Di acara itu, para kiai dan ustazah yang datang dari berbagai pelosok desa di Malang ini, punya keluhan yang sama. Peningkatan kesejahteraan dan ekonomi dianggap masih jauh. Harga-harga kebutuhan pokok yang naik tidak seimbang dengan penghasilan yang mereka dapatkan. Sebagaimana curhat guru ngaji Srihandayani dari Desa Bareng.
"Dulu kami masih dibantu dengan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), ini sangat membantu, namun dana itu distop bagi tempat pendidikan yang tidak punya surat yayasan dari Kementerian Hukum dan HAM. Kalau sebulan ditotal hanya Rp 224.000 Pak," jelas Sri di hadapan Sandi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan wakil gubernur DKI ini, mengaku prihatin dengan curhatan para tokoh agama kampung ini.
"Banyak hal yang harus diperbaiki. Terutama kebijakan pada guru-guru ngaji yang punya keikhlasan dan keinginan memperkuat rohani anak bangsa. Insya Allah saya tampung aspirasinya. Kami akan mensejahterakan guru ngaji dan kiai. Kami akan bikin One Kyai for One Center Enterpreneurship, satu kiai dengan satu pusat pelatihan wirausaha. Jadi desa bisa mandiri, guru ngaji juga punya penghasilan lebih," terang Sandi.
Ini, lanjut Sandi, juga menjawab keluhan Habib Salim Assegaf. "Masalah energi ini juga harus ada solusinya. Bangsa ini kaya dengan sinar matahari. Sudah harus kita pikirkan untuk swasembada energi surya dengan membatasi energi fosil. Energi yang terbarukan," terang Sandi.
Calon wakil presiden nomor urut 02 jbu menyatakan, seandainya mendapatkan amanat melayani masyarakat Indonesia, bukan hanya ingin menciptakan swasemba pangan, air, tapi juga swasembada energi dan di mulai dari desa.
Selanjutnya, Sandi juga menyatakan, bersama Prabowo Subianto akan menggerakkan ekonomi rakyat. Kebijakan ekonomi yang menciptakan dan menyediakan lapangan kerja serta membuat harga-harga kebutuhan bahan pokok terjangkau dan stabil. (idr/prf)










































