Utang Sabu Berujung Pembunuhan Keji Inah

Audrey Santoso - detikNews
Minggu, 27 Jan 2019 10:45 WIB
Foto: Inah korban pembunuhan di Palembang yang dibakar pelakunya (Dok FB)
Jakarta - Kasus pembunuhan keji terhadap Inah Antimurti (20) terungkap secara benderang. Inah dihabisi pacarnya sendiri, Asri Marli (30) karena dua hal. Pertama utang sabu dan kedua melawan saat hendak disetubuhi.

"Pertama, karena utang sabu Rp 1,5 juta tidak dibayar. Kedua, karena Inah ini terus melawan, saya jerat lehernya pakai kabel tembaga. Ada 30 menit belum mati terus saya pukul pakai kayu balok," ujar Asri kepada wartawan di uang Subdit Jatanras Polda Sumatera Selatan, Sabtu (26/1/2018).

Asri adalah kurir sabu. Walau berpacaran dengan Inah, dia tidak memberikan sabu kepada Inah secara cuma-cuma. Asri mengenal Inah sejak awal 2018. Sejak saat itu, pelaku menjalankan bisnis narkoba dan diedarkan di Muaraenim serta Ogan Ilir.

"Dia bilang katanya sabu dari saya itu tidak bagus, basah," kata Asri terkait alasan Inah enggan membayar utangnya.

"Banyak yang Inah bilang sambil ngomel-ngomel ke saya," sambung Asri.


Asri sempat memperkosa Inah sebelum melakukan pembunuhan. Hal itu diketahui dari kesaksian seorang teman Asri, Abdul Malik (21), yang lebih dulu ditangkap aparat karena membantu Asri menghilangkan jejak kejahatan itu.

"Saya lihat dia (Inah) main sama Asri di kamar, nggak lama terdengar dia minta tolong. Pas saya lihat Asri mukul pakai kayu balok di kamar 2 kali sampai mati," kata Abdul Malik saat ditemui di Polda Sumsel, Rabu (23/1).

Abdul Malik mengaku dirinya ditawari oleh Asri untuk menyetubuhi Inah yang sudah tak bernyawa. Abdul Malik pun tidak menolak. Setelah hasrat bejatnya tersalurkan, barulah Asri, dia dan tiga rekannya membuang mayat Inah beserta spring bed yang menjadi saksi bisu pembunuhan itu.

Abdul Malik menjelaskan Asri meminta dirinya dan tiga temannya mengangkat spring bed ke mobil pikap yang sudah ada di depan kontrakan. Kemudian Asri minta dicarikan karung. Setelah karung didapat, Asri minta dibelikan bensin eceran 4 liter.

"Itu (jasad korban) kan nggak muat dimasukkan dalam karung, jadi kami ikat. Kalau yang bakar itu Asri sendiri sama si Fery, saya nggak ikut," jelas Abdul Malik.


Selain Asri dan Abdul Malik, polisi menangkap Feriyanto (25), YG (16) dan FB (16). Keempat pelaku, kecuali Asri, ditangkap terlebih dahulu di Talang-Taling, Gelumbang, Muaraenim. Bahkan Abdul Malik dihadiahi tembakan pada kedua betisnya. Ketiga pelaku bersedia membantu karena diiming-imingi sabu gratis.

Asri sendiri, yang merupakan aktor intelektual, sempat melarikan diri dan berstatus buronan. Setelah lima hari menghilang, akhirnya dia diantar keluarganya menyerahkan diri ke Polda Sumatera Selatan.

"Saya takut ditembak, saya nggak tidur sejak pembunuhan itu. Saya 'diikuti' terus sama Inah, dia selalu ikut ke mana saja saya pergi, takut," ujar Asri saat memberi keterangan di depan polisi, kemarin.

Asri mengaku setelah membunuh Inah, dia langsung lari ke beberapa daerah muali dari Belitang, OKU Timur, Prabumulih, Lahat, Lubuklinggau, hingga kembali ke Palembang. Asri mengaku tidak tidur sama sekali dan hanya makan sekali selama pelariannya. Dia dihantui rasa takut.

"Saya nggak ada tidur, nggak ada makan. Jadi setelah bunuh Inah itu ya saya pergi naik motor terus keliling. Eh, adalah satu kali makan, itu pun makan ubi," katanya.


Inah ditemukan tak bernyawa di Desa Sungai Rambutan, Ogan Ilir pada Minggu (20/1). Saat ditemukan, kondisinya hangus terbakar dan ada jerat kawat di leher dan tangan. Mayatnya terbakar di atas spring bed.

Identitas Inah baru terungkap setelah DNA-nya dicocokan dengan DNA keluarganya. Kebetulan keluarganya mencari Inah yang menghilang sejak Sabtu (19/1) dan melapor kepada polisi.

Inah merupakan janda beranak satu. Dia baru saja bercerai dari suaminya.

(aud/jbr)