Memahami Bunuh Diri, Isu yang Sempat Diangkat Prabowo

Memahami Bunuh Diri, Isu yang Sempat Diangkat Prabowo

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Minggu, 20 Jan 2019 15:25 WIB
Prabowo Subianto (Noval Dhwinuari Antony/detikcom)
Prabowo Subianto (Noval Dhwinuari Antony/detikcom)
Jakarta - Calon presiden (capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto sempat mengangkat isu bunuh diri di Indonesia. Menurut tinjauannya, bunuh diri disebabkan oleh impitan kesulitan ekonomi. Sebenarnya, bunuh diri tak melulu disebabkan oleh masalah ekonomi.

Prabowo, dalam pidato kebangsaannya pada Senin (14/1) lalu, menyebut ada kasus bunuh diri di Grobogan, Jawa Tengah, yang disebabkan oleh beban ekonomi. Hal ini menjadi kontroversial karena kubu rival politik Prabowo membantahnya.

Selanjutnya, dia mengaku telah mendapat belasan laporan peristiwa bunuh diri, termasuk gantung diri seorang guru di Pekalongan dan seorang ibu di Gunungkidul, DIY. Ini kisah-kisah yang masuk berita, yang tidak masuk berita mungkin lebih banyak lagi, kata Prabowo dari mimbar pidatonya saat itu.



Terlepas dari kontroversi politik akibat isu bunuh diri yang diangkat Prabowo, kajian bunuh diri sudah dilakukan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Ada kelompok pegiat pencegahan bunuh diri bernama Into The Light yang berisi anak-anak muda, mengkaji isu kesehatan jiwa.

Pendiri dan Kepala Koordinator Into The Light, Benny Prawira Siauw, menjelaskan kepada detikcom soal faktor-faktor yang melatarbelakangi bunuh diri.

"Kita seolah-olah berpikir bahwa ada satu penyebab tunggal. Padahal sesungguhnya tidak demikian. Itu fallacy (sesat pikir)," kata Benny di Semanggi, Jakarta, Rabu (16/1/2019).

Memahami Bunuh Diri, Isu yang Sempat Diangkat PrabowoPendiri dan Kepala Koordinator Into The Light Benny Prawira Siauw (Adhi Indra Prasetya/detikcom)


Dia tidak sedang berbicara soal pidato Prabowo, melainkan soal isu bunuh diri secara ilmiah. Menurut suicidolog ini, bunuh diri tak pernah dilatarbelakangi satu faktor saja. Misalnya, hanya faktor ekonomi saja atau faktor kesehatan saja. Yang tampak di depan mata sebagai penyebab bunuh diri dinilainya hanya sebagai pemicu dari akumulasi pelbagai faktor.

Faktor pemicu yang nampak di permukaan bisa berupa problem ekonomi, asmara, gagal ujian di sekolah, dan lain sebagainya. Di balik itu, ada faktor risiko dan faktor pelindung. Dua jenis faktor itu saling berebut pengaruh di diri manusia, yang satu mendorong bunuh diri dan yang satu menjauhkan dari bunuh diri.



Kelompok Into The Light menyoroti risiko bunuh diri pada kaum muda. Sejauh ini diketahui, hubungan anak-orang tua turut menjadi faktor. Kondisi sosial dan psikologis yang menaungi si anak juga turut menjadi faktor.

Perundungan (bullying) dan kekerasan seksual di masa lalu bisa menjadi pendorong anggota generasi muda bunuh diri. Risiko akan meningkat bila kegiatan si pemuda dengan masyarakat kurang terjalin baik, misalnya kegiatan bersama komunitas keagamaan yang bisa menyelamatkan pemuda dari risiko bunuh diri.

Depresi menjadi faktor pendorong bunuh diri. Dia mengutip survei Kehidupan Keluarga Indonesia tahap kelima (Indonesian Family Life Survei 5th Wave). Hasilnya 21,8% responden berusia 15 tahun ke atas melaporkan gejala depresi sedang atau berat.




Depresi di Indonesia sendiri punya berbagai faktor pendorong, yakni ketidakcukupan ekonomi, pengangguran, bencana alam, konflik sosial, ketidakamanan tempat tinggal, masalah kesehatan kronis, aktivitas fisik rendah, hingga konsumsi tembakau dan penyalahgunaan zat tertentu.

Koordinator Psikolog Yayasan Pulih, Danika Nurkalista, memberikan pandangannya. Lewat konseling psikologi, dia dan yayasannya selama ini kerap menangani masalah kecenderungan bunuh diri.

Danika menjelaskan, bunuh diri selalu dilatarbelakangi oleh permasalahan kompleks. Karena tak ada jalan keluar dari masalah, maka seseorang berpikir mengakhiri hidupnya. Jelas, itu bukan solusi. Namun ada faktor yang menonjol sejauh pengamatannya sembari mencegah bunuh diri hingga saat ini.

"Seseorang yang mengalami kekerasan itu berisiko mengalami dampak-dampak depresi sampai akhirnya berpikiran akan kematian atau bunuh diri," kata Danika di kantor Yayasan Pulih, Jl Teluk Peleng Nomor 63A, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019).



Faktor yang melatarbelakangi bunuh diri antara satu orang dengan yang lain berbeda-beda, karena tiap individu punya masalah yang berbeda-beda pula. Bahkan faktor hormonal yang merupakan bawaan sejak lahir juga bisa menjadi faktor bunuh diri.

Sulit untuk kita mengambil kesimpulan bahwa orang itu masalahnya cuma satu, karena biasanya masalahnya banyak, berlapis, kata Danika.

Misalnya, satu kasus bunuh diri nampak dipicu oleh masalah pekerjaan. Namun setelah ditelusuri, ternyata ada masalah rumah tangga pula yang dihadapi si pelaku, di dalam persoalan itu ada tekanan dari lingkungan masyarakat. Semua masalah berjalin satu sama lain.

Contoh lain dari masa lalu, satu siswa SMP bunuh diri. Sekilas nampak siswa tersebut bunuh diri karena tak mampu bayar sekolah. Namun setelah dilihat lebih dalam, anak itu mendapat tekanan dari pihak sekolah, punya masalah komunikasi dengan orang tua, atau mengalami masalah kompleks lainnya.

Simak juga berita-berita lain di detikcom dengan tema masalah bunuh diri.

Untuk mengakses layanan konseling pencegahan bunuh diri, Kementerian Kesehatan mempersilakan masyarakat untuk mengakses nomor telepon gawat darurat (emergency) di 119, bebas pulsa.

Lima rumah sakit juga disiagakan Kementerian Kesehatan untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri, yakni:
1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 83240467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444

Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan , 24 jam.

(dnu/dhn)