DetikNews
Rabu 14 November 2018, 16:01 WIB

Bantah Titiek soal Jokowi Bohong, PKB: Baca Data yang Benar!

Elza Astari Retaduari - detikNews
Bantah Titiek soal Jokowi Bohong, PKB: Baca Data yang Benar! Abdul Kadir Karding (dok.pribadi)
Jakarta - PKB tidak terima Presiden Joko Widodo dituduh bohong oleh Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) terkait swasembada pangan. Ini terkait janji Jokowi-Jusuf Kalla soal swasembada padi, jagung, dan kedelai.

"Apanya yang bohong? Makanya baca data yang bener!" ungkap Ketua DPP PKB Abdul Kadir Karding kepada wartawan, Rabu (14/11/2018).

Di hadapan peserta temu relawan lintas ormas pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Kota Cilegon, Banten, Titiek menyoroti soal masih adanya impor padi, jagung, dan kedelai. Padahal Jokowi sudah berjanji, dalam 3 tahun masa pemerintahannya, ia menjamin swasembada ketiga jenis pangan tersebut.

Karding menilai apa yang disampaikan Titiek tidak sesuai. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui setidaknya produksi padi dan jagung di Indonesia mengalami kelebihan (surplus).


"Lagi-lagi tim Pak Prabowo itu mengungkap data yang keliru. Nggak tahu pakai data dari mana. Sebenarnya produksi beras kita di 2018 itu diperkirakan surplus sekitar 13,8 juta ton. Karena kebetulan konsumsi kita 33 sekian, sementara beras yang dihasilkan ada 57 sekian, itu dari sisi beras. Tahun ini mencapai puncak produksi jagung sekitar 29 ton," papar Karding.

Ia menyebut produksi beras terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Untuk produksi dan jagung, kata Karding, trennya naik setiap tahun.

"Jadi saya kira Mbak Titiek perlu melihat lebih jeli data. Data yang kita sepakati tentu data sesuai BPS. Dan sebagai tokoh publik, saya kira beliau harus hati-hati bicara karena bisa berdampak luas bagi masyarakat. Parameter dari BPS karena metodologi begitu kuat dan sangat objektif," jelasnya.

Dengan adanya surplus produksi, itu berarti swasembada pangan sudah dapat terpenuhi. Impor diperlukan sebagai cadangan.

"Impor diperlukan untuk cadangan. Yang penting potensi-potensi strategi kita dari sisi produksi kita surplus. Syukur-syukur tidak perlu cadangan lagi, tapi semua bisa dari dalam negeri," ucap Karding.

Meski begitu, ia mengakui produksi kedelai memang belum surplus. Hanya, sebut Karding, semua pihak seharusnya optimistis produksi pertanian di Indonesia bisa lebih baik lagi.

"Dalam konteks bernegara harus lihat kebutuhan masyarakat, daya ketersediaan tidak semua komoditi kita bisa sendiri. Kayak kedelai, bawang putih, itu tidak gampang tumbuh di Indonesia. Makanya ke depan kita pacu daya produksi," sebut Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin itu.

Soal impor jagung, Karding menyebut itu kebanyakan dilakukan untuk luar Pulau Jawa. Itu pun permasalahannya bukan soal produksi, melainkan distribusi.


"Jagung sebagian di luar Jawa tetap impor karena distribusi kalau dibawa dari Jawa kan mahal. Biar lebih murah misal ambil dari Malaysia. Logikanya gitu," tutur Karding.

Ia lalu membanggakan kebijakan pemerintahan Jokowi yang mampu meningkatkan produksi pertanian. Karding kembali meminta Titiek dan kubu Prabowo lainnya tidak salah menginterpretasikan data.

"Kenapa surplus? Ada upaya-upaya dari pemerintah, misal di beras, ada bantuan bibit, pendampingan, perawatan, dan sebagainya. Jadi data Mbak Titiek keliru, parameternya harusnya BPS," kata anggota DPR itu.


Saksikan juga video 'Senyum-senyum Prabowo Saat Sebut Nama Titiek Soeharto':

[Gambas:Video 20detik]


(elz/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed