Luhut Sebut Prabowo Bohong, BPN: Kan Beliau Menteri, Jadi Bela Jokowi

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 08 Feb 2019 15:15 WIB
Foto: Ahmad Riza Patria (Tsarina Maharani/detikcom)
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyebut pernyataan capres Prabowo Subianto soal kebocoran anggaran negara sebesar Rp 500 Triliun per tahun adalah bohong. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga enggan ambil pusing dengan pernyataan Luhut.

"Pak Luhut ini sebetulnya hubungannya baik dengan Pak Prabowo. Sejak di tentara hubungannya baik. Pak Luhut tahu kualitas Pak Prabowo. Pak Luhut tahu Pak Prabowo orangnya cerdas, pinter, baik. Cuma ini kan soal politik. Hari ini Pak Luhut kan di Pak Jokowi, tapi begitu 17 April 2019 begitu menang Pak Prabowo, Pak Luhut beda lagi," ujar Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Ahmad Riza Patria saat dihubungi, Jumat (8/2/2019).


Riza mengatakan, Prabowo dan Luhut berteman baik sejak masih menjadi prajurit. Menurutnya, pernyataan Luhut tersebut dilontarkan hanya karena sang jenderal saat ini menjadi menteri Presiden Jokowi.

"Pak Luhut ini kan karena tahu Pak Prabowo, teman lama. Beliau kan jadi menteri Pak Jokowi, jadi ya bela presidennya. Nanti kalau Pak Prabowo menang, bisa jadi beda lagi, dekat-dekat lagi dengan Pak Prabowo. Apalagi Pak Luhut pengusaha. Yang namanya pengusaha kan penting dekat dengan penguasa. Namanya juga orang bisnis, orang politik," katanya.

Riza pun kemudian menjelaskan kebocoran anggaran yang dimaksud Prabowo. Jumlah sebesar itu, kata dia, berasal dari kekayaan negara yang selama ini mengendap di luar negeri.

"Pak Prabowo sering menyampaikan bahwa kekayaan negara kita itu mengalir ke luar. Karena memang selama ini yang dipahami oleh Pak Prabowo bahwa banyak sekali SDA kita yang dikelola, dieksploitasi, eksplorasi oleh pengusaha, konglomerat tapi hasilnya tidak ditanam, diinvestasikan di Indonesia. Justru diinvestasikan dan ditanam di luar negeri, termasuk di Singapura yang banyak," ujar Riza.

Padahal, kata Riza, capres nomor urut 02 itu menginginkan agar hasil kekayaan dari SDA di dalam negeri kembali ke Indonesia. Bukan malah mengendap dan diinvestasikan di luar negeri.

"Padahal Pak Prabowo berharap kan bahwa para pengusaha juga menikmati SDA Indonesia sebaiknya uangnya di Indonesia supaya kita tidak banyak ngutang di luar negeri, supaya itu diinvestasikan di Indonesia, supaya menggerakkan ekonomi. Tapi faktanya kan bocor, mengalir ke luar negeri, tidak di Indonesia. Akhirnya yang menikmati asing bukan Indonesia, padahal itu berasal dari SDA Indonesia. Pak Prabowo bahkan menyampaikan ini terjadi dari dulu sejak zaman penjajahan Belanda," tuturnya.

Riza mengatakan, sedangkan kebocoran anggaran dari sisi APBN yang dimaksud Prabowo adalah adanya penggelembungan atau mark up proyek-proyek pembangunan infrastruktur. Misalnya proyek LRT di Jakarta dan Palembang, kereta cepat, hingga jalan tol.

"Itu juga disampaikan oleh Pak Jusuf Kalla (JK) juga. Pak JK kan bilang kalau pembangunan infrastruktur harus efisien. Apalagi sekarang ada masalah biaya operasional lebih malah dari hasil yang didapatkan, itu kan jadi beban pemerintah," ujar Riza.

"Harusnya pemerintah itu kalau bangun jalan tol jangan pakai APBN. Kalau bangun jalan tol itu kan hanya dinikmati oleh segelintir orang, harusnya pakai dana swasta, atau pihak ketiga. Kan kalau pakai APBN jadi bengkak. APBN harusnya dipakai kesehatan, biar nggak kayak sekarang BPJS nunggak karena APBN banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur," sambung dia.


Sebelumnya, Luhut Binsar menanggapi pernyataan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang menyebut ada kebocoran anggaran negara sebesar Rp 500 Triliun per tahun. Luhut menyebut, pernyataan tersebut adalah bohong.

"Saya pikir berlebihan, bocor pasti memang ada yang bocor, tapi kalau dibilang berlebihan itu sama sekali tidak. Ndak betul itu, bohong itu," jelas Luhut kepada wartawan, Jumat (8/2/19).


Prabowo Sebut Duit Negara Bocor, Apa Kata Jokowi? Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]

(mae/van)