DetikNews
Jumat 08 Februari 2019, 07:21 WIB

Genderuwo, Disebut Jokowi dan Prabowo Tanpa Ditunjuk Hidungnya

Danu Damarjati - detikNews
Genderuwo, Disebut Jokowi dan Prabowo Tanpa Ditunjuk Hidungnya Jokowi dan Prabowo (Gibran dan Jordan/detikcom)
Jakarta - Baik Joko Widodo (Jokowi) maupun Prabowo Subianto menyebut-nyebut soal genderuwo. Namun keduanya sama-sama tak menunjuk hidung genderuwo itu, alias sama-sama tak berterus terang soal siapa orang yang mereka sebut sebagai genderuwo.

Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan, melihat sikap keduanya yang menghindari gaya bahasa yang terus terang. Baik Jokowi maupun Prabowo sama-sama membiarkan genderuwo tetap di ruang gelap. Ada alasan di balik sikap itu.

"Fenomena penggunaan frasa 'genderuwo", yang kini digunakan kedua capres Pemilu 2019, sesungguhnya mengacu pada konsep tertentu, yang kejelasannya masih mengambang dan butuh direka-reka, namun seakan telah disepakati acuannya, Konsep itu tidak dapat diungkapkan dengan terus-terang dengan berbagai alasan," kata Firman kepada detikcom, Jumat (8/2/2019).



Jokowi menyebut 'politik genderuwo' pada November tahun lalu, sebagai sebutan untuk gaya politik yang berpotensi merusak kerukunan masyarakat. Kini Prabowo menyebut genderuwo sebagai pemilik negara ini, genderuwo itu menyulitkannya mendapatkan akses kredit usaha dan mempermudah pihak lainnya mendapatkan layanan serupa. Keduanya sama-sama tak menyebut nama sosok yang dipersalahkan secara langsung.

"Jika disampaikan apa adanya, bisa jadi komunikasi yang terbentuk akan sangat kasar dan melukai pihak yang terlibat. Jika disampaikan terus terang bisa jadi ungkapannya jadi tuduhan yg sangat mungkin berujung pada tuntutan hukum," kata Firman.

Sikap tidak terus terang ini, pada situasi tertentu, dapat menunjukkan intelektualitas seseorang. Demikian juga dengan bermain tamsil. Gaya seperti itu juga bisa meningkatkan efektivitas berkomunikasi.



Ide abstrak tentang genderuwo mampu mewakili gagasan yang hendak disampaikan, yakni gagasan tentang sifat buruk. Genderuwo disebut-sebut tanpa ditunjuk hidungnya agar konsekuensi yang timbul bisa lebih ringan.

"Bayangkan jika gagasan itu direpresentasikan dalam tanda, simbol dan kode apa adanya. Bisa timbul huru hara. Maka dengan diwakilkan pada genderuwo, keduanya bisa menghindar, 'Ah masa bangsa maju masih percaya pada mahluk yang tidak bisa dibuktikan nyata', atau, 'Ah ini kan hanya kelakar.'," kata dia.

"Jadi mengacu pada digunakannya genderuwo, kedua capres berupaya mengambangkan makna, seraya meringankan konsekuensi risiko yang timbul," tandas Firman.



(dnu/fai)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed