DetikNews
Selasa 27 November 2018, 12:25 WIB

Hanura Ragukan Klaim-klaim Djarot soal Ahok

Elza Astari Retaduari - detikNews
Hanura Ragukan Klaim-klaim Djarot soal Ahok Ketua DPP Partai Hanura Benny Rhamdani. (Vino/detikcom)
Jakarta - Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menyebut Basuki T Purnama (Ahok) ingin masuk ke partainya. Hanura mengkritik pernyataan Djarot soal Ahok.

Informasi mengenai Ahok ingin masuk PDIP terlontar saat Djarot memberikan arahan saat konsolidasi PDIP di Yogyakarta. Mantan pengganti Ahok di kursi DKI-1 itu mengaku bertemu dengan Ahok, yang kini masih menjalani masa hukuman penjara di Rutan Mako Brimob, Depok.

Djarot pun mengungkap sejumlah hal yang menurutnya disampaikan Ahok. Dari Ahok meminta Ahokers tidak golput hingga meminta agar memilih Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019. Untuk hal ini, Hanura percaya.

"Kalau soal Ahok ingin masuk PDIP, bisa benar. Itu kita hormati sebagai hak politik Ahok," ungkap Ketua DPP Hanura Benny Rhamdani kepada detikcom, Selasa (27/11/2018).


Meski begitu, Hanura meragukan sejumlah poin yang disebut Djarot disampaikan Ahok. Seperti soal Ahokers diminta memilih PDIP dan klaim Ahok mengatakan hanya PDIP yang membelanya ketika menghadapi kasus penistaan agama saat Pilgub DKI 2017.

"Diragukan kebenarannya atau bohong mengenai pernyataan Ahok meminta Ahokers memilih PDI Perjuangan, Ahok mengatakan bahwa PDI Perjuangan yang berada di garis depan dan paling pasang badan menghadapi kelompok yang melawan Pancasila, mencaci dan memaki," jelas Benny.

Hanura juga tidak percaya Ahok menyatakan hanya PDIP yang paling depan membelanya ketika eks Gubernur DKI itu dihina. Menurut Benny, pernyataan tersebut baru bisa terbukti bila keluar dari Ahok langsung.

Benny pun menyoroti pernyataan Djarot mengenai Ahok. Ia menilai Ahok dijadikan alat 'jualan' kampanye PDIP menjelang Pileg 2019.

"Tapi saya yakin bahwa 3 hal itu hanya klaim yang motifnya untuk kepentingan pemilu. Tapi itu cara yang tidak etis untuk dilakukan," katanya.

Hanura tak terima bila Ahok hanya diklaim satu partai. Benny mengingatkan bukan hanya PDIP yang mendukung dan membela Ahok di Pilgub DKI, termasuk ketika kasus penistaan agama menjadi kontroversi kala itu.


"Ahok itu sudah menjadi milik banyak orang, barisan kaum nasionalis, bahkan agamis. Yang tidak hanya ada di PDI Perjuangan. Tapi ada di setiap partai pendukung di Pilkada DKI. Ahok pun sadar itu," sebutnya.

Saat Pilgub DKI 2017, Ahok-Djarot maju sebagai petahana. Mereka diusung dan didukung PDIP, Golkar, NasDem, Hanura, dan PSI. Pada putaran kedua, PPP dan PKB ikut bergabung setelah pasangan yang mereka usung, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni, tersingkir.

"Jadi klaim Djarot itu bisa merusak hubungan Ahok dengan para pendukungnya di luar PDI Perjuangan. Merasa pengen jadi pahlawan sendiri bagi Ahok," ucap Benny.

Anggota DPD RI ini pun meminta Djarot dan PDIP menghentikan klaim-klaim soal Ahok itu. Benny juga meminta Djarot meminta maaf kepada Ahokers di luar PDIP.

"Bahkan kalau motifnya untuk kepentingan Pemilu 2019, apa yang disampaikan Djarot juga bisa merusak soliditas partai koalisi yang sedang menghadapi agenda penting Pilpres 2019," tuturnya.

Di Pilpres 2019, partai pengusung/pendukung Ahok masih satu koalisi untuk memperjuangkan Jokowi-Ma'ruf. Hanura berharap semua partai Koalisi Indonesia Kerja bisa saling menghormati.

"Jangan rusak soliditas partai pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin, yang partai-partai tersebut menjadi pendukung juga Ahok di Pilkada DKI," ungkap Benny.

"Lebih baik kita fokus, bahwa Pilpres 2019 adalah 'pilpres perang ideologi' yang akan menjadi pertaruhan eksistensi ideologi Pancasila dan NKRI," sambungnya.

Sebelumnya Djarot mengatakan Ahok menyatakan ingin masuk PDIP bila ia akhirnya kembali ke ranah politik. Ahok pun disebut punya alasan ingin bergabung dengan partai pimpinan Ketum Megawati Soekarnoputri tersebut.

"Karena yang berani betul di garis depan, ketika ada yang melawan Pancasila, ketika ada yang menghina seseorang warga negara, mencaci, membenci, dan sebagainya, yang berani paling depan adalah PDI Perjuangan. Ini betul. Makanya dia bilang, 'kalau nanti saya masuk politik, saya akan pasti masuk PDI Perjuangan'," ucap Djarot di Sleman, DIY, Senin (26/11).
(elz/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed