Beda Pandangan Caleg PSI Hingga PAN Soal Perbaikan Dunia Pendidikan

Dwi Andayani - detikNews
Sabtu, 26 Jan 2019 19:39 WIB
Semua Murid Semua Guru (Foto: Dwi Andayani/detikcom)
Jakarta - Perbaikan di bidang pendidikan menjadi salah satu perhatian sejumlah pihak. Acara bertajuk 'Semua Guru Semua Murid' mengajak sejumlah calon anggota legislatif melihat perubahan apa saja yang diperlukan dalam dunia pendidikan.

Inisiator 'Semua Murid Semua Guru', Najelaa Shihab mengatakan saat ini harapan terkait perubahan dan kemajuan dunia pendidikan digantungkan pada caleg-caleg muda. Dia pun bertanya gagasan para caleg muda untuk memperbaiki bidang pendidikan.


"Punya kegemesan nggak sih, pada dunia pendidikan, karena anak-anak cerita punya harapan yang tinggi akan adanya perbaikan dan perubahan. Apa sih kegemesannya ingin melakukan perbaikan?" kata Najeela dalam diskusi 'Gawat Darurat Pendidikan: 13 Juta Anak Indonesia Tidak Sekolah, Apa Rencana Kita?' di Kolega Coworking Space Tebet, Jl Tebet Raya, Jakarta Selatan, Sabtu (26/1/2019).

Caleg PSI Rian Ernest sempat menceritakan pengalamannya mengajar di daerah Kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur. Menurutnya saat ini akses menuju sekolah masih menjadi masalah yang harus diperbaiki pemerintah.

"Kalau saya pribadi, saya pernah menjadi guru SD di Rote, waktu saya ngajar di sebuah SD di antara 3 dusun. Jadi masih banyak PR pemerintah soal akses, makin ke sini makin baik. Sudah oke, tapi masih banyak kurangnya, " ujar Rian.


Selain itu, dia juga menyebut permasalahan terdapat pada kehadiran dan kualitas guru. Menurut Rian, saat ini jumlah guru sudah banyak, tetapi belum tersebar dengan baik.

"Tingkat kehadiran guru rendah. Jadi agak ironis menurut saya kalau saya lihat daftar guru banyak, tapi yang mengajar belum tentu. Gemesnya saya kualitas guru. Guru sekarang kalau tidak salah sekitar 3-4 juta. Jadi kadang-kadang secara jumlah sudah cukup ada, tapi kehadiran dan distribusi kadang-kadang kalau guru banyak tapi belum tersebar itu menjadi persoalan," ujar Rian.


Berbeda dengan Rian, Caleg PAN Faldo Maldini mengatakan kegiatan belajar mengajar di sekolah terlalu lama bagi siswa. Menurut Faldo, waktu belajar bisa dimaksimalkan selama 4 jam, sehingga gedung sekolah dapat dijadikan tempat mengajar bagi siswa yang kurang mampu.

"Menurut saya jam sekolah kita kepanjangan. Kalau bisa setengahnya saja, di-cut saja 4 jam maksimal lah. Jadi siswa bisa menemukan dirinya di luar sana. Efektivitas gedung itu kalau cuma sekolah siang, sorenya bisa mungkin untuk yang miskin," tuturnya.

Faldo juga mengatakan pemerintah butuh inovasi dalam menangani persoalan pendidikan. Ia menyoal masalah akses dan kualitas bagi para pengajar.

"Kalau menurut saya ingin ada terobosan. Karena pendidikan ini udah kayak pakai kain sarung, kalau diangkat ke atas pahanya kelihatan kalau ditarik ke bawah pusernya ngangkat. Masalah pendidikan dua ini nggak kelar-kelar," kata Faldo.


"Akses dan kualitas kita mau dapat dua-duanya. Tapi kalau hanya soal anggaran, tidak berani bikin terobosan kalau kita compare swasta dan negeri, beda lagi tuh dimensinya," sambungnya.

Sama halnya dengan Faldo, caleg Gerindra Iren juga mengatakan siswa membutuhkan waktu di luar kegiatan belajar mengajar. Hal ini agar siswa dapat menggali potensi selain di bidang akademis.

"Jam sekolah yang pernah saya alami panjang, tapi pemanfaatan yang saya rasa penting supaya potensi anak bisa digali sedemikian mungkin. Kan ada jeda waktu itu bisa dipakai untuk fokus di sana sukanya apa," ujar Iren.


Sementara itu, caleg PKPI Cakra Yudi Puta mengatakan Indonesia harus mencontoh Jepang. Khususnya untuk anak usia 3-5 tahun untuk menanamkan pendidikan saling menghargai.

"Kita bisa mencontoh Jepang mereka punya prinsip jadi orang baik sebelum jadi orang pintar. Kita jadi tumbuh menjadi orang yang menyayangi sesama, menyayangi lingkungan. Itu hal-hal yang harusnya bisa kita tanamkan sejak dini," ujar Cakra. (dwia/tsa)