detikNews
Jumat 28 Desember 2018, 15:02 WIB

Kaleidoskop 2018

Tragedi Oktober 2018: Lion Air Jatuh di Laut Karawang

Danu Damarjati - detikNews
Tragedi Oktober 2018: Lion Air Jatuh di Laut Karawang Lokasi Lion Air PK-LQP jatuh, di laut utara Karawang, Jawa Barat. (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta - Pagi 29 Oktober 2018 diwarnai kabar mengagetkan. Pesawat Lion Air PK-LQP tersungkur di Laut Jawa sebelah utara Karawang, Jawa Barat.

Pilot Bhavye Suneja dan kopilot Harvino membawa pesawat bernomor penerbangan JT 610 itu dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.

Pesawat lepas landas pada pukul 06.20 WIB dan membawa 189 manusia, termasuk pilot, kopilot, lima pramugari, dan para penumpang. Di antara para penumpang, ada 20 orang pegawai Kementerian Keuangan, enam anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, tiga jaksa, dan seorang staf tata usaha Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung. Ada pula bapak-anak, suporter sepakbola, dan orang-orang yang sangat dicintai keluarganya di dalam pesawat.

Pukul 06.22 WIB, pesawat menginformasikan ada masalah kontrol pesawat (flight control).



Pesawat ini sempat meminta balik lagi ke bandara semula alias return to base. Lembaga pelayanan navigasi penerbangan AirNav membukakan jalan. Namun, pada pukul 06.32 WIB, pesawat itu hilang kontak di perairan Karawang.

"Betul bahwa pesawat Lion JT 610 mengalami lost contact. Kami telah meneruskan informasi kepada tim SAR," kata Humas Airnav Indonesia, Yohanes Sirait, kepada detikcom, Senin (29/10/2018).

Pesawat itu hilang kontak dan jatuh dari ketinggian 3.000 kaki di perairan Karawang.

Pencarian dimulai

Badan SAR Nasional (Basarnas) meluncur ke perairan Karawang begitu tahu ada pesawat jatuh di kawasan itu. Tiga kapal dan 1 helikopter dikerahkan.

Sekitar pukul 09.40 WIB, Basarnas menginformasikan telah memastikan lokasi jatuhnya pesawat. Burung besi nahas itu jatuh di kedalaman dasar laut sekitar 30-35 meter.



Saat lokasi jatuhnya pesawat disambangi untuk pertama kali, yang ditemui adalah serpihan-serpihan di permukaan.

Selanjutnya, tiga helikopter dan empat kapal milik Polri dikerahkan untuk membantu pencarian. Puluhan nelayan Karawang membantu pencarian. Di darat, puluhan ambulans disiagakan.

Tragedi Oktober 2018: Lion Air Jatuh di Laut KarawangPencarian korban Lion Air PK-LQP (Foto: dok.Reuters)

Mulai hari pertama ini, Basarnas menetapkan waktu pencarian selama tujuh hari.

"Kita melakukan upaya terbaik untuk menemukan dan menyelamatkan korban dan semoga korban segera ditemukan. Saya merasakan kegelisahan yang mendalam dari semua keluarga korban, namun kita berharap keluarga korban bisa tenang menunggu tim SAR yang bekerja keras di lokasi kejadian," kata Presiden Jokowi di BNDCC, Nusa Dua, Bali, hari itu.


Kantong-kantong jenazah diangkat membawa bagian-bagian tubuh korban, dibawa ke Pelabuhan Tanjung Priok dan diteruskan ke RS Polri Kramat Jati.

"Prediksi saya itu sudah tidak ada yang selamat. Karena korban yang ditemukan saja beberapa potongan tubuh saja sudah tidak utuh," kata Dirops Pencarian dan Pertolongan Basarnas Brigjen Marinir Bambang Suryo Aji di kantornya, Kemayoran, Jakarta Pusat, di hari pertama pencarian, sore hari. Basarnas menggelar pencarian 24 jam.

Mencari Kotak Hitam

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengerahkan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I. Kapal ini punya alat untuk mencari kotak hitam, baik CVR (cockpit voice recorder) maupun FDR (flight data recorder).

Ada Multi Beam Echo Sounder yang berfungsi melakukan pemetaan biometri dalam laut. Kedua adalah Side Scan Sonar. Prinsip alat ini serupa dengan Multi Beam Echo Sonar, namun memiliki jangkauan dan berfungsi untuk melakukan pemetaan yang lebih tajam. Ketiga adalah Megato Meter atau alat deteksi logam.



Keempat adalah Remote Operated Vehicle (ROV). Alat ini berupa kendaraan bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh, untuk menampilkan gambar video secara langsung dari dasar laut. Dengan alat ini, pencarian sebuah objek di dasar laut akan lebih cepat dilakukan.


Tragedi Oktober 2018: Lion Air Jatuh di Laut KarawangKepala Basarnas M Syaugi memegang kotak hitam jenis FDR (Pradita Utama/detikcom)

Pada 30 Oktober, pencarian diperluas hingga ke Indramayu karena arus air laut bergerak ke timur. Sebanyak 854 personel gabungan dari Basarnas, TNI/Polri, dan sukarelawan masyarakat yang dikerahkan dari Posko Pantai Tanjungpakis, Karawang

FDR ditemukan

Pada 1 November 2018 sekitar pukul 10.30 WIB, ping detector berhasil menangkap sinyal kotak hitam di sekitar 400 meter dari kontak terakhir pesawat pada koordinat 05 derajat 46 menit 15 detik selatan-107 derajat 07 menit 16 detik timur dengan kedalaman 32 meter. FDR ditemukan. Alat ROV diturunkan untuk memastikan objek di dasar laut itu.

Selanjutnya, Tim Penyelam Batalion Intai Amfibi TNI AL Sertu Hendra memastikan FDR telah ditemukan. Alat berisi rekaman data penerbangan itu diangkut penyelam dan dipindahkan ke KR Baruna Jaya milik BPPT untuk dibawa ke Tanjung Priok.



Tinggal CVR yang belum ditemukan. Tim SAR terus menggunakan ROV untuk mencari benda yang merekam data percakapan pilot dan para awaknya.

Hingga hari ke-7, yakni 4 November 2018, badan utama (main body) pesawat belum juga ditemukan. Yang ada hanyalah serpihan, roda, dua turbin pesawat, dan bagian-bagian lainnya yang tercerai berai.


Penyelam gugur saat bantu evakuasi

Seorang penyelam gugur dalam proses pencarian Lion Air. Penyelam itu bernama Syachrul Anto, meninggal pada 2 November 2018. Nyawa Syachrul tak tertolong saat dilarikan ke RSUD Koja.

Syachrul Anto ternyata bukan penyelam yang ikut evakuasi kali ini saja. Dia sudah pernah ikut misi pencarian AirAsia, dan kali ini baru saja pulang dari Palu yang dilanda gempa-tsunami. Namun dalam misi di laut Karawang, dia terkena dekompresi.

Tragedi Oktober 2018: Lion Air Jatuh di Laut KarawangSyachrul Anto (Facebook Syachrul Anto)

Pada 7 November 2018 alias hari ke-10 pencarian, Basarnas memperpanjang evakuasi selama tiga hari ke depan. Fokus pencarian adalah menemukan jasad korban.



Sabtu, 10 November 2018, Basarnas menghentikan pencarian. Total ada 196 kantong jenazah yang dievakuasi. Meski begitu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih melanjutkan pencarian CVR. Tim Disaster and Victim Identification (DVI) Polri juga terus melakukan identifikasi jenazah korban, hingga 23 November dipastikan yang bisa diidentifikasi ada 125 jenazah korban.


Pesawat baru tapi bermasalah

Pesawat Lion Air PK-LQP ini adalah pesawat Boeing 737 MAX 8. Ini adalah pesawat anyar, baru masuk Lion Air pada Agustus 2018. Pesawat itu telah mengantongi 800 jam terbang.

Namun ternyata pesawat ini sudah mengalami masalah sejak sebelum kecelakaan, yakni saat penerbangan dari Denpasar ke Jakarta, dan akhirnya jatuh pada 29 Oktober 2018. Itu menjadi kecelakaan pertama Boeing 737 MAX 8. Diketahui pula, Lion Air itu mengalami kerusakan airspeed indicator dalam empat penerbangan terakhir, sejak 27 Oktober.

Pada penerbangan Denpasar-Jakarta, 28 Oktober 2018, pesawat itu mengalami 'hidung pesawat otomatis turun'. Pesawat itu kemudian diperbaiki dan digunakan lagi pada 29 Oktober 2018 dan mengalami kecelakaan.



Soal pesawat ini, Boeing disebut menyembunyikan informasi penting soal potensi bahaya fitur kontrol penerbangan di Boeing 737 MAX 8, jenis yang sama dengan yang jatuh di perairan Karawang, 29 Oktober. Dilansir CNN, Rabu (14/11/2018) yang mengutip Wall Street Journal, pakar keamanan yang terlibat dalam investigasi jatuhnya PK-LQP itu menghimpun keterangan dari sejumlah pilot.

Di pesawat itu dilaporkan ada automated stall-prevention system, fungsi sebenarnya untuk membantu awak pesawat terhindar dari kekeliruan mengangkat hidung pesawat terlalu tinggi. Namun, saat dalam kondisi tidak biasa, fitur itu dapat mendorong pesawat secara tidak terduga dan sangat kuat sehingga awak pesawat tidak bisa menariknya kembali.


Saksikan juga video 'Keluarga Korban Lion Air Napak Tilas ke Lokasi Jatuhnya PK-LQP':

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed