Hercules, dari Penagih Utang hingga Bolak-balik Masuk Tahanan

Arief Ikhsanudin, Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Kamis, 22 Nov 2018 09:34 WIB
Foto: Dhoni Setiawan/ANTARA
Jakarta - Polres Metro Jakarta Barat menangkap Hercules Rozario Marshal dengan tuduhan melakukan perusakan dan aksi pendudukan terhadap lahan ruko milik PT Nila Alam di Kalideres, Jakarta Barat. Aksinya dianggap sebagai premanisme oleh Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi.

"Kasusnya itu terkait dengan penyerangan kompleks ruko di Kalideres, PT Nila, oleh 60 orang preman yang dipimpin langsung oleh Hercules. Jadi dia melakukan penyerangan, kemudian mengambil alih kantor pemasaran, kemudian menguasai lahan secara tidak sah. Kemudian ada juga beberapa ruko pun disewakan. Pemilik ruko juga dimintai uang setiap bulannya oleh kelompok Hercules ini," papar Hengki kepada wartawan Rabu (21/11/2018).

Bukan kali ini saja, Hercules pernah dijerat dengan aksi premanisme pada 8 Maret 2013. Penangkapan saat itu terkait dengan laporan kasus pemerasan di Kembangan, Jakbar.

Kemudian, pada 3 Agustus 2013, Hercules kembali ditangkap setelah keluar dari tahanan. Hercules saat itu ditangkap tim pemburu preman Polres Jakbar dengan surat penangkapan baru.


Namun siapa sangka, preman ini pernah mendapat penghargaan Bintang Seroja atau Satyalancana Seroja. Penghargaan ini diberikan kepada Polri, TNI, atau warga sipil yang dianggap berjasa dalam Operasi Seroja di Timor Timur. Operasi itu disebut operasi militer terbesar yang pernah dilakukan oleh Indonesia.

detikcom pernah mewawancarai Hercules pada 2012. Dia berbagi cerita soal kehidupan dirinya.

"Saya penerima penghargaan Seroja dari pemerintah," kata Hercules saat berbincang dengan detikcom di jalan Kemanggisan, Jakarta Barat, Minggu (26/2/2012).


Perjuangannya di Timor Timur membuat Hercules dekat dengan beberapa tokoh nasional, termasuk Prabowo Subianto. Prabowo juga yang mengangkat Operasi Seroja dalam karier militernya.

Hercules merasa dekat secara emosional dengan Prabowo karena Operasi Seroja. Namun bukan hanya kepada Prabowo dia merasakan itu.

"Jadi bukan hanya Prabowo. Tidak ada hubungannya dengan yang lain selain emosional," terangnya.

Karena ikut dalam Operasi Seroja, Hercules kehilangan tangannya. Setelah itu, dia memutuskan merantau ke Jakarta pada 1987.

Awalnya, dia tinggal di Hamkam Seroja dan mendapat pelatihan. Lantas, dia memutuskan 'bermain' di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Saat itu saya sudah main ke Tanah Abang. Dan setelah selesai di Hankam, saya ke Tanah Abang lagi. Saya merebut daerah hitam dan di situ pertarungan sengit," kata Hercules.

Bagi Hercules, Tanah Abang menjadi lokasi yang menyeramkan kala itu. "Hampir tiap malam ada orang mati," ucap Hercules.


Dia membangun kekuatan di Tanah Abang dengan kumpulkan teman-temannya dari Timor Timur. Seiring waktu, kekuatan kelompok Hercules disegani se-Jakarta dengan pasukan sekitar 17 ribu orang.

"Sekarang teman-teman saya sudah balik semua ke Timor Timur," kata Hercules.

Hercules pun punya pengertian sendiri soal preman. Baginya, preman berasal dari kata free man atau manusia bebas. Preman yang muncul karena masalah pendidikan dan tidak dimilikinya keterampilan untuk berkembang. Namun, jika preman itu melakukan tindakan kekerasan, kepolisian yang bertanggung jawab menindaknya.

Biasanya, preman ini berakhir bekerja sebagai debt collector. Hercules pun juga mengaku pernah bekerja sebagai debt collector. "Ya, kalau tidak dibayar, ya saya tagih," katanya.


Simak Juga 'Polisi Tetapkan Hercules Jadi Tersangka':

[Gambas:Video 20detik]


Hercules, dari Penagih Utang hingga Bolak-balik Masuk Tahanan
(aik/aik)