detikNews
Senin 31 Desember 2018, 18:15 WIB

BNPB Catat Ada 3 Fenomena Langka di Tahun 2018

Eva Safitri - detikNews
BNPB Catat Ada 3 Fenomena Langka di Tahun 2018 Sutopo Purwo Nugroho (Eva Safitri/detikcom)
Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada tiga fenomena langka dari bencana yang terjadi pada 2018. Bencana itu terjadi secara beruntun pada akhir tahun.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan yang pertama adalah gempa yang secara berturut-turut mengguncang wilayah NTB hingga Lombok. Gempa yang terjadi secara beruntun ini dianggap sebagai hal yang aneh.


"Jadi, pada 2018 ini, ada tiga kejadian langka, yang pertama gempa yang terus-menurus. Gempa berturut-turut di NTB itu termasuk aneh dan langka. Beruntun sekali. Lombok Timur kena, kemudian geser ke barat. Masih penanganan. Tiba-tiba geser ke Lombok Utara dan sebagainya. Ternyata segmen di Flores fault terpengaruh," ujarnya saat jumpa pers di kantornya, Jalan Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Senin (31/12/2018).

Selanjutnya, gempa diikuti tsunami di wilayah Sulawesi Tengah, Palu, dan Donggala. Anehnya, ada peristiwa pergeseran tanah atau likuifaksi yang baru sekali terjadi di Indonesia.

"Fenomena kedua gempa dan diikuti tsunami dan likuifaksi, kita baru sekali itu melihat gempa yang besar dan masif. Biasanya hanya terjadi di sesar dan tanah tanah yang retak, tapi ini terjadi begitu besar, dan likuifaksi adalah likuifaksi yang terbesar di dunia," ucap Sutopo.

Lalu yang ketiga tsunami di Selat Sunda yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau sehingga terjadi longsor bawah laut. Padahal, menurutnya, erupsi yang mengakibatkan terjadinya tsunami pada 22 Desember 2018 hanya mencapai 1,5 km. Sutopo menyebut malah erupsi lebih besar terjadi pada September.

"Fenomena langka yang ketiga adalah tsunami yang ada di Selat Sunda kita tidak menyangka bahwa tsunami ternyata dibangkitkan oleh longsoran bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi kemarin tidak besar, ketinggian hanya 1,5 km, jauh lebih besar pada periode September, Oktober. Mengapa longsornya tidak terjadi pada September, Oktober ketika pada saat itu letusannya besar?" ucapnya.

Ketiga fenomena ini, jelas Sutopo, merupakan bencana yang menjadikan angka korban dan kerugian lebih besar. Minimnya sistem peringatan dini juga disebutnya menjadi faktor akan hal tersebut.

"Ya karena kita belum memiliki sistem peringatan dini keterbatasan peralatan, keterbatasan ilmu pengetahuan dan sebagainya, yang kemudian kita menyimpulkan setelah kejadian jadi tiga fenomena alam di Indonesia selama periode 2018 yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang lebih besar," ungkapnya.


Simak Juga 'BNPB Sebut Indonesia Rawan Bencana Saat Pemilu 2019':

[Gambas:Video 20detik]



(eva/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed