Riswandha: Tim Ekonomi SBY Harus Di-reshuffle

Riswandha: Tim Ekonomi SBY Harus Di-reshuffle

- detikNews
Sabtu, 27 Agu 2005 17:33 WIB
Yogyakarta - Tuntutan me-reshuffle kabinet ekonomi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semakin menguat. Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Riswandha Imawan mengatakan tim ekonomi pemerintahan SBY harus secepatnya diganti. Bila tidak, pemerintahan ini akan semakin terpuruk dan tidak berdaya, terutama dibidang ekonomi."Bila SBY tidak me-reshuffle kabinet dan masih terbuai dengan situasi yang berkembang, serta masih percaya dengan orang-orang IMF, tak lama lagi akan tak berdaya," kata Riswandha kepada wartawan di sela-sela acara 'Sarasehan 60 Tahun Indonesia Merdeka' di gedung Magister Administrasi Publik (MAP) UGM, Jl Prof Dr Sardjito Sekip, Yogyakarta, Sabtu (27/8/2005).Apabila SBY tidak me-reshuffle kabinet, paling lama tahun depan pemerintahan ini akan seperti kapal Phinisi yang tak dapat angin. Artinya pemerintahan ini mengambang, namun pemerintahan ini tidak bisa diturunkan karena dipilih secara langsung. Tetapi jalannya pemerintahan ini tidak akan efektif lagi untuk melakukan sesuatu kepada masyarakat dan justru membebani masyarakat. "Itu situasi yang akan kita hadapi bila tidak melakukan apa-apa," katanya.Ketika ditanyakan apakah ada jaminan jika dilakukan reshuffle akan lebih baik, dia mengatakan, selama SBY mempunyai konsep yang jelas dalam menghadapi kekuatan-kekuatan kapitalis internasional dan yakin akan legalitas politik yang dimiliki, maka SBY akan mampu mengatasi."Namun yang terlihat selama ini, presiden ragu-ragu dengan legalitas politik yang dimiliki. Bila dia dipilih secara langsung, maka dia harus berani memilih orang yang paling dia percaya dan diyakini bisa mengatasi masalah ini," kata Riswandha. Menurut dia, kalau si A misalnya lebih mampu dari si B, kenapa tidak dipilih si A saja, walau si B itudidukung oleh kekuatan politik lain. Dalam kacamata Riswandha, SBY terlalu baik untuk ada di politik.Artinya terlalu honest atau jujur. Padahal di politik tidak bisa seperti itu, seharusnya agak culas dan keras dalam menghadapi situasi."SBY harus berani mengatakan karena saya adalah presiden dan saya dipilih secara langsung dan sayatunjuk dia karena saya yakin dia mampu. Tidak perlu deal-deal politik," tegas guru besar ilmu politik UGM ini.Riswandha menegaskan, kesalahan menteri ekonomi kabinet SBY adalah mereka tidak mampu menangkap seluruh logika dari perang modern di bidang ekonomi, sehingga mereka menerima seluruh nasihat IMF. Padahal nasihat-nasihat IMF itu tidak semuanya baik, tapi malahan menjerat dan menjadi racun."Jadi yang diperlukan adalah para ekonom yang punya jiwa nasionalisme atau para ekonom yang paling minimal punya utang budi kepada kelompok-kelompok kapitalis internasional," katanya.Menurut dia, kalau sekarang ini muncul tuntutan untuk me-reshuffle kabinet, terutama tim ekonomi seperti Abu Rizal Bakrie adalah hal yang riil. Tuntutan seperti itu penting sekali untuk diperhatikan karena merupakan kunci semua masalah."Bila SBY tidak melakukan reshuffle kabinet dengan segera, pemerintahan ini akan semakin terpuruk dan tidak berdaya. Dosa terbesar tim ekonomi SBY itu adalah tidak mampu membaca situasi," tandas Riswandha. (jon/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads