Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengatakan bahwa perang melawan Iran akan segera berakhir. Dikatakan oleh Trump bahwa perang yang berkecamuk sejak 28 Februari itu tidak lama lagi akan berakhir, meskipun diperkirakan bukan pekan ini.
Ini merupakan kesekian kalinya Trump memberikan perkiraan waktu yang samar untuk berakhirnya perang melawan Iran. Presiden AS ini sudah beberapa kali melontarkan pernyataan berbeda-beda mengenai potensi berakhirnya perang yang dikobarkan AS dan Israel terhadap Iran.
Jawaban samar kembali disampaikan Trump ketika ditanya oleh wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, seperti dilansir Anadolu Agency dan CNN, Selasa (17/3/2026), mengenai apakah AS dapat menyelesaikan perang melawan Iran pekan ini juga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya rasa tidak (akan berakhir pekan ini). Tetapi akan segera. Tidak akan lama," jawab Trump, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Kita akan memiliki dunia yang lebih aman ketika perang ini berakhir. Perang ini akan segera berakhir," kata Trump dalam pernyataan terbarunya pada Senin (16/3) waktu setempat.
Merujuk pada perang melawan Iran, Trump mengatakan bahwa dirinya merasa memiliki "kewajiban" untuk bertindak, meskipun secara pribadi dia merasa enggan.
Dia mengklaim bahwa tanpa serangan AS terlebih dahulu terhadap Iran, perang nuklir akan meletus dan meluas menjadi Perang Dunia III. Dia menggambarkan operasi militer AS terhadap Iran sebagai suatu keharusan daripada perang pilihan.
Pernyataan terbaru Trump itu dinilai mencerminkan pergeseran sikap pemerintahan AS, dan seringkali pesan kontradiktif mengenai durasi perang.
Trump awalnya mengklaim bahwa operasi militer AS terhadap Iran akan berlangsung selama 4-5 pekan. Dia kemudian berulang kali mengatakan bahwa operasi militer tersebut berjalan "lebih cepat dari jadwal".
Pernyataan-pernyataan kontradiktif juga disampaikan oleh menteri-menteri dalam kabinet Trump. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada Minggu (15/3) bahwa perang "pasti" akan berakhir dalam beberapa pekan. Sedangkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth justru mengatakan bahwa itu "baru permulaan".
Laporan media AS, Axios, menyebut para pejabat di Washington sedang mempersiapkan keterlibatan AS yang akan berlanjut hingga September mendatang. Informasi ini belum ditanggapi langsung oleh pemerintahan Trump.
Eskalasi regional di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari. Sejauh ini, menurut data otoritas Teheran, sedikitnya 1.300 orang tewas dan lebih dari 10.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan tersebut.
Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan pembalasan Teheran itu memicu kerusakan dan korban jiwa di sejumlah negara Teluk, yang semakin memperluas konflik. Total sedikitnya 14 personel militer AS tewas sejak awal perang berkecamuk.
Lihat juga Video 'Trump Minta Bantuan NATO untuk Membuka Selat Hormuz':











































