DetikNews
Jumat 16 November 2018, 13:02 WIB

Societeit de Harmonie, Saksi Seni Eropa di Tanah Sulawesi

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Societeit de Harmonie, Saksi Seni Eropa di Tanah Sulawesi Foto: Gedung Kesenian Makassar (topik/detikcom)
Makassar - Societeit de Harmonie atau Gedung Kesenian Sulawesi Selatan adalah salah satu gedung bersejarah di Makassar. Bangunan ini merupakan saksi pertunjukan seni-seni Eropa di tanah Sulawesi.

Gedung dengan arsitektur Eropa klasik ini berbetul huruf L dengan pintu utama di Jalan Riburane dan sisi timur di jalan Bonerate. Di sisi kiri gedung ini, menjulang menara tinggi dengan atas berbentuk limas yang mirip dengan bangunan-bangunan lokal tempo dulu di Makassar. Lokasi gedung ini juga sangat strategis yang berdekatan dengan benteng Rotterdam.

"Mengacu pada foto lama koleksi Museum Tropen, Gedung Societeit de Harmonie telah ada sejak tahun 1860" kata Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Sulampapua, Yadi Mulyadi saat berbincang dengan detikcom, Jumat (16/11/2018).


Dulunya, depan gedung Societeit de Harmonie, dulunya terdapat taman yang bernama Juliana Park yang dilengkapi gardu musik yang difungsikan sebagai tempat pesta, Jejak taman di Juliana Park itu kini tidak terlihat lagi setelah adanya perluasan bangunan sekitar 1930.

Perubahan ini sebut Yadi karena adanya faktor kebutuhan masyarakat pada masa itu akan tempat kesenian dan hiburan.

"Kini, di atas taman tersebut berdiri gedung Kantor Radio Republik Indonesia," ujarnya.


Untuk menara, sengaja dibangun tinggi untuk menambahkan kesan kemegahan bangunan sekaligus berfungsi sebagai landmark atau tanda, sehingga mudah terlihat dari dalam kota maupun dari arah laut. Menara ini berbentuk bujur sangkar dan memiliki atap yang berbentuk kubah.

Pada era awal tahun 1900-an, gedung ini tidak hanya diperuntukkan sebagai acara kesenian tetapi juga tempat pertemuan petinggi-petinggi daerah era konial seperti pejabat militer, bangsawan-bangsawan daerah.

"Tahun 1953 hingga tahun 1955 digunakan untuk perkumpulan para keturunan Belanda, China dan golongan pribumi tertentu," ungkapnya.

Lambat laun, seiring pergolakan kemerdekaaan di Indonesia dan Sulawesi, maka mulailah muncul seniman-seniman lokal yang mulai berpentas di gedung ini.
(fiq/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed