DetikNews
Jumat 18 Januari 2019, 21:17 WIB

HNW: Prestasi Organisasi Harus Berbanding Lurus dengan Akademik

Tia Reisha - detikNews
HNW: Prestasi Organisasi Harus Berbanding Lurus dengan Akademik Foto: Nur Azizah Rizki Astuti/detikcom
Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan pelatihan berorganisasi merupakan medium untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Kendati demikian, HNW lantas mengingatkan kepada seluruh aktivis agar prestasi akademik mereka tidak menurun karena keasyikan dalam berorganisasi.

"Ingat, prestasi berorganisasi harus berbanding lurus dengan prestasi akademik. Tidak ada alasan menjadi aktivis kampus atau dakwah membuat prestasi akademik mundur. Malah sebaliknya, semestinya kegiatan berorganisasi menjadi pendorong prestasi akademik," kata HNW dalam keterangan tertulis, Jumat (18/1/2019).



Dalam acara yang digelar di ruang rapim MPR Gedung Nusantara III, kompleks MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, pada Jumat (18/1) tersebut, HNW mengungkapkan ia dulu sempat aktif di berbagai organisasi dan aktif dalam dakwah Islam. Namun kegiatan tersebut tidak mengganggu kegiatan akademiknya, bahkan prestasi akademik ia raih dengan bagus.

Hal ini dia sampaikan dalam acara "Kunjungan STID Al-Hikmah ke MPR RI" yang dihadiri para delegasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Hikmah Jakarta,

HNW juga mengingatkan, sebagai aktivis organisasi sekaligus aktivis dakwah Islam di era kekinian, anggota BEM STID harus paham bahwa aktivis dakwah Islam sekarang meneruskan segala sesuatu yang sudah diperjuangkan di masa lalu, yakni di masa perjuangan pergerakan Indonesia merdeka.

"Sebut saja peran besar para aktivis Masyumi, aktivis Islam seperti Mohammad Natsir dengan mosi integralnya kembali menyatukan Indonesia dalam NKRI dan masih banyak lagi dan semestinya peran aktivis dakwah Islam di era sekarang harus lebih baik dari mereka," tambahnya.



Sejarah perjuangan umat Islam atau aktivis Islam di masa perjuangan tersebut, lanjut HNW, mampu menjawab berbagai masalah dan pertanyaan seputar adanya dikotomi antara dakwah dan politik yang dirasakan para aktivis dakwah saat ini, yakni tentang pertanyaan berdakwah harus masuk dalam ranah politik.

HNW juga menjelaskan pola pikir umat Islam yang seharusnya adalah tidak mempertentangkan antara Islam yang aktif dalam dunia dakwah dan Islam yang aktif dalam dunia politik. Sebab, lanjutnya, berpolitik adalah bagian dari dakwah dan dakwah adalah bagian dari politik.

"Kalau yang saya pahami dalam konteks keislaman, baik pemahaman Alquran, hadis, sejarah Rasulullah, dan sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia, ternyata tidak menganut adanya pembelahan yang bersifat ekstrem. Artinya, kalau Anda berdakwah tidak boleh berpolitik dan berpolitik tidak boleh berdakwah. Yang dipentingkan adalah bagaimana membuat dakwah dan politik itu menjadi dua posisi yang sesungguhnya saling menguatkan, menguntungkan, membela, dan saling memaksimalkan potensi. Yang sangat perlu dipahami adalah dakwah memiliki nilai yang sangat penting untuk disampaikan pada berbagai pihak, termasuk politik," jelasnya.

"Dalam berdakwah harus memperhatikan lingkungan tempat nanti akan berkiprah. Hendaknya dalam berdakwah dan menyiarkan Islam tidak dibenturkan dengan kebiasaan yang sudah ada dalam masyarakat selama tidak melanggar syariat dan akidah," tandasnya.
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed