DetikNews
Kamis 07 Februari 2019, 17:10 WIB

Panitia Tanggapi Keluhan Netizen yang Adiknya Gagal Daftar SNMPTN

Mochamad Zhacky - detikNews
Panitia Tanggapi Keluhan Netizen yang Adiknya Gagal Daftar SNMPTN Foto: dok. Istimewa
FOKUS BERITA: SNMPTN 2019
Jakarta - Curhat seorang kakak yang adiknya tidak bisa mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) viral di media sosial. Dalam curhatnya, sang kakak menyebut adiknya gagal mengikuti SNMPTN karena pihak sekolah tidak memasukkan status 'pertukaran pelajar', sehingga adiknya seolah tidak naik kelas.

Sang kakak menceritakan detail kronologi adiknya gagal ikut SNMPTN. Mulai saat awal pertukaran pelajar yang membuat adiknya harus cuti sekolah selama satu tahun dia ceritakan.

"Sekolah adik saya seharusnya memasukkan status 'pertukaran pelajar' pada tahun pelajaran 2017/2018. Namun sekolah justru tidak melakukan hal tsb, dan membuat data adik saya seolah tidak naik kelas. Di sinilah letak human error PERTAMA yang dilakukan sekolah cc @Kemristekdikti," tulis akun Twitter @ultravaiolence seperti dilihat detikcom, Kamis (7/2/2019).




Menurut sang kakak, pihak sekolah mendukung kebijakan cuti adiknya karena pertukaran pelajar ke Spanyol dengan memberi izin berupa surat cuti sekolah selama satu tahun. Dengan adanya kebijakan tersebut, kata sang kakak, seharusnya status akademik adiknya nonaktif dan tidak ada nilai yang dihasilkan.

"Namun sangat disayangkan ketika masa pendaftaran SNMPTN ini adik saya tidak lulus karena dianggap nilai turun (pada masa ia cuti) dan dianggap tidak naik kelas," kata sang kakak.

"Hal ini membuat saya bingung bagaimana ada nilai itu muncul dan setelah di-follow up kepada sekolahnya, pihak sekolah mengaku adanya human error yang menginput nilai pada semester ketika adik saya cuti," sambungnya.

Akibatnya, sang adik tidak bisa mengikuti SNMPTN. Bahkan, menurut sang kakak, pihak sekolah tidak membantu mencari jalan keluar.

"Saya sangat menyayangkan respons pihak sekolah yang tidak membantu akan kelanjutan masalah ini, tidak ada kejelasan terkait bagaimana bisa nilai itu muncul. Disini posisi adik saya menjadi sangat dirugikan terlepas atas segala prestasi yang sudah dicapai," sesal sang kakak.




Curhat sang kakak sampai 'ke telinga' panitia SNMPTN. Ketua Koordinator Pelaksana Teknis SNMPTN 2019 Budi Prasetyo memang memperkirakan kegagalan siswa tersebut mengikuti SNMPTN karena kesalahan dalam pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

PDSS adalah sistem informasi penyimpanan data nilai rapor siswa dalam rangka pendaftaran. PDSS ini merupakan tahap awal dalam pendaftaran SNMPT.

"Ya di PDSS, input PDSS itu," ujar Budi saat ditanya pada proses mana yang membuat siswa tersebut tak bisa mengikuti SNMPTN.

Berdasarkan situs resmi SNMPTN, pengisian PDSS merupakan kewenangan kepala sekolah atau yang beri tugas oleh kepala sekolah melakukan pengisian PDSS. Kepala sekolah atau yang ditugasi kepala sekolah mendapatkan password yang akan digunakan oleh siswa untuk melakukan verifikasi.

Meskipun diisi oleh pihak sekolah, setiap siswa bisa memverifikasi data yang diinput oleh pihak sekolah. Apabila siswa tidak memverifikasi sampai batas waktu yang telah ditentukan, data yang diisi pihak sekolah dianggap benar. Pengisian dan verifikasi PDSS dilakukan pada 4-25 Januari 2019.

Budi menyebut pengisian PDSS ini krusial. Namun panitia SNMPTN memberikan kepercayaan kepada pihak sekolah untuk melakukan pengisian PDSS dan bertanggung jawab penuh atas data yang diinput.

"Ya, (PDSS tahap) awal. Tapi kan kalau itu sudah nggak benar, nggak bisa dilanjutin," jelasnya.

"Ya. Sekali lagi begini, kita ini kan percaya kepada sekolah, ya kan, dan kita beri kepercayaan dan sekali lagi sekolah itu juga ikut bertanggung jawab dalam hal ini," Budi menambahkan.



Terkait dengan keluhan si kakak siswa di Twitter itu, Budi mengatakan pihaknya tidak dapat membantu. Sebab, apa yang diinput ke PDSS sudah tersistem.

"Mohon maaf, jadi kita itu kan melayani 2,3 juta peserta dan proses itu berjalan terus dan itu mainnya di data base sehingga nggak mungkin kita itu, nyelipkan atau melakukan offline kemudian kita itu membantu satu sekolah, satu orang dan sebagainya, nggak mungkin kita lakukan," papar Budi.

Menurutnya, kasus serupa tidak hanya menimpa satu siswa. Budi menyebut ada ratusan sekolah yang teridentifikasi menginput data yang tak wajar.

"Karena cukup banyak ada 423 itu yang.... Ya mohon maaf sekali, sebetulnya yang kita inginkan itu di dalam proses SNMPTN itu kita mempercayai sekolah, sekolah harus jujur dalam melakukan proses itu," terangnya.

Namun Budi memastikan pihaknya tak akan tinggal diam. Dia menuturkan panitia SNMPTN akan secara khusus menyurati sekolah-sekolah tersebut.

"Nanti kita akan surati sekolah-sekolah itu. (Menyurati) bahwa sekolah tersebut teridentifikasi memberikan nilai kepada siswa yang tidak wajar. Itu intinya," tutur Budi.

Budi juga mengimbau kepada siswa yang tidak bisa mengikuti SNMPTN untuk tidak berkecil hati. Siswa tersebut, imbau Budi, masih bisa mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan Ujian Mandiri.

"Ya mohon maaf saja, sekali lagi kami tidak bisa mengakomodasi, melakukan. Ya diminta saja mendaftar di SBMPTN dan mandiri, kesempatannya kan masih itu," kata Budi.
(zak/fjp)
FOKUS BERITA: SNMPTN 2019
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed