menimbulkan debatable. Tapi saat ini, saat berkendara tidak boleh, sementara ini," pungkasnya.


Saksikan juga video 'Imbauan Go-Jek untuk Drivernya: Gunakan GPS Sebelum Berkendara':

[Gambas:Video 20detik]


(idh/fjp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com