Angka Kejahatan di Jalur Cakung-Cilincing Jakut Tertinggi di 2018

Eva Safitri - detikNews
Senin, 31 Des 2018 18:29 WIB
Foto: Eva/detikcom
Jakarta - Jalur Cakung-Cilincing (Cacing) masih menjadi daerah rawan kejahatan di wilayah Jakarta Utara sepanjang 2018. Pemalakan dan begal masih kerap terjadi di kawasan tersebut.

"Kita masih sering dengar laporan terkait dengan pemalakan dan begal di sepanjang jalur Cilincing sampai Cakung. Ini yang masih agak tinggi," ujar Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Reza Arif Dewanto saat jumpa pers di Pos Pam Ancol, Jakarta Utara, Senin (31/12/2018).

Reza mengatakan daerah tersebut akan menjadi atensi pada 2019. Pihaknya akan berfokus memantau jalur Cacing oleh tim gabungan yang telah dibentuknya.

"Kita lakukan dan membentuk tim yang masih berjalan untuk memantau jalur tersebut untuk menurunkan terjadinya pemalakan tersebut," ucapnya.

Selain itu, minuman keras dan narkotika masih menjadi potensi tindak pidana secara umum di wilayah Jakarta Utara. Kepolisian akan melakukan upaya dengan terus menggelar operasi kewilayahan untuk memberantasnya.


"Dan kita terus membuat Operasi Cipta Kondisi dengan memberantas atau merazia miras dan narkoba di permukiman yang menjadi sumber potensi tindak pidana. Itu terutama langkah-langkah yang terus dilakukan," tutur Reza.

Reza menyebutkan angka kejahatan di wilayah Jakarta Utara pada 2018 mengalami penurunan dibanding 2017. Pada 2017 terdapat 542 kasus kejahatan, sedangkan pada 2018 menurun jadi 514 kasus.

"Kemudian kasus yang terjadi atau crime index ada 11 kasus yang menjadi atensi. Rata-rata trennya turun, baik pembunuhan penganiayaan berat, curas, curanmor, pemerasan, maupun perkosaan, rata-rata turun," sambungnya.

Sedangkan pencurian dengan pemberatan naik dari 236 kasus pada 2017 menjadi 252 kasus pada 2018. Kasus narkotika mengalami penurunan. Pada 2018 mencapai 308 kasus, sedangkan pada 2017 terdapat 481 kasus.

"Namun kualitas dari pengungkapan kasusnya (narkoba) meningkat. Ini terbukti dengan jumlah barang bukti yang bisa diamankan atau disita, seperti ganja pada 2017 itu 23 kilogram, sementara pada 2018 sebanyak 125 kilogram," katanya.

"Kemudian sabu sebelumnya 1,745 kg, tahun ini 16,155 kg. Jadi memang penanganan kasusnya turun, tetapi pengungkapan kualitas ditingkatkan. Kita berusaha tidak hanya pemain kecil saja yang kita tindak, tapi level yang lebih tinggi yang kita tindak," lanjut Reza.


(mea/mea)