Anak Fast Food hingga Kaki Lima, Siapa Paling Semangat Antisedotan?

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Minggu, 25 Nov 2018 21:57 WIB
Foto ilustrasi sedotan (Istimewa)
Jakarta - Gerakan antisedotan plastik semakin diikuti orang-orang di Indonesia. Ada anak muda yang nongkrong di gerai restoran cepat saji, rumah makan Padang, dan warung kaki lima. Siapa yang paling semangat menempuh jalan ramah lingkungan?

Dua restoran cepat saji terkemuka, McDonald's dan KFC, sama-sama menerapkan pembatasan sedotan plastik. McD sudah memulai gerakan #MulaiTanpaSedotan sejak 12 November lalu di seluruh Indonesia. Adapun KFC menerapkan #Nostrawmovement sejak 6 Mei 2018.

Saya menyambangi gerai McD di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan pada Selasa (20/11/2018). Saat ingin meminta sedotan plastik, salah satu pramusaji langsung memberikan selebaran yang menjelaskan bahwa mereka tak lagi menyediakan sedotan plastik.



Terkait gerakan ini, para pengunjung pun mengutarakan penilaian positifnya. Fransiskus Steven (23) menyebut bahwa ini adalah langkah yang baik. Dia juga bertekad untuk menempuh gaya minum tanpa sedotan plastik untuk seterusnya. Harapannya, Indonesia akan lebih bersih dari sampah.

"Saya pribadi pasti pengin melanjutkan ya, karena saya beberapa tahun belakangan sudah dididik untuk, 'Oh yaudah saya nggak pakai plastik lagi kalau misalnya berbelanja'. Kalau gerakan ini dimulai dari pihak yang besar seperti McD, lalu menyebar ke yang lainnya, mungkin limbah plastik Indonesia yang termasuk paling banyak di Indonesia itu bisa berkurang," tutur Steven.

Pemuda di meja yang lain, Aditya Jaya (26), juga menilai pengurangan sedotan plastik memang layak diupayakan, terutama lewat restoran-restoran cepat saji yang punya kedekatan dengan kehidupan generasi muda perkotaan, kawasan yang banyak menghasilkan sampah. Namun untuk menjalankan antisedotan plastik secara total, dia tak langsung setuju. Dia merasa penggunaan sedotan perlu untuk menikmati es krim di sini.



"Kalau saya lihat minumannya dulu. Kalau misalnya saya beli teh, cola, atau air putih, tanpa sedotan masih oke. Tapi kalau saya beli minuman yang ada eskrimnya, itu susah tanpa sedotan, karena harus dicampur. Jadi tergantung minumannya ya," tutur Aditya.

Pindah restoran cepat saji, detikcom masuk ke KFC di bilangan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Ada konsumen usia 29 tahun bernama Daniel yang kami tanyai perihal gerakan antisedotan plastik.

"Bagus sih. Tapi jadinya pakai apa?" tanggapnya.

Dia merasa tak masalah bila harus minum tanpa sedotan. Namun bila memang ada sedotan di depannya, maka dia akan memakainya untuk minum. "Kalau memang disediakan sedotan ya kita pakai," ujar Daniel.

Anak Fast Food hingga Kaki Lima, Siapa Paling Semangat Antisedotan?Daniel (Ardhi Indra Prasetya/detikcom)

Ternyata anak fast food juga tak semuanya sama menyikapi gerakan antisedotan plastik. Ada yang bersemangat, ada yang santai, ada pula yang mempertanyakan cara menikmati es krim tanpa bantuan sedotan.

Saya keluar bangunan, melangkah ke tenda-tenda kaki lima. Di dalam tenda Sea Food Pak Iswanto di Jalan Cikini Raya, ada pemuda 29 tahun bernama Pratama. Bibirnya menjepit sedotan yang terhubung dengan segelas es teh. Menurut Pratama, kondisi masyarakat saat ini memang belum bisa diajak hidup tanpa sedotan plastik. Soalnya sedotan alternatif pengganti sedotan plastik belum populer.

"Kalau saat ini, belum ada pilihan yang lain. Pilihan kita apa?" gugat Pratama.

Anak Fast Food hingga Kaki Lima, Siapa Paling Semangat Antisedotan?Foto: Restoran Fastfood, Rumah Makan Padang, dan Kaki Lima soal Antisedotan Plastik. (Ardhi Indra Prasetya/detikcom)

Meski begitu, Pratama tegas menyatakan setuju bila suatu saat sedotan plastik benar-benar diganti dengan alat minum yang lebih ramah lingkungan. Soalnya, lingkungan hidup tak boleh rusak gara-gara sampah plastik.

"Saya setuju banget. Buat ke depan, buat masa depan anak-anak kita," ujar Pratama.

Saya kemudian masuk ke Rumah Makan Padang 'Indra Jaya' di sekitaran sini. Di sini ada satu pemuda 27 tahun bernama Imam Arifin. Dia bukan konsumen melainkan karyawan. Dia pribadi sependapat dengan gerakan pengurangan pemakaian sedotan plastik.

"Saya setuju," tegas Imam.



Namun untuk saat ini, rumah makan padang yang dia jaga tak menerapkan 'ideologi' antisedotan plastik. Sedotan dia sajikan bilamana yang disajikan adalah minuman es.

"Kadang kita nggak pakai sedotan juga. Jadi tergantung permintaan," kata Imam.

Anak Fast Food hingga Kaki Lima, Siapa Paling Semangat Antisedotan?Rumah makan Padang Indra Jaya (Ardhi Indra Prasetya/detikcom)

Ternyata sulit juga menentukan, apakah anak fast food, anak warung kaki lima, atau anak rumah makan padang yang paling semangat dalam hal menjalani laku antisedotan plastik. Dari segelintir orang yang saya wawancarai, jawaban yang didapat tak selalu hitam-putih, tak sekontras setuju-menolak. Namun semuanya tak ada yang menolak gerakan antisedotan plastik.

(dnu/nvl)