DetikNews
Selasa 12 Februari 2019, 19:56 WIB

Polri Terus Koordinasi dengan Filipina Ungkap Identitas Bomber Gereja

Ibnu Hariyanto - detikNews
Polri Terus Koordinasi dengan Filipina Ungkap Identitas Bomber Gereja Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono/Foto: Nur Azizah Rizki/detikcom
Jakarta - Upaya pengungkapan identitas pelaku pengeboman Gereja Katedral di Jolo, Filipina terus dilakukan. Polri mengatakan pemerintah Filipina melakukan tes DNA terhadap potongan-potongan jenazah yang diduga pelaku hari ini.

"Labfor Filipina melakukan tes DNA terhadap potongan jenazah yang diduga pelaku itu," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Syahar Diantoro di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (12/2/2019).

Polri merupakan salah satu dari empat instansi yang dikirim Permerintah Indonesia ke Filipina untuk membantu mengungkap kasus pengeboman di Gereja Katedral itu. Namun hasil tes DNA tersebut belum diketahui.

"Hasilnya belum (diketahui)," sebutnya.





Menurut Syahar, tim dari Polri terus melakukan koordinasi dengan pihak pemeritahan Filipina terkait kasus ini.

"Tim di sana sudah lalukan koordinasi pendalaman dengan penyidik di sana," imbuhnya.

Sebelumnya, Polri mengatakan proses tes DNA mengalami kendala. Hal itu dikarenakan kondisi fisik pelaku yang hancur.

"Belum (ada hasil tes DNA). Karena, mohon maaf ya, itu bodi pelaku betul-betul hancur karena (ledakan) itu high explosive, jadi serpihan" kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, kepada wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2).

Polisi menyebut tim identifikasi harus teliti memilih potongan tubuh yang memiliki jaringan. Jika sampel DNA berhasil diidentifikasi, tahap selanjutnya adalah mencari DNA pembanding agar terungkap identitas pelaku.

Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano sebelumnya menyebut bahwa yang menjadi pelaku bom di gereja Katolik Pulau Jolo adalah WNI. Eduardo Ano menyebut pasutri tersebut dibimbing kelompok Abu Sayyaf. Dia menyebutkan pasangan itu ingin memberi contoh dan mempengaruhi teroris Filipina untuk melakukan bom bunuh diri.

Pemerintah Indonesia menyesalkan pernyataan itu. Menko Polhukam Wiranto dan Menlu Retno Marsudi meminta pemerintah Filipina untuk menunggu hasil identifikasi untuk membuktikan ada atau tidaknya keterlibatan WNI dalam insiden tersebut.
(ibh/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed