Karen Agustiawan: Di Tahanan Oksigen Sedikit, Otak Terganggu

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 07 Feb 2019 13:02 WIB
Karen Agustiawan/Foto: Ari Saputra
Jakarta - Eks Dirut Pertamina, Karen Agustiawan mengajukan surat permohonan rawat inap selama dua hari karena sakit. Majelis hakim mempertanyakan kondisi Karen yang terlihat sehat selama persidangan.

Pengacara Karen sudah mengajukan surat permohonan pada Kamis (31/1) untuk rawat inap Karen di RSPAD selama dua hari. Karen mengaku harus dirawat inap karena mengalami sakit pada bagian otak.

"Saya sering vertigo, ternyata divena pembuluh di balik otak ada penyumbatan, sehingga otak kanan saya nggak bisa kerja sepenuhnya," jawab Karen kepada hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jl. Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019).






"Tapi Anda kelihatannya sehat ya, apakah ini mendesak?" tanya hakim Emilia Djaja Subagia.

"Sudah mendesak karena sebetulnya kata dokter otak syaraf, saya harusnya dirawat Desember," ucapnya.

Emilia meminta surat rujukan dari rutan untuk memberikan izin rawat inap ke Karen. Namun pengacara mengatakan dokter rutan menyerahkan semua kepada RSPAD.

Mejelis hakim juga meminta dokter ahli syaraf yang akan menangani Karen selama dua hari dapat dihadirkan di persidangan. Sebab, hakim Emilia mengatakan perlu mempertimbangkan izin rawat inap Karen karena adanya pembantaran untuk menginap di RS.

"Sebelum saya ditahan, otak saya biasa-biasa saja, tapi dengan ada saya ditahan dengan beberapa orang di dalamnya itu, dengan oksigen yang sedikit, akibatnya otak saya mengecil," jelas Karen.






Hakim menunda putusan izin rawat inap Karen hingga tim pengacara membawa dokter beserta surat rujukan lengkap untuk memutukan permohonan izin tersebut.

Karen didakwa jaksa merugikan keuangan negara Rp 568 miliar atas investasi participating interest Blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia. Investasi Pertamina di Blok BMG dinilai jaksa melanggar prosedur investasi yang diatur dalam UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan ketentuan pedoman investasi lainnya.

Dalam surat dakwaan diuraikan Pertamina tidak memperoleh keuntungan secara ekonomis lewat investasi di Blok BMG. Sebab, sejak 20 Agustus 2010, ROC selaku operator di Blok BMG menghentikan produksi dengan alasan lapangan tersebut tidak ekonomis lagi. (zap/fdn)