DetikNews
Sabtu 17 November 2018, 10:32 WIB

PAN: Bukan 'One Man Show', Tim Prabowo Kerja Bersama-Kerja Keras

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
PAN: Bukan One Man Show, Tim Prabowo Kerja Bersama-Kerja Keras Eddy Soeparno (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Sekjen PAN Eddy Soeparno tak setuju dengan pendapat pengamat politik yang menyatakan bahwa Partai Gerindra tengah 'one man show' dalam kontestasi Pilpres 2019. Eddy menegaskan, pihak luar memang hanya bisa menilai apa yang terlihat di luar saja.

"Ketika sejumlah pihak dengan latar belakang yang beragam bergabung dan melebur ke dalam suatu organisasi untuk bekerja sama, tentu dibutuhkan tempo untuk penyesuaian irama dan cara bekerja sama yang seiring-sejalan," kata Eddy saat dikonfirmasi, Jumat (16/11/2018) malam.

"Dalam proses sinkronisasi ritme kerja tersebut akan terlihat oleh pihak luar bahwa terjadi riak dan ketidakcocokan, padahal kenyataannya tidak demikian," sambungnya.


Eddy menyebut, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bekerja bersama dan bekerja keras di hampir semua lini pemenangan pilpres. Jika ada dinamika, dia mengatakan hampir setiap organisasi berdinamika.

"Kita tidak memungkiri adanya dinamika kecil di dalam organisasi pemenangan, tetapi organisasi mana yang tidak ada dinamikanya? Bahkan di dalam sebuah keluarga yang hidup rukun saja terjadi dinamika," jelasnya.

Eddy menegaskan tak ada dominasi satu partai dalam proses pemenangan Prabowo-Sandiaga. Dia menyebut koalisi Prabowo-Sandiaga bekerja keras dan bekerja bersama-sama.

"Jadi saya hendak menegaskan bahwa BPN Prabowo Sandi 'bekerja sama dan bekerja keras' di dalam kontestasi pilpres. Masing-masing parpol koalisi memiliki fungsi dan peran yang strategis dan BPN tidak didominasi oleh salah satu parpol koalisi. Jika ada yang mengatakan demikian, saya bisa koreksi bahwa analisis tersebut tidak akurat," sebutnya.


Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo mengutarakan pendapat senada dengan Eddy soal anggapan adanya 'one man show' Gerindra dalam kontestasi Pilpres 2019. Dradjad menyebut pihak luar tentunya tak paham kondisi internal koalisi Prabowo-Sandiaga.

"Tidak adalah yang namanya 'one man show' di koalisi parpol pengusung Prabowo-Sandi. Itu hanya prasangka pengamat. Mereka kan tidak tahu bagaimana kondisi di dalam," tegas Dradjad saat dimintai tanggapan.

Meski demikian, Dradjad punya saran untuk capres sekaligus Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto terkait Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY diketahui baru saja 'menegur' Sekjen Gerindra Ahmad Muzani yang mengungkit soal janji Demokrat mengampanyekan Prabowo-Sandiaga.

"Tapi memang sebaiknya Mas Bowo lebih sering lagi komunikasi dengan Pak SBY. Sekarang komunikasi sudah bagus, tapi bisa ditingkatkan lagi," saran Dradjad.

"Gerindra juga perlu lebih intensif berkomunikasi dengan parpol koalisi, termasuk tentu saja Demokrat. Tujuannya agar sinergi dalam pilpres dan pileg menjadi maksimal," ucap dia menambahkan.

Riak-riak kegaduhan dalam kubu Prabowo Subianto mulai tampak saat Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjawab janji kampanye yang disinggung Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Kegaduhan ini dinilai karena posisi Gerindra yang terkesan 'one man show' di koalisi.

"Ini efek 'one man show'-nya Gerindra, ketika posisi-posisi strategis alat pemenangan pemilu disapu bersih, saat itu juga Gerindra tidak memiliki bargain position untuk memaksa teman-teman koalisi," sebut Adi, Jumat (16/11).
(gbr/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed