Dear Caleg, Mau Menang Pemilu? Ini Tips dari Pakar Periklanan

Mustiana Lestari - detikNews
Kamis, 13 Des 2018 16:11 WIB
Foto: shutterstock
Jakarta - Bukan cuma para caleg, dunia periklanan pun siap menyambut tahun politik. Menurut pakar periklanan sekaligus General Manager Media Agensi Vizeum Aloysia Dian Anggraeni mengatakan kampanye caleg akan jauh lebih efektif melalui iklan digital, salah satunya media sosial.

"Digital memang efektif bisa lebih cepat daripada breaking news TV. Namun penyetiran konten harus lebih hati-hati karena masyarakat Indonesia apa-apa di-share dan di-foward, salah nanti bisa jadi bumerang makanya harus hati-hati," jelas Aloysia kepada detik.com di kantor Dentsu Aegis Network, Menara Sentraya, Jakarta, Kamis (13/12/2018).



Dia juga menuturkan, untuk menetapkan startegi konten harus dilihat terlebih dahulu sasaran publiknya. Dengan demikian bisa disesuaikan tempat dan kreatif konten yang bisa dibuat. Misalnya, jika ingin menggaet milenial para caleg ataupun partai jangan menampilkan iklan yang berisi janji-janji kampanye terlebih dahulu.

"Kalau mau awareness ke pemilih baru ngomongin janji nggak penting, yang penting itu kesadaran terlebih dahulu kalau ada partai tersebut," sambung Aloysia.

Treatment yang berbeda harus dilakukan para caleg dan partai jika ingin membujuk masyarakat untuk berpindah pilihan.

"Kalau supaya beralih, kita harus tampilkan bedanya apa sih partai ABCD dengan partai JKLM, bukan soal pemilihannya tapi bedanya visi misi serta bentuk content creativenya," lanjut Aloysia.



Aloysia menjelaskan, iklan juga bisa digunakan para caleg maupun partai politik untuk menangkal hoax dan berita negatif. Namun lagi-lagi kemasannya harus diperhatikan serta tidak bisa hanya mengandalkan iklan digital semata.

"Sampai sekarang sih masyarakat kita cenderung melihat TV atau koran masih ada sense percaya lebih tinggi, digital malah banyak dipertanyakan. harus ada dua sisi yang bekerja," tandas dia.

Sementara itu, tak bisa dipungkiri kontestasi politik diprediksi juga turut mempengaruhi tren periklanan di Indonesia. Menurut Country CEO Maya Watono hal ini akan sama kondisinya dengan situasi ekonomi yang kurang baik belakangan ini.

"Situasi politik selama periode kampanye, pemilihan legislatif, dan pemilihan presiden menjadi pertimbangan untuk para pemasang iklan untuk tetap beriklan atau cenderung wait and see," ujar Maya.
(mul/mpr)