DetikNews
Minggu 30 Desember 2018, 16:41 WIB

Kilas Balik Detik-detik Tsunami Terjang PLTU Labuan di Sabtu Kelabu

Mustiana Lestari - detikNews
Kilas Balik Detik-detik Tsunami Terjang PLTU Labuan di Sabtu Kelabu Foto: Mustiana Lestari/detikcom
Jakarta - Sabtu malam menjadi hari yang memilukan bagi penduduk yang bermukim di sepanjang Selat Sunda. Tsunami yang menggulung nyawa dan harta menciptakan kepanikan bukan hanya kepada warga sekitar, tapi juga pekerja di PLTU Labuan, Pandeglang, Banten.

Betapa tidak, jika saja terlambat evakuasi, para pekerja ini sudah tertelan tsunami. Terlebih, pekerja di tempat bongkar-muat batu bara dan saluran pendinginan yang paling dekat dengan bibir pantai.

"Di tempat labuhan sandar tongkang itu di pinggir pantai, kondisi aman. Namun gelombang menghantam pagar, jadi ada yang roboh. Ada pipa terlepas, namun tidak ganggu operasi. Itu cukup menimbulkan kepanikan. Sempat surut, lalu air naik lagi sekitar 2 meter," kata General Manager PLTU Labuhan Zuhdi Rahmanto kepada detikcom, Minggu (30/12/2018).


Zuhdi mengakui memang gelombang tersebut amatlah besar, bahkan sampai menggeser tongkang pembawa batu bara seberat 1.500 ton. Maka langsung saja Zuhdi meminta ratusan karyawannya melakukan evakuasi, dan yang belum sempat diinstruksikan untuk naik ke lantai 9.

Kilas Balik Detik-detik Tsunami Terjang PLTU Labuan di Sabtu KelabuFoto: Mustiana Lestari/detikcom

Zuhdi memprediksi besarnya tsunami bisa terminimalkan berkat adanya Pulau Popole, yang letaknya dekat dengan PLTU ini serta pemecah ombak di sekitarnya.

"Posisinya Labuan itu ada dekat dengan Popole, yang tidak berpenghuni, itu salah satu waktu tsunami jadi penghalang ombak. Lokasinya memang cukup dekat dan biasa jadi tempat berlindung tongkang saat cuaca kurang bersahabat, ada juga pemecah ombak," sebut dia.


Kendati demikian, sejumlah cara ditempuh untuk mengantisipasi lebih dini jika ada tsunami susulan.

"Kami sudah melakukan beberapa langkah kami sosialisasikan SOP kepada karyawan sekitar 700 orang. Kami juga sudah melakukan simulasi tanggap darurat. Kami juga menugaskan operator untuk memantau gelombang di atas lantai 9 menggunakan teropong untuk menginformasikan ke control room, lalu disampaikan ke semua. Kami juga memasang level air, kami lengkapi petugas yang dekat pantai dengan jaket penyelamat. Kami juga mengaktifkan sistem alarm di lokasi," tuturnya panjang lebar.

Selepas kejadian tsunami, PLTU Labuhan pun menjadi posko darurat korban tsunami, khususnya untuk para korban pekerja PLN yang dihantam tsunami saat gathering di Tanjung Lesung.

"Dari pagi sampai malam untuk kirim bantuan dan evakuasi dengan ambulans semua dari sini. Yang sakit dan luka kita kirim pakai bis ke rumah sakit. Kami juga membantu evakuasi jenazah bersama Basarnas lewat laut," sambung dia.

Di sini pun didirikan dapur umum yang setiap hari menyuplai 1.500 nasi bungkus untuk para pengungsi, relawan, sampai petugas PLN yang bekerja sepanjang waktu selama masa darurat bencana.

PLTU Labuhan merupakan salah satu PLTU dalam program 10 ribu MW yang mulai beroperasi pada Januari 2010. Terdiri atas 2 unit, yang masing-masing bertenaga 300 MW.

PLTU tersebut terkoneksi dengan sistem kelistrikan Jawa dan Bali serta memasok listrik pelanggan di kawasan industri Cilegon serta Banten dengan menggunakan batu bara.


Simak Juga 'Ribuan Pendekar Kirim Doa dan Bantuan bagi Korban Tsunami Banten':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/mul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed