detikNews
Senin 04 Februari 2019, 16:23 WIB

Jimly: Kubu 1 dan 2 Sama-sama Islam, Tak Perlu Emosional

Farih Maulana Sidik - detikNews
Jimly: Kubu 1 dan 2 Sama-sama Islam, Tak Perlu Emosional Foto: Yulida Medistiara/detikcom
Jakarta - Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie menyoroti terpecahnya dua kubu dalam Pemilu 2019. Dia mengimbau masyarakat tak terlalu emosional karena capres-cawapresnya dari dua kubu sama-sama muslim.

"Bagi orang Islam, pastikan bahwa baik kubu 01 maupun kubu 02, dua-duanya orang Islam. Jadi nggak usah terlalu emosional. Pekerjaan kita ini masih banyak. Untuk kita, kita memerlukan estafet kepemimpinan. Yang kedua, kita memerlukan kesinambungan pembangunan, kesinambungan kemajuan," katanya di ICMI Center, Jl Warung Jati Timur, Jakarta Selatan, Senin (4/2/2019).

Jimly mengatakan terpecahnya dua kubu dalam pemilu memang tak bisa dihindarkan. Hanya, kubu yang terbelah di Indonesia, menurutnya, tidak rasional.



Dia kemudian membandingkan perpecahan kubu saat pemilu di Amerika Serikat dan Indonesia. Jimly menjabarkan, kubu di AS terbelah dengan isu rasional yang konteksnya masih dekat dengan kehidupan masyarakat. Misalnya, dua kubu di AS pada saat pemilu terbelah antara pembela buruh dan kepentingan pengusaha.

"Di Amerika, isu-isu yang membelah itu isu-isu rasional dan objektif, misalnya satu kubu itu dekat dengan Demokrat itu isu-isu perburuhan, isu-isu HAM, itu dekat dengan kubu Demokrat. Kalau kubu yang satu lagi isu perpajakan, isu pertumbuhan ekonomi yang terkait dengan kepentingan pengusaha. Maka dua kubunya itu antara kubu buruh dan pengusaha dan ini ada kaitan dengan sejarah Amerika sebelum terbentuk dia ini sudah menjadi masyarakat industrius. Maka kubu yang dekat dengan kaum buruh itulah yang tecermin dalam kubu Demokrat. Kubu yang tecermin dengan pengusaha itulah yang tecermin dalam kubu Republik," tuturnya.

Sementara itu, lanjut dia, perpecahan kubu di Indonesia ketika pemilu ini justru jauh dari kata rasional. Sebab, menurutnya, isu dua kubu yang dimainkan adalah soal keislaman dan kebangsaan. Akibatnya, menurut dia, memunculkan label kelompok anti-Islam, bela ulama, hingga bela Pancasila.

"Di sini berkaitan dengan keislaman dan kebangsaan. Nah, ini yang jadi masalah. Oleh karena itulah isu-isu yang terkait dengan pilpres ini ada 'goreng-menggoreng', dikait-kaitkan dengan kelompok ini kafir, kelompok ini anti-Islam, bela ulama, ada lagi kelompok bela Pancasila. Jadi kembali lagi isunya itu tentang Islam dan kebangsaan. Sehingga muncul ijtimak ulama mendukung para ulama menjadi cawapres, sehingga Jokowi lalu mengambil mbahnya ulama. Kan begitu," jelas Jimly.



"Jadi keulamaan itu menjadi apa gitu lo. Ini yang menjadi polarisasi tidak rasional. Nah, karena itu, kita bersyukur gitu ya. Satu, Jokowi memilih ulama menjadi calon wakil presidennya. Sebaliknya, Prabowo tidak memilih hasil Ijtimak, itu yang kalau diikuti bisa menjebak dia juga ke dalam isu Islam dan kebangsaan, walaupun dia memilih Sandi yang dekat dengan ulama. Jadi sebetulnya dua kelompok ini sama-sama bisa menjelaskan pilihan-pilihan moral untuk mengatasi isu pembelahan yang tidak rasional dari kelompok-kelompok politik di Indonesia," imbuhnya.

Jimly mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terlalu tegang menghadapi Pemilu 2019. Dia mengajak masyarakat tetap santun memberikan dukungan kepada salah satu paslon dan tidak perlu ada penolakan.

"Kita pun tidak perlu terlalu tegang memberikan dukungan ataupun menyampaikan penolakan karena kalau nanti yang kita dukung terpilih dia pun lupa sama kita. Nggak usah terlalu serius emosinya. Jadi imbauan kita kepada seluruh rakyat Indonesia janganlah terlalu baper, pemilihan umum bawa perasaan biasa saja, rasional saja, karena ini hanya cara kita memilih pemimpin. Bukan hanya presiden yang kita pilih, tapi anggota DPR dipilih," kata Jimly.



Dia juga berharap Pemilu 2019 berjalan sukses dan damai. Prediksinya, meski ada kubu yang terbelah, seusai pemilu, masyarakat akan kembali bersatu.

"Saya berani menyampaikan keyakinan saya bahwa pemilu 17 April 2019 yang akan datang aman, lancar, dan damai. Cuma yang menegangkan ini sebelumnya saja. Nah, setelah penghitungan suara, tegang lagi, kira-kira ada yang tidak puas dengan penghitungan, nanti ada demo lagi. Demo besar-besaran, boleh jadi demonya di depan ML sana," ujarnya.
(idn/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed