Remisi Pembunuh Wartawan Bali Jadi Kontroversi

Ray Jordan, Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 23 Jan 2019 22:33 WIB
Ilustrasi (Dario Pignatelli/Reuters)
Jakarta - Potongan hukuman (remisi) untuk I Nyoman Susrama, memicu kontroversi. Susrama, yang merupakan otak pembunuhan wartawan Radar Bali, mendapatkan remisi dari seumur hidup menjadi 20 tahun penjara.

"Yang jelas bukan grasi, itu remisi perubahan hukuman dari pidana seumur hidup menjadi 20 tahun," kata Kepala Rutan Bangli Made Suwendra ketika dihubungi detikcom, Selasa (22/1/2019).


Dia mengatakan Rutan Bangli hanya meneruskan permohonan remisi hukuman yang diajukan Susrama. Suwendra mengatakan salah satu pertimbangan dikabulkannya permohonan ini adalah Susrama dinilai berkelakuan baik selama menjalani masa pidananya.

"Pertama, dia kan selama menjalani pidana berkelakuan baik, berkontribusi, aktif, dan produktif mengikuti kegiatan pembinaan. Kemanusiaanlah berdasarkan pada kewenangan Presiden," terang Suwendra.


Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar menyesalkan remisi ini. AJI Denpasar menganggap remisi ini mengancam kemerdekaan pers.

"Pemberian potongan hukuman oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) terhadap I Nyoman Susrama yang menjadi otak pembunuhan wartawan Radar Bali, Jawa Pos Group, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, adalah langkah mundur terhadap penegakan kemerdekaan pers," kata Ketua AJI Denpasar Nandhang R Astika dalam keterangan tertulis, Selasa (22/1/2019).

AJI Denpasar awalnya menilai vonis seumur hidup untuk Susrama sebagai angin segar bagi kemerdekaan pers dan penuntasan kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia. Pasalnya, selama ini kasus kekerasan terhadap jurnalis di Tanah Air belum diungkap tuntas dan diberi hukuman berat.


Nandhang mengenang tak mudah mengungkap kasus tersebut. Pemberian remisi ini sangat disesalkan dan dinilai sebagai langkah mundur. Oleh karena itu, AJI Denpasar menuntut agar pemberian grasi kepada otak pembunuhan AA Gede Bagus Narendra Prabangsa dicabut atau dianulir.

Terkait remisi ini, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menjelaskan pertimbangan pemotongan hukuman tersebut. Laoly mengatakan remisi diberikan kepada Susrama atas dasar pertimbangan usia yang sudah lanjut.

"Pertimbangannya, dia hampir sepuluh tahun, sekarang sudah sepuluh tahun di penjara. Jadi prosesnya begini ya, itu remisi perubahan, dari seumur hidup menjadi 20 tahun. Berarti kalau dia sudah 10 tahun tambah 20 tahun, 30 tahun. Umurnya sekarang sudah hampir 60 tahun," kata Laoly di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1/2019).


Laoly mengatakan remisi yang diberikan kepada Susrama bukan yang pertama diberikan kepada napi. Dia mengatakan remisi itu diberikan dengan payung hukum Keppres 174/1999 tentang Remisi.

Laoly menegaskan keputusan pemberian remisi tersebut bukan kebijakan politis. Pemberian remisi, menurutnya, atas dasar pertimbangan kapasitas lapas tempat Nyoman ditahan.

"Jadi jangan melihat sesuatu sangat politis. Jadi dihukum itu orang tidak dikasih remisi, nggak muat itu lapas semua kalau semua dihukum, nggak pernah dikasih remisi," katanya.

Diketahui, kasus pembunuhan ini terjadi pada 2009. Susrama, yang merupakan adik pejabat Bangli, membunuh wartawan bernama Prabangsa terkait kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan. Mayat Prabangsa ditemukan di laut Padangbai, Klungkung, pada 16 Februari 2009 dalam kondisi mengenaskan. (jbr/nvl)