detikNews
Minggu 25 November 2018, 12:31 WIB

Anak Kecil Ini Pelopori Gerakan Antisedotan Plastik Lintas Benua

Danu Damarjati - detikNews
Anak Kecil Ini Pelopori Gerakan Antisedotan Plastik Lintas Benua Foto ilustrasi: ABC Australia
Jakarta - Sampah plastik menodai lautan. Bereaksi atas keadaan itu, muncul laku bertarak sedotan plastik lintas negara, lintas benua.

Gerakan antisedotan plastik dimulai pada 2011 di Negeri Paman Sam oleh seorang anak kecil. Kini gerakan itu juga mulai dilakukan di Indonesia.

Adalah Milo Cress, anak usia 9 tahun di Vermont, Amerika Serikat (AS), yang mengawali kampanye gerakan tanpa sedotan. Satu pemikiran terbersit saat dia berada di restoran.

"Saya memperhatikan ketika memesan minuman di restoran, biasanya minuman itu disajikan dengan sebatang sedotan, dan biasanya saya tak butuh sedotan," kata Milo, dilansir CNN.

Anak Kecil Ini Pelopori Gerakan Antisedotan Plastik Lintas BenuaFoto: Milo Cress, pelopor gerakan anti sedotan plastik. (Ecocycle)

Sedotan memang kecil, namun ini menambah banyak limbah plastik yang tak perlu! Dia menyatakan ada 500 juta batang sedotan digunakan tiap hari di negaranya. Demikian sebagaimana dilansir situs Eco Cycle, perusahaan pendaur ulang non-profit terbesar di AS yang kini bekerja sama dengan Milo.



Maka segera setelah itu, yakni pada 2011, mulailah dia meluncurkan proyek Be Straw Free untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik. Dia mendorong restoran-restoran untuk menawarkan ke pengunjungnya terlebih dahulu apakah butuh sedotan plastik atau tidak, dan tak lagi langsung memberikan sedotan plastik di tiap minuman yang dipesan pelanggan. Milo juga mendorong agar konsumen minum tanpa sedotan, bila mereka tak ada halangan untuk melakukannya.

Dia menjadi ikon gerakan antisedotan plastik lewat sorotan media massa. Anak ini menjadi bahan berita The New York Times, CNN, The Washington Post, The Wall Street Journal, dan Fox News. Dia diundang menjadi pembicara di berbagai konferensi hingga bertemu para pemimpin politik dan tokoh masyarakat di AS dan dunia. Meski usianya masih 9 tahun, namun dia sudah berbicara di Gedung Dewan Vermont tentang upaya mengurangi sampah plastik.

Anak Kecil Ini Pelopori Gerakan Antisedotan Plastik Lintas BenuaMilo Cress, pelopor gerakan anti sedotan plastik. (Ecocycle)

Pada 10 Agustus 2015, muncul video di YouTube tentang penyelamatan kura-kura laut yang menderita oleh sedotan plastik di lubang hidungnya. Video dibikin oleh Christine Figgener, ahli biologi laut dari Universitas Texas A&M. Video ini menjadi viral dan mengundang keprihatinan masyarakat soal bahaya limbah sedotan plastik di lautan. Para selebriti ikut mengamplifikasi isu kelestarian lingkungan ini.



Di Seattle AS tahun 2017, organisasi Lonely Whale bergerak dalam semangat antisedotan plastik. Kampanye bertagar #stopsucking dilancarkan dengan menggaet sejumlah orang terkenal, termasuk astrofisikawan Neil DeGrasse Tyson dan model Brooklyn Decker.

Wali Kota Seattle kemudian mengumumkan pelarangan sedotan plastik sekali pakai, termasuk sendok, garpu, dan pisau berbahan plastik. Larangan ini secara resmi diterapkan pada 1 Juli 2018. Larangan itu diberlakukan untuk restoran-restoran, pelanggarnya akan didenda $250. Ini menjadi larangan pertama di AS.

Dilansir BBC, Parlemen Eropa pada 24 Oktober 2018 telah menyetujui pelarangan plastik sekali pakai di wilayahnya, demi menghentikan pencemaran laut. Uni Eropa berharap aturan ini bisa berlaku di seluruh kawasannya pada 2021. Bila dibiarkan tanpa ada larangan, maka akan lebih banyak plastik ketimbang ikan di lautan pada 2050 nanti. 22 Miliar Euro harus dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan akibat polusi plastik pada 2030 kelak.

Dilansir Vox, Walt Disney mengumumkan pada 26 Juli 2018 bahwa pihaknya akan menghentikan penggunaan sedotan dan pengaduk plastik sekali pakai di semua lokasinya mulai pertengahan 2019. Waralaba kopi, Starbucks, juga sama. Mereka akan menggunakan tutup gelas yang baru sehingga memungkinkan pelanggan untuk minum tanpa sedotan plastik.



Di Indonesia, ada lembaga non-pemerintah bernama Divers Clean Action yang mengkampanyekan gerakan antisedotan plastik atau #NoStrawMovement sejak 2017. Latar belakangnya, Indonesia disebut sebagai pemakai sedotan plastik tertinggi di dunia. Perairan Indonesai menjadi tercemar.

"Tahun 2015-2016 itu sudah banyak yang peduli soal limbah plastik dari kantong kresek atau botol air minum dalam kemasan, ada gerakan ini itu, tapi saya lihat untuk limbah sedotan plastik yang bikin kami para pecinta pantai dan diving sangat risih itu belum ada. Padahal sampah sedotan plastik dimana-mana," tutur founder Divers Clean Action, Swietenia Puspa Lestari, sebagaimana diberitakan ABC Australia dan detikcom, 19 September 2018 lalu. Empat perusahaan waralaba mereka gandeng dalam kampanye ini, juga berbagai industri kecil dan menengah.



Muncul pula usaha produksi pengganti sedotan plastik di Indonesia. Sedotan dari pati jagung diproduksi oleh Avani Eco di Bali, dokter kulit dan kecantikan Amaranila Lalita Drijono membuat sedotan dari kaca, dan Komunitas Griya Luhu di Bali memproduksi sedotan dari bambu.



(dnu/tor)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com