detikNews
Rabu 19 Desember 2018, 15:39 WIB

Hutan Taman Nasional Jambi Kian Tergerus Jadi Tambang-Kebun

Ferdi - detikNews
Hutan Taman Nasional Jambi Kian Tergerus Jadi Tambang-Kebun Ilustrasi (dok.detikcom)
Jambi - Maraknya perambahan hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Jambi sudah menjadi permasalahan menahun yang sulit teratasi. Perambahan hutan secara ilegal membuat hutan lindung di Jambi itu sudah kian tergerus.

Hutan di TNKS Jambi yang merupakan hutan kawasan konservasi tersebut kini juga telah dialih fungsikan sebagai lahan pertanian, perkebunan, serta pertambangan.

"Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) merupakan kawasan hutan tropis penting dunia. Dari data yang dimiliki ada sekitar 436 desa yang berbatasan langsung dengan hutan TNKS di Jambi itu. Untuk dapat menyelamatkan ekosistem bentang alam Kerinci Seblat tersebut. Berbagai pihak harus mengambil peran sesuai dengan keahlian dan kemampuan yang dimiliki," kata Direktur Pundi Sumatera, M Sutono saat menghadiri Workshop membangun sinergi para pihak TNKS,TNBT,TNBS yang lestari dan berkelanjutan, di Hotel O2 Weston, Jalan Gatot Subroto, Kota Jambi, Rabu (19/12/2018).

Luas areal skema perhutanan sosial yang berhasil difasilitasi meliputi tiga wilayah antara Jambi, Sumatera Barat (Padang) dan Bengkulu. Untuk total luasan 71.702 hektar dalam bentuk Hutan Desa dan Hutan Adat berada di tiga kabupaten diantaranya, Kabupaten Solok Selatan,(Sumbar). Kabupaten Merangin dan Bungo Jambi.

Kemudian untuk Hutan Kemasyarakatan serta Hutan Rakyat yang diusulkan seluas 3.262 hektar berada di Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, dan Kepahiang.

"Selain perambahan hutan untuk dijadikan lahan pertanian, perkebunan serta pertambangan, kencangnya isu pembangunan jalan di dalam kawasan TNKS, harus ada upaya advokasi disana, untuk mendorong kebijakan dalam rangka menolak pembangunan jalan tersebut, yang tertuang Surat Men-HUT N0: S.269/iv-KKBHL/2015," ujar Tono begitu sapaannya.

Selain Jambi dan Sumbar, Provinsi Bengkulu juga salah satu wilayah yang masuk dalam landscape TNKS itu. Ancaman perambahan dan pembalakan serta pembukaan hutan untuk kepentingan pertambangan terus tinggi. Dimana, perlu berbagai kebijakan yang didorong.

"Ini sebuah pekerjaan berat dengan banyak kendala dan rintangan, maka dari itu perlu kerja kolektif. Tidak bisa sendiri-sendiri, kita bicara TNKS saja ada di empat provinsi dan ratusan desa penyangga. Kalau berharap pemerintah saja, tentu mustahil bisa diselamatkan. Butuh kesadaran dan niat baik bersama, terutama masyarakat," jelasnya

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS) menjadi ikon hutan konservasi yang tersisa saat ini.

"Perambahan menjadi masalah yang dirasakan sama di tiga lokasi tersebut. Kondisi ini mengancam kelestarian ekosistem kawasan. Jika masalah perambahan hutan ini dibiarkan, maka bisa saja TNKS yang berupa hutan Konservasi berubah menjadi taman nasional kopi, taman nasional kentang segar, serta taman nasional kol," kata Kabid TU TNKS Jambi, Rusman berkelakar.

Ia menyebutkan, dari data yang dimiliki Dinas Kehutanan Provinsi Jambi menunjukan bahwa perlunya perluasan kawasan hutan seluas 105 juta hektar, agar keseimbangan ekosistem dapat terpenuhi di Provinsi Jambi.

"Selain perambahan untuk perkebunan dan pertanian. Pembukaan jalan juga menjadi pintu masuk untuk melegalkan aktifitas perambahan yang sudah terjadi. Kalau ada usulan jalan, itu disinyalir sudah ada perambahan yang telah terjadi, maka hati-hati ya, dengan usulan di kawasan hutan konservasi," ungkapnya.

Sementara dari Hasil Evaluasi IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) yang merupakan sebuah organisasi international. Tahun 2006 menunjukkan, ada beberapa kegiatan sedang mengancam kawasan hutan di bentang alam TNKS Jambi itu. Pembalakan liar, perburuan, perambahan, rencana pembuatan jalan dan pengambilan hasil hutan yang tidak terkontrol telah terjadi di hutan lindung TNKS Jambi tersebut.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed