DetikNews
Rabu 02 Januari 2019, 23:46 WIB

Kapolda Papua Kritik Bupati Nduga di Australia Pasca-penembakan

Audrey Santoso - detikNews
Kapolda Papua Kritik Bupati Nduga di Australia Pasca-penembakan Kapolda Papua Irjen Martuani (Wilpret/detikcom)
Jakarta - Kapolda Papua Irjen Martuani Sormin mengkritik Bupati Nduga Yarius Gwijangge karena berada di Australia saat terjadi tragedi penembakan pekerja Trans Papua. Dia juga mengecam Bupati karena tak pernah berbicara tentang kasus ini, padahal sudah satu bulan berlalu.

"(Bupati Papua) ke Australia, saya nggak tahu (urusan apa)," tutur Martuani ketika dihubungi detikcom, Rabu (2/1/2019).

Martuani juga mengkritik Bupati Nduga yang lama berdiam diri setelah penembakan tersebut.

"Di sini semua abu-abu. Peristiwa di Nduga kemarin, memang ada yang kasih ucapan dukacita? Nggak ada," kata Martuani.



Sikap 'abu-abu' yang dimaksud Martuani adalah antara pro-NKRI dan pro-KKB. Martuani menyinggung kembali pernyataan Gubernur Papua Lukas Enembe yang meminta Polri-TNI ditarik dari Papua dan menghentikan operasi pengejaran terhadap KKB.

"Gubernur kan minta TNI-Polri pulang. (Akhirnya mendukung) itu kan setelah dikasih tahu dia salah. Bupati Nduga itu dari kejadian sampai sekarang nggak ada di lokasi, nggak muncul sampai saat ini? Apa dia peduli?" ungkap Martuani.

Menanggapi itu, Bupati Yarius mengaku berada di Australia untuk urusan keluarga. Dia juga meminta maaf kepada Polri, TNI, dan Gubernur Papua Lukas Enembe karena tak berada di Nduga saat kejadian.



"Saat peristiwa itu terjadi, saya lagi berada di Australia, lagi ada urusan keluarga, sehingga saya minta maaf kepada Gubernur Papua yang harus ikut bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Saya adalah Bupati dan itu tanggung jawab saya, bukan tanggung jawab Gubernur," tutur Yarius secara terpisah.

Penembakan para pekerja PT Istaka Karya oleh KKB pimpinan Egianus Kogoya di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, terjadi pada 2 Desember 2018. Sebanyak 17 orang menjadi korban kekejian kelompok bersenjata yang berkeras ingin memisahkan diri dari Indonesia. Mereka dieksekusi di Puncak Kabo.

Sementara itu, empat pekerja belum ditemukan hingga saat ini. Aparat Polri dan TNI terus melakukan pengejaran terhadap pelaku, namun hingga kini belum satu pun pelaku bisa ditangkap, padahal aparat telah memiliki data identitas anggota kelompok tersebut dan memetakan kekuatan persenjataan mereka.



Simak juga video 'Wiranto: Tak Ada Negosiasi dengan KKB, Mereka Sesat!':

[Gambas:Video 20detik]


(aud/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed