DetikNews
Senin 26 November 2018, 12:25 WIB

Cerita Desa Sibangkaja yang Jadi Kampung Jalak Bali

Raras Prawitaningrum - detikNews
Cerita Desa Sibangkaja yang Jadi Kampung Jalak Bali Foto: Dok. Pertamina
Jakarta - Satwa endemik Indonesia, burung Jalak Bali, pernah menyandang predikat burung yang hampir punah. Faktanya, burung yang dikenal dengan nama jalak putih atau curik ini pada tahun 90-an hampir punah karena maraknya perdagangan ilegal.

Pada masa itu, harga satu ekor Jalak Bali bisa mencapai puluhan juta. Hal tersebut membuat populasi Jalak Bali yang tadinya ada sekitar 900 ekor pada tahun 1912 hanya tersisa 50 ekor. Kerusakan habitat Jalak Bali akibat manusia pun turut andil dalam penurunan populasi burung ini.

Perlu diketahui, jumlah populasi Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat pada tahun 1990 diperkirakan hanya berjumlah 13 ekor. Sementara hasil inventarisasi pada Oktober 2008 yang dilakukan para Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Bali Barat menyebutkan jumlah sebaran Jalak Bali hanya mencapai 30 ekor.

Untuk melestarikan populasi burung cantik tersebut, dibentuklah konservasi Jalak Bali di Desa Sibangkaja, Kabupaten Badung, Bali. Bermodalkan 18 ekor pada tahun 2015, kini jumlah Jalak Bali di penangkaran telah mencapai 45 ekor.


Program yang didukung CSR Pertamina di Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Ngurah Rai ini berkontribusi terhadap peningkatan populasi Jalak Bali di dunia sebesar 10%. Dalam penangkaran itu terdapat peningkatan 150% populasi Jalak Bali dari dimulainya program konservasi hingga saat ini. Hal ini juga yang menjadikan Desa Sibangkaja dijuluki Kampung Jalak Bali. Konservasi tersebut membuat desa ini ramai didatangi wisatawan maupun pelajar.

"Dari Pertamina, dukungan yang luar biasa buat kita, untuk pembangunannya, fasilitasnya, dan semua dukungannya termasuk masyarakat kita juga dibantu untuk pengerjaan program ini. Pengunjung yang ada di Sibangkaja, mulai dari murid-murid dari lokal bahkan dari tamu-tamu banyak yang antusias dan peduli sekali tentang apa yang kami lakukan," ujar I Nyoman Madia salah satu warga yang turut berpartisipasi dalam melestarikan Jalak Bali dalam keterangan tertulis Pertamina, Senin (26/11/2018).

Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa juga mengakui adanya konservasi ini telah membantu mengembangkan populasi Jalak Bali di daerahnya. Ia juga berharap konservasi ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan Jalak Bali.

"Jalak Bali yang dulu tumbuh berkembang begitu pesat di Bali Barat sekarang ini sudah semakin punah. Inisiatif masyarakat bersama Pertamina ini membangkitkan kembali dan menyadarkan kita bersama untuk mencoba kembali menumbuhkembangkan Jalak Bali," ujar Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa.

Program konservasi Jalak Bali telah berjalan sejak 2015 beragam cara pun dilakukan untuk realisasinya, mulai dari pembentukan kelompok, pelatihan, pembangunan, upskilling, dan beragam inovasi.

Program ini berawal dari pecinta burung yang ada di lingkungan Desa Sibangkaja. Kemudian dibentuklah kelompok yang diberikan pelatihan dan dibuatkan kandang di rumah masing-masing kelompok. Ini agar mereka dapat mengaplikasikan materi yang diberikan sehingga dapat merawat dan menjaga eksistensi dari Jalak Bali.

Bahkan setiap rumah di Desa Sibangkaja memelihara minimal satu pasang Burung Jalak Bali sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap satwa endemik ini. Selain itu, Pertamina turut memberikan dukungan pembangunan dan fasilitas penunjang. Salah satunya adalah membangun kandang volier untuk membantu Jalak Bali dalam bereproduksi dan melahirkan peranakan baru.

Pertamina juga menghadirkan inkubator telur yang dapat menjaga kualitas telur Jalak Bali dewasa agar meningkatkan harapan kelahiran peranakan baru. Sementara dari inovasi pakan, Pertamina mendukung pemberian pelet yang berasal dari cangkang kepiting, dedak jagung, sentrat, dedak padi, madu, dan aneka vitamin.


Sebagai informasi, cangkang kepiting yang digunakan berasal dari Kampung Kepiting yang letaknya tidak berjauhan dari lokasi Desa Sibangkaja. Cangkang Kepiting digunakan dalam campuran bahan pakan karena memiliki kalsium tinggi untuk kesehatan Jalak Bali demi menghasilkan peranakan yang baik.

Tak hanya melestarikan Jalak Bali, program CSR Pertamina juga berperan memberikan tempat edukasi bagi masyarakat, meningkatkan pemasukan ekonomi, serta membuat kelompok konservasi makin mahir memelihara Jalak Bali.

"Adanya program CSR ini, pelestarian burung Jalak Bali itu ternyata mudah. Jika kita mau berusaha untuk mengembangkannya," kata Kepala Desa Sibangkaja, Ni Nyoman Rai Sudani.

Pertamina berharap program konservasi ini dapat berkontribusi lebih banyak terhadap populasi Jalak Bali di dunia dan berjalan secara berkelanjutan agar dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan yang berada di sekitarnya.
(prf/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed