detikNews
Selasa 05 Februari 2019, 13:22 WIB

Yi Jing, Biksu China Saksi Kejayaan Sriwijaya

Danu Damarjati - detikNews
Yi Jing, Biksu China Saksi Kejayaan Sriwijaya Gambar ilustrasi (Ken Ishii/Getty Images)
Jakarta - Kesaksian biksu asal China ini sangat berharga bagi catatan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Melaluinya, Sriwijaya diketahui merupakan pusat pendidikan Buddha internasional.

Biksu itu bernama Yi Jing, sering pula ditulis I Ching atau I Tsing. Dia hidup pada tahun 635 hingga 713 Masehi, alias di era Dinasti Tang. Kesaksiannya tentang Sriwijaya termuat dalam 'Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Laut Selatan' atau 'Nanhai Ji Gui Neifa Zhuan'.

Biksu Yi Jing menyebut Sriwijaya sebagai 'Shili Foshi', dan Melayu (Jambi) sebagai 'Moluoyou'. Semuanya digolongkannya sebagai kawasan 'Pulau-pulau di Lautan Selatan'. Sriwijaya adalah tempatnya beraktivitas intelektual, menyalin teks-teks Sanskerta dan Pali ke Bahasa China, demi menambah khazanah pengajaran agama Buddha di Tiongkok. Yi Jing juga menyarankan kepada semua yang hendak belajar di Universitas Nalanda India agar terlebih dahulu memperdalam ilmunya di Sriwijaya.

"Jika seorang biksu dari Tiongkok ingin pergi ke India untuk mendapatkan (ajaran) dan melafalkan (kitab asli), lebih baik dia tinggal di sini selama satu atau dua tahun dan mempraktikkan tata cara yang benar, kemudian baru berlanjut ke India Tengah," kata Yi Jing dalam bukunya itu.



Buku Yi Jing tersebut sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Biksu kelahiran Fanyang (saat ini kawasan Beijing) ini belajar agama Buddha sejak usia tujuh tahun. Dia bercita-cita untuk menuntut ilmu ke India sejak usia 20 tahun, namun keinginannya baru terwujud usai dia menginjak usia 37 tahun. Pada 671 Masehi, petualangannya dimulai. Dengan bantuan perbekalan dari pihak kerajaan, dia berangkat dengan menumpang kapal Persia di Guangdong. Pada masa itu, ada jalur pelayaran reguler Persia-India-Kepulauan Melayu-Tiongkok.

"Setelah berlayar selama 20 hari, kapal mencapai Foshi, di mana saya mendarat dan tinggal selama enam bulan, secara bertahap saya mempelajari sabdavidya (tata bahasa Sanskerta). Raja setempat memberikan saya bantuan dan mengirim saya ke Moluoyou (Melayu), yang sekarang disebut Shili Foshi," tulis Yi Jing.

Dia menginjakkan kaki pertama kali ke Sriwijaya membawa tujuan mempersiapkan diri ke India. Saat itu, teritori Sriwijaya belum mencakup Melayu. Barulah setelah dia kembali lagi dari menuntut ilmu di India, Melayu sudah menjadi bagian dari teritori Sriwijaya.

Yi Jing, Biksu China Saksi Kejayaan SriwijayaSitus Muaro Jambi (Dok Buku 'Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Laut Selatan')

Dalam perjalanannya ke India, dia berhenti di Negeri Orang-orang Telanjang (Insulae Nudorum). Ahli memperkirakan itu adalah Kepulauan Nikobar. Dia menggambarkan orang-orang di situ telanjang dan meminta barter hasil kakao dengan logam, bila kapal musafir menolak barter maka mereka akan melepaskan anak panah beracun.

Sesampainya di daratan India, Yi Jing harus menempuh perjalanan darat yang berat nan berbahaya. Karena kondisi fisiknya melemah, dia tercecer dari rombongan biksu peziarah bercampur saudagar. Dia tertangkap oleh perampok dan dilucuti pakaiannya, beruntung dia tidak dibunuh. Untuk menghindari kemungkinan terbunuh karena warna kulitnya yang berbeda dengan penduduk setempat, dia menceburkan diri ke dalam lumpur dan melanjutkan perjalanan sampai tujuan.



Rampung menempuh pendidikan di India, dia kemudian pulang. Alih-alih balik ke Tiongkok, dia memilih balik ke Sriwijaya membawa aneka literatur Buddhisme.

"Teks-teks berbahasa Sanskerta yang saya bawa mencakup lebih dari 500.000 sloka, yang jika diterjemahkan ke bahasa Tionghoa akan menjadi 1.000 jilid, dan bersama teks-teks ini, sekarang saya tinggal di Foshi (Sriwijaya -red)," kata Yi Jing.

Kesan tentang Sriwijaya

Yi Jing, Biksu China Saksi Kejayaan SriwijayaSitus Muaro Jambi (Dok Buku 'Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Laut Selatan')

Dia menyebut Sriwijaya punya banyak daerah kekuasaan. Raja-raja di kawasan Lautan Selatan banyak meyakini agama Buddha. Ibu Kota Sriwijaya disebutnya berbenteng. Untuk kegiatan pendidikan keagamaan Buddha, Yi Jing menilai suasananya sama seperti yang dia rasakan di India.

"Mereka menganalisa dan mempelajari semua mata pelajaran persis seperti yang ada di Kerajaan Tengah (Madhyadesa, India); tata cara dan
upacaranya sama sekali tak berbeda," kata dia.

Sriwijaya yang kala itu menjadi pusat pembelajaran agama Buddha punya muara sungai sebagai jalur transportasi. J Takakusu sebagai ahli dan penerjemah ke Bahasa Inggris mengidentifikasi yang ditinggali Yi Jing saat itu adalah kota yang saat ini dinamakan Palembang.



Ada cerita yang aneh tentang sungai ini. Suatu saat Yi Jing hendak menitip pesan ke koleganya di Guangzhou Tiongkok agar dibelikan kertas dan tinta, untuk dikirim ke Sriwijaya. Pesan itu ditulisnya dalam surat dan coba disampaikan lewat saudagar di kapal yang hendak berangkat dari muara sungai. Namun karena suasana awak kapal sedang terburu-buru, Yi Jing malah ikut terbawa kapal sampai pulang ke tanah Tiongkok. Padahal dokumen-dokumen hasil kerjanya selama ini masih ada di Sriwijaya. Namun di umur 55 tahunnya saat itu, dia balik lagi dari Tiongkok ke Sriwijaya, namun kali ini membawa sejumlah koleganya sebagai tenaga bantu. Jarak dari Guangdong ke Sriwijaya saat itu adalah 20 hari dengan kapal layar.

"Shili Foshi tampaknya adalah daerah yang sangat jaya di masa Yi Jing, di mana beliau mengunjungi tempat ini dua kali (tiga kali
bila termasuk kepulangan ke Tiongkok yang tak direncanakan) dan menetap sekitar 10 tahun secara total, mempelajari dan menerjemahkan teks-teks, baik yang berbahasa Sanskerta maupun Pali," tulis Takakusu berkomentar di buku itu.

Agama yang dianut mayoritas orang Sriwijaya saat itu adalah Buddha aliran Hinayana. Emas adalah barang yang relatif berlimpah di Sriwijaya dibanding di wilayah-wilayah lain yang pernah dilihat Yi Jing. Dia juga menyebut Sriwijaya dengan 'Jinzhou' atau 'Pulau Emas'. Mereka menggunakan kendi-kendi dari emas dan memiliki patung-patung dari emas.

Busana yang umum dia lihat dikenakan masyarakat berbahasa Melayu di kerajaan itu adalah sarung. Penduduk Sriwijaya juga disebutnya gemar menggunakan minyak wangi.


Tonton video: Perspektif Lily Hambali: Muslim, Liong dan Barongsai

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com